Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 56


__ADS_3

Namanya teman, kalau sudah berkumpul pasti ada saja yang dibicarakan. Termasuk saat ini, sambil makan sambil menggosip pula, menggosipkan teman-teman SMA kami yang rata-rata sudah lama tidak bertemu langsung. Apalagi Nana memang ratunya gosip. Mau gosip tentang siapa juga pasti dia tahu.


"Eh, jadi shopping nggak sih?" tanya Dara saat makanan di meja kami telah habis.


"Ya jadilah, ayok!" ajakku yang kemudian meraih tas pundakku.


Keduanya mengangguk, lalu setelah membayar makanan, kami akhirnya menyusuri pusat perbelanjaan ini. Dari satu toko ke toko lain, kami hanya mencari sesuatu yang membuat kami senang, meskipun satu jam berkeliling belum jelas apa yang kami inginkan.


"Eh Kim, sana yuk!" Dara menunjuk toko yang menjual pakaian dan perlengkapan bayi.


"Dar, si Kikim masih belum butuh begituan, masih lama," balas Nana.


"Ya kan kita lihat-lihat dulu aja. Jadi, nanti si Kikim bisa kira-kira mau beli apaan aja pas udah dekat lahiran." Dara merangkul tanganku dan menarikku menuju toko tersebut.


Aku menarik tangan Nana, sehingga terjadilah tarik menarik di antara kami sambil berjalan ke arah toko pakaian bayi.


"Stop! Stop! Stop! Gue lagi hamil."


Kami berhenti, melepaskan gandengan tangan yang membuat kami saling tarik-menarik.


"Sory sory sory. Baby, maafin onty ya," kata Dara mengusap perutku pelan.


"Bisa mampus kita kalau Oma atau Kak Arsen lihat kita kayak tadi." Nana memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Sorry, gue lupa," kata Dara.


"Udah sekarang kita masuk, jangan ribut lagi!" kataku lalu berjalan terlebih dahulu.


Toko perlengkapan ini sangat komplit. Aneka pernak-pernik perlengkapan bayi ada di sini. Mulai dari kaus kaki, kaus tangan, topi, baju, perlengkapan mandi, perlengkapan tidur, semuanya ada.


"Eh, baju-baju anak cewek lucu-lucu banget ya," kata Nana sambil menunjukkan sebuah dress bayi berwarna merah muda.


"Iya cocok nih, kasih sepatu ini." Dara mengambil sepasang sepatu high heels khusus bayi, dengan warna senada.


"Please deh guys, anak gue baru sembilan mingguan, belum pasti cowok atau ceweknya."


"Masih lama banget ya, berarti Onty nggak jadi bayarin ya," kata Nana yang kemudian mengembalikan dress tersebut.


Kami kembali berkeliling melanjutkan cuci mata ala kami. Bagi kami, pergi ke mal tidak harus berbelanja menenteng banyak paper bag di tangan, pergi ke mal itu cukup membeli apa yang benar-benar kami butuhkan saat ini, selebihnya hanya melihat-lihat saja.


"Kim, itu kayak Oma deh." Dara menunjuk dua pasang lansia yang tengah minum kopi bersama, saling tertawa dan terlihat sangat bahagia.


"Iya, itu Oma gue, sama siapa tu?" gumamku sambil berusaha mengenali tiga orang kakek-nenek yang bersama Oma.


"Apa perlu kita samperin?" tanya Dara.


"Eh, nanti kita malah gangguin mereka. Oma kayaknya masih malu-malu tuh sama temen cowoknya," kata Nana.

__ADS_1


Oma memang terlihat bahagia sekali.


Setelah kepergian Opa belasan tahun lalu, baru kali ini aku melihat Oma tertawa sebahagia itu dengan teman laki-lakinya.


"Udah biarin aja, biarkan Oma gue bahagia." Aku menarik tangan kedua sahabatku itu untuk menjauh, meninggalkan Oma yang sedang berbahagia bersama teman-temannya.


Kami melanjutkan lagi acara jalan-jalan kami, masuk dari satu toko ke toko yang lain.


"Kalian nggak punya uang apa gimana sih?"


Aku, Dara dan Nana yang sedang bergandengan tangan sambil berjalan pelan, akhirnya menoleh ke belakang, pada sumber suara yang seolah mengejek kami.


"Loh, kamu ngapain di sini emangnya nggak kerja?"


♥️♥️♥️


Hayo, coba tebak! Siapa nih kira-kira yang berani ngatain Kikim and the gengs 🤣🤣🤣


Oh ya, selamat siang, masih semangat di hari senin?


Jangan lupa ritualnya ya.


Like, komen, hadiah, dan vote 🥰🥰

__ADS_1


Sampai ketemu lagi 😘😘


__ADS_2