Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
Bertemu Ibu Kandung


__ADS_3

❤❤❤


Kirana meronta. Gadis blesteran Jawa-Arab itu berdebat sengit dengan Son. Sementara laki-laki berwajah dingin itu sikapnya sungguh menyebalkan.


“Ikuti aku!” bentaknya.


“Tidak mau! Apa alasanku ikut denganmu?"


"Ini perintah!” hardik Son.


Kirana geram. Rasanya pengen nangis. Tapi ia tak sudi menampakkan kelemahan di depan laki-laki yang selalu menunjukkan sikap cool ini.


“Kemana?” tanyanya setelah cukup mampu menguasai diri.


“Bisakah tidak banyak tanya, Nona!"


“Hei. Bukankah aku berhak tahu. Aku istri Ammar. Kau…! Jangan kurang ajar padaku!” ucap Kirana sambil mengarahkan telunjuknya ke wajah Son. Entah keberanian darimana yang membuat dia melakukan itu.


Son menatap tajam. Jarak mereka tidak sampai satu meter. Kirana mundur beberapa langkah. Ada sedikit ketakutan menyergap. Dalam kondisi demikian, ia hanya mampu berdoa. Semoga laki-laki aneh di hadapannya tidak kalap. Beberapa detik kemudian, ada lengkung di sudut bibir laki-laki itu. Ia tersenyum sinis. Kirana sangat muak melihat tampang Son.


Tiba-tiba ia berpikir, bagaimana Ammar mempercayai orang macam ini. Manusia penuh misteri.


Son melunak. ”Kita akan pergi meninggalkan kota ini. Aku…kau tahu kan, Ammar sangat mempercayaiku. Jadi tidak mungkin aku menyakitimu.”


“Sekali lagi aku tanya. Apa Ammar yang menyuruhmu?”


Kirana melirik sekilas laki-laki tegap itu. Tak ada jawaban. Lagian tak ada gunanya berkonfrontasi melawannya. Ia tipe superior. Mungkin lebih baik berpura-pura damai. Toh, dalam kondisi mendesak dirinya bisa kabur.


“Izinkan aku menelpon Ammar barang sebentar. Hapeku ketinggalan di hotel.”


Kirana merendahkan suara. Berharap Son terketuk hatinya.


“Boleh, tapi tidak sekarang, Nona!”


“Tapi aku.. tidak sudi ikut denganmu, sebelum menelponnya. Aku janji, setelah itu aku …!”


Son tampak berfikir. Tak disangka Kirana keras kepala. Tapi ia tidak ingin bertindak kasar, karena itu bisa membuat Kirana curiga.


“Nelponnya di mobil saja sambil jalan. Masuklah ke mobil. Kita harus jalan sekarang!”


Son membuka pintu mobil.


“Apa bedanya sekarang dan nanti!”protes kirana.


“Jangan membuat saya kehilangan kesabaran, Nona!”


Son mendorong tubuh Kirana dan menutup pintu mobil dengan keras. Kemudian ia bergegas lari di belakang kemudi. Mobil melaju meninggalkan villa. Pagi itu masih berkabut.


“Pinjam hapenya,” ucap kirana beberapa menit kemudian.


Son mendengus. Tangannya mencari nomor kontak Ammar, kemudian menyerahkan pada gadis yang duduk di belakangnya. Kirana menyahut benda pipih itu dengan cepat. Sejurus kemudian ia menunggu sambungan. Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Berkali-kali Kirana mengulang panggilan. Kecewa. Satu kata itu yang ia rasakan. Jangan-jangan benar dugaannya, Ammar sengaja merencanakan ini.


Son tersenyum penuh kemenangan. Lega rasanya. Semua rencananya berjalan dengan lancar.


❤❤


Sementara itu di hotel, Ammar dan Rasyid masih tertidur lelap. Ia baru mulai tidur sekitar jam setengah dua pagi. Ammar tidak menyadari panggilan dari gawainya.


Sejam kemudian.


Ammar mulai mengerjapkan mata. Ia tersentak karena sinar matahari pagi menerobos di jendela kamar. Sudah jam tujuh.


‘Astagfirullah.’


Ammar berdesis. Subuhnya sudah terlewat. Walaupun ia bukan orang yang religi, tapi hampir belum pernah ia melewatkan sholat lima waktu. Untuk kali ini Ia begitu sedih dan menyesal. Kemudian bergegas mengambil wudhu dan mulai salat dua rakaat. Setelah itu Ammar berdoa untuk keselamatan istrinya. Dan memohon supaya Allah menjaganya, mengembalikan padanya secepatnya.


Selesei ibadah, Ammar mengecek hapenya. Ada beberapa panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Skip. Membuka whatsapp. Banyak ucapan selamat dari rekan bisnis, teman-teman dan keluarga. Tak satu pun di balas. Jangankan balas, baca pun hanya beberapa. Kemudian ia menutup dan meletakkan handphone di meja. Tak ada semangat untuk memulai hari. Tapi hari ini ia harus extra keras untuk menemukan istrinya.


Menghela napas. Pikirannya melayang. Membayangkan apa yang terjadi pada kirana. Sedang apa ia sekarang. Ada perasaan rindu bercampur khawatir. Belum pernah dalam hidupnya ia merasa begitu cemas. Hatinya tak akan tenang, sebelum kirana ditemukan.


❤❤


“Bisa kita berhenti, Son!”


“Ada apa, Nona Ki?”


“Aku lapar!


Son menutup mulutnya menahan tawa, karena kaget. Sekilas ia melihat gadis itu dari spion. Padahal dari tadi diam tak bersuara.


“Okey, sebentar lagi rest area, Nona!”


Kirana tak menjawab. Ia lebih suka membuang muka kadang kiri kadang ke kanan.


Sepuluh menit kemudian, Mobil Rush warna black itu melaju pelan memasuki rest area.


“Silahkan, Nona!”

__ADS_1


Kirana turun tanpa menoleh Son. Gadis itu masih memasang muka jutek. Beberapa detik ia berdiri mematung. Di depannya ada berderet rupa kuliner. Rumah makan padang, ayam bakar wong solo, AW, KFC, dan lain-lain. Ia ragu, apa uangnya cukup untuk makan di tempat itu. Tapi perutnya sudah kelaparan. Son menyenggol lengannya.


“Ayo! Sampai kapan berdiri di situ.”


Terpaksa ia mengikuti langkah Son. Kirana duduk di depan Son. Sementara matanya menyapu jalanan. Tak sepatah kata pun terucap dari bibir tipisnya. Sesekali Son mengamati pemandangan indah di depannya. Berharap gadis di depannya sedikit mencair. Sayang, Kirana enggan bersikap manis padanya. Sambil menunggu pelayan mengantarkan makanan. Son membuka suara. Mereka sudah melewatkan bermenit-menit dalam keheningan.


“Nona Ki, aku akan mengajakmu ke rumah. Mengenalkan pada keluargaku. Tolong bersikaplah seolah-olah kamu…pacar saya. Mungkin hanya dua hari tak lebih. Setelah itu, kita ke Bali.”


Kirana melotot mendengar permintaan Son.


“Kita? Hei, kamu pikir, kamu siapa seenaknya mengatur hidupku, Son. Sedangkan pertanyaanku tidak pernah kamu jawab. Apa Ammar yang mengatur ini atau hanya akal-akalanmu saja.”


“Jangan-jangan kau menyukai. Ngaku aja!”


“Ha..ha..jangan ge-er kamu, Nona!”


Gadis lembut itu mendadak menjadi sedikit brutal. Sebenarnya kirana ingin sekali kabur. Tapi mengingat ia tidak membawa uang yang cukup, maka keinginan itu ia urungkan. Apalagi ia tidak merasa terintimidasi. Walau tidak cukup menyenangkan berada di dekatnya. Tapi setidaknya ia merasa aman. Son tidak mungkin membiarkan dirinya kelaparan.


“Aku tidak mau berdebat denganmu.”


Entah mengapa hati Son tiba-tiba melunak. Melihat Kirana ada perasaan yang entah apa itu. Tapi ia merasa dekat dan nyaman dengan gadis bermata indah itu. Tiba-tiba ia ingin tahu asal-usul kirana. Sekelumit pertanyaan yang mengganjal saat menyaksikan prosesi akad nikah kemaren.


“Boleh aku tahu…siapa orang tua kandungmu? Maaf kalau ini membuatmu tidak nyaman.”


Son tiba-tiba bertanya hal yang amat privasi. Kirana tersentak.


“Untuk apa? itu bukan urusanmu.” Kirana menjawab dengan sinis.


“Ya sudah kalau kamu tidak mau cerita. Siapa tahu aku bisa membantumu.”


Kirana menatap Son sekilas. Ia mulai menimbang. Son memandang gadis itu kemudian tersenyum.


“Kamu bukan anak Pak Faisol, kan. Bukankah saat akad kamu pakai wali hakim?”


“Bagiku, merekalah orang tuaku.”


“Dan, kamu tidak ingin mencari orang tua kandungmu?”


Kirana bergeming. Untuk beberapa saat lamanya hanya ada keheningan. Larut dengan pikiran masing-masing. Kemudian menggeleng lemah.


Kirana merenungkan usul Son. Tapi..untuk alasan apa harus mencari ibu kandungnya. Tak pernah sekalipun ibunya menengok hingga usianya sekarang. Padahal jika mau, itu mudah. Itu cukup untuk sebuah alasan ketidakpeduliannya.


‘Kenapa laki-laki berhati es ini peduli denganku. Jangan-jangan itu hanya triknya saja.’


“Ayo, kita lanjutkan perjalanan!”


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan mereka lebih banyak diam. Suara merdu Demy lewat lagu kanggo riko mengiringi. Kirana yang duduk di belakang menikmati alunan musik kendang kempul yang terasa begitu renyah di telinga. Walau ia tak tahu apa arti lirik itu. Maklum ini lagu daerah yang memakai bahasa osing. Sementara Son mengikuti lagu itu dengan suara lirih. Kepalanya bergoyang ke kiri dan kanan menyesuaikan hentakan musik. Lagu yang mengingatkan kenangan pada kota kelahirannya.


“Sebentar lagi kita memasuki alas kumitir, Nona Ki! Itu perbatasan antara kota Jember dan Banyuwangi. Kita nanti akan melewati jalan yang penuh tikungan tanjakan dan turunan. Ada jurang yang menganga di tepi jalan. Ohya buka jendelanya. Siapkan uang receh. Kamu nanti lihat ke kiri dan kananmu. Di sana ada orang-orang yang membantu pengguna jalan. Lemparkan uangnya pada mereka, Nona!”


Son tampak antusias bercerita. Ia terlihat begitu gembira. Kirana tak menjawab, tapi ia mendengarkan semua ucapan Son. Ia juga agak heran. Son tiba-tiba menjadi pribadi yang berbeda. Ternyata Son tak sedingin yang ia kira.


Kirana mengeluarkan dompetnya. Seperti saran Son, ia mengambil semua recehnya. Ah! Gadis itu tersenyum sendiri. Ternyata dompetnya dipenuhi receh. Son mengulurkan segepok uang dua ribuan yang masih baru. Kirana menerima uang itu.


Beberapa menit kemudian mobil melewati alas kumitir. Gadis itu takjub. Pemandangan yang amat indah di depan mata. Kirana mengambil satu per satu uang dan melempar pada orang-orang itu. Ada ibu yang menggendong anaknya. Ada kakek, nenek, anak kecil. Mereka berjajar di pinggir jalan. Kirana tampak begitu bahagia. Belum pernah ia mempunyai pengalaman seperti ini. Tidak terasa uang segepok isi seratus lembar itu habis. Son menyerahkan dua gepok lagi.


“Ayo, Nona Ki. Itu depan. Siap-siap lempar duitnya!” Son tertawa riang. Begitu juga dengan Kirana. Gadis itu teriak histeris karena kegirangan.


“Itu-itu..! Jangan ada yang terlewat. Cepat, Nona kasi uangnya! Son menunjuk-nunjuk ibu dengan balitanya. Kirana sibuk mencabut uang dan melempar melalui jendela.


“Samping kirimu, Nona! Lemparkan cepat!"


“Ha..ha…”


Mereka tertawa lepas. Kirana lupa bahwa dirinya menyimpan amarah dalam hati. Begitu juga Son. Seakan dia telah kembali menjadi dirinya sendiri. Bukan lagi Son yang sok cool. Diam-diam Son merasa bahagia karena sudah membuat Kirana tertawa riang. Matanya berbinar. Ia memperhatikan gadis itu melalui spion.


“Nona, kamu lihat itu. sebelah kananmu. Namanya patung gandrung. Itu perbatasan. Setelah ini kita memasuki kota Banyuwangi. Ini kota paling timur di pulau jawa. Aku dilahirkan di kota ini, Nona!”


Kirana membaca tulisan “Selamat datang di kota Banyuwangi” ada yang bergemuruh dalam dada gadis itu. Tiba-tiba ia teringat, bahwa ibu kandungnya dari banyuwangi. Di sebuah desa, namanya Bagorejo. Entah dimana itu.


Sesungguhnya ia ingin mengatakan itu pada Son. Kalau Son asli orang osing, pasti ia tahu. Tapi…, lagi-lagi Kirana berat untuk memulai. Enggan membuka lembaran hidupnya. Apalagi pada laki-laki aneh seperti Son.


“Nona Ki! Apa kamu sudah merasa lapar?” tanya Son memecah kesunyian setelah mobil jauh meninggalkan perkebunan kopi dan kakau. Ia merasa sedih melihat Kirana tiba-tiba diam melamun. Padahal beberapa menit lalu, gadis itu tertawa semringah.


“Tidak. Apa ini masih lama?”


“Sebentar lagi sampai. Kalau kamu lapar, kita mampir dulu. Bagaimana?”


“Kita jalan terus saja.”


“Kamu yakin, Nona. Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu.”


Ck ck. Kirana berdecak. Entah apa yang dipikirkan laki-laki itu.


‘kenapa sok perhatian sekarang.’


“Dua puluh menit lagi kita sampai, Nona. Kamu tahu….! Sudah delapan tahun aku tidak pulang. Tidak pernah menghubungi keluargaku. Aku sudah merindukan mereka.”

__ADS_1


Kirana diam tidak menjawab. Son terus bercerita. Kemudian, matanya melirik gadis itu lagi. Ia mengggelengkan kepala. Kirana tertidur. Rupanya dari tadi ia ngomong sendiri.


Mobil melaju pelan. Dada Son bergetar, ketika ia memasuki desa kelahirannya. Tidak banyak perubahan. Son mengamati kanan kiri sambil mengingat-ingat kenangan masa kecilnya. Sejauh apapun orang merantau, selalu ada kerinduan pulang ke tanah kelahiran.


Mobil memasuki pelataran yang cukup luas tanpa pagar. Rumah bergaya kuno ini menyimpan banyak kenangan. Setelah delapan tahun silam di tinggalkan. Son berdiam sejenak. Dilihatnya Kirana sedang tertidur pulas. Tidak tega ia membangunkan gadis itu. Karena ia baru tidur.


Seorang wanita usia empat puluhan membuka pintu. Wanita yang masih tampak ayu itu melongok keluar. Tidak lama kemudian ibunya menyusul. Mereka saling pandang. Son tersenyum melihat ibu dan kakaknya. Segera Son membuka pintu mobil.


“Ibu! Mbak!”


Son langsung menghambur pada keduanya.


“Ya Allah, Soniii kamu masih ingat rumah,” pekik kakaknya.


Son mencium tangan ibunya dan memeluknya erat. Ibunya terisak.


“Maafkan Soni, Buk! Soni banyak salah.”


Son menangis dan berlutut di depan ibunya.


Ibunya masih terguguk. Ia nyaris tak percaya setelah sekian tahun putranya kembali ke rumah. Semarah-marahnya seorang ibu, selalu ada pintu maaf untuk seorang anak.


Wanita yang usianya hampir enam puluh itu teringat saat ia marah dan mengusir putra. Saat itu Soni datang bersama pacarnya. Minta restu untuk menikah. Ibunya shock, karena pacarnya seorang pria bule. Selama beberapa tahun bekerja di Bali, membuat Soni salah pergaulan. Setelah itu Son pergi dan tidak pernah pulang hingga sekarang.


Kemudian Son beralih memeluk kakaknya. Sosok perempuan tangguh yang menjadi tulang punggung keluarga. Mereka dua bersaudara. Kini kakaknya menjadi seorang janda. Trauma di masa lalu membuatnya enggan untuk menikah lagi. Padahal tak sedikit laki-laki ingin mempersuntingnya menjadi istri.


“Ayo, masuk. Kamu pasti capek. ngobrolnya di dalam saja,” ujar kakaknya.


Son memasuki rumah yang sudah lama ia tinggalkan. Matanya beredar melihat beberapa perubahan. Sementara kakaknya memandangi adik satu-satunya dari atas ke bawah. Penampilanya sangat berbeda. Terlihat lebih tegap dan ganteng.


Ibu dan kedua anak itu saling melepas kerinduan. Mereka bercerita tentang berbagai hal. Kadang kristal bening membasahi pipinya.


Beberapa menit berlalu. Tiba-tiba Son teringat telah meninggalkan Kirana di dalam mobil. Ia bergegas lari keluar. Diikuti tatapan mata ibu dan kakaknya.


“Nona, Ki. Bangunlah! Kita sudah sampai.”


Kirana membuka mata dan melihat sekiling. Son membukakan pintu.


“Ayo! Ini rumahku.”


“Kamu masih ingat pesanku kan, Nona!”


Kirana mendengus. Ia mengikuti tanpa bicara. Son berjalan beriringan dengan gadis itu memasuki rumah. Ibu dan kakaknya agak terkejut melihatnya.


“Ini Kirana. Dia…tadi tertidur di mobil.”


Son menggaruk kepalanya, seraya melirik kirana sekilas. Sementara gadis itu mengangguk hormat. Kirana kesal melihat kelakuan Son. Ia merasa bukan itu yang hendak disampaikan. Tapi ya sudahlah. Kemudian, Son membimbingnya untuk menyalami ibu dan kakak perempuannya.


“Cantik tenan cah ayu,” puji ibunya.


“Namamu sapa, Nduk?”


“Kirana Larasati,” ucap Ki tegas.


Ada keterkejutan seketika di wajah kakaknya. Roman mukanya langsung berubah. Pias. Matanya berembun. Son bisa menangkap perubahan itu. Demikian juga Kirana.


“Kirana ini…”


Belum sempat Son menyeleseikan ucapannya. Kirana langsung memotong.


“Boleh saya numpang ke kamar mandi. Saya belum salat dhuhur.”


“Ayo, Nak tak antar ke belakang,” ujarnya ibunya tergopoh.


Sepeninggal kirana, Son penasaran dengan ekspresi kakaknya. Kakaknya terlihat gemetar. Tentu saja, Son semakin heran dibuatnya.


“Soni, ceritakan kirana itu siapa?”


“Dia itu….”


Son tampak bingung mau menjelaskan. Ia ingin mengatakan kalau kirana itu pacarnya. Calon istri. Tapi, kelu rasanya lidah.


“Maksud mbak, darimana asalnya? Orang tuanya?” tanya wanita itu dengan bibir bergetar.


Karena terus mendesak, akhirnya Son menceritakan tentang kirana. Tentang orang tua angkatnya. Orang tua kandung yang tak diketahui rimbanya. Tentu Son tidak bercerita kalau Kirana baru saja menikah. Seketika kakaknya menangis terguguk. Badannya terguncang hebat.


“Mbak. Kenapa?”


Son keheranan. Ia bingung apa yang terjadi pada kakaknya ini. Sementara kirana yang baru menyeleseikan sholat hanya termenung menyaksikan pemandangan di depannya. Ia tidak berani mendekat. Ibunya Son menggamit lengan gadis itu.


Pandangan Son beralih ke Kirana. Meminta gadis itu duduk di sampingnya. Ia menatap heran. Son berusaha menyentuh jemarinya. Spontan kirana menampik. Melihat kehadiran kirana, tangisan wanita itu mereda. Di tatapnya gadis cantik yang memakai tunik hijau muda di depannya. Kembali ia menangis dan menutup wajah dengan kedua tangan. Son mengusap bahu kakaknya.


“Bolehkah aku lihat punggungmu, Nduk? tanya wanita itu tiba-tiba.


Kirana menatap penuh tanya. Kemudian menggeser duduknya mendekat. Kirana meminta Son tidak melihat. Wanita itu menyibakkan jilbabnya. Seketika tangisnya pecah. Ia memeluk kirana erat.


“Kamu…kamu…Ya Allah,” jeritnya. Tak lama kemudian ia tak sadarkan diri.

__ADS_1


❤❤❤


__ADS_2