Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 105


__ADS_3

Terpisah jarak lebih dari tiga ribu mill jauhnya, rasanya memang sangat sulit untuk dibayangkan. Jika saja ke Jepang jauhnya seperti pergi ke Bogor, mungkin perasaanku tidak akan sekacau ini.


Jepang sangatlah jauh, jika aku merindukannya, aku tidak bisa hanya dengan menyalakan mesin mobil, lalu menghampirinya. Aku harus mengurus visa, tiket pesawat, paspor dan segala macamnya. Menempuh perjalanan sekitar delapan jam di awan baru bisa menggapainya.


Ah, memikirkannya saja membuatku frustasi. Sedari tadi aku hanya duduk diam sambil memeluk jaket yang diberikan Arsen. Aroma tubuhnya benar-benar tertinggal di sini, membuat hatiku kembali teriris. Hingga tanpa terasa buliran bening lolos begitu saja membasahi pipiku.


Arsen, maafkan aku yang dulu begitu menyia-nyiakanmu. Jika saja, kita bersama sedari dulu, mungkin aku tidak akan terlambat menyadari perasaanku. Maafkan aku Arsen.


"Nih!" Selembar tisu sudah ada di depan mataku. "Kamu jelek banget tau nangis gitu. Adiknya kakak masa jelek sih, kayaknya Oma beneran nuker kamu pas di rumah sakit," ucap Kak Darren.


Aku menerima lembaran putih itu lalu menghapus air mataku.


"Yuk, kakak traktir jajan." Kak Darren melepas seatbelt, membuatku sadar bahwa mobil telah terparkir di depan minimarket.


Tanpa menjawab, aku mengikuti Kak Darren keluar dari mobil. Karena sudah malam, minimarket ini sepi, hanya ada seorang pembeli yang sedang membayar di kasir, dan juga seorang bapak-bapak yang sedang mencari susu anak-anak.


"Ni, ambil semua yang kamu mau." Kak darren menyerahkan keranjang belanja, kemudian dia berjalan menuju kulkas yang memajang berbagai jenis minuman dingin.


"Serius aku boleh ambil semua?"


"Hmm. Waktunya dua menit aja!"


Apa? Mana bisa belanja dua menit. Baiklah, kesempatan emas tidak boleh disia-siakan begitu saja.

__ADS_1


Dengan cepat aku memasukkan apapun yang kulihat di depan mata. Beberapa butir kinder joy, makanan ringan, coklat, dan semua yang bisa kujangkau. Tepat setelah dua menit, Kak Darren menghentikan kegiatanku.


"Waktu habis." Kak Darren merebut keranjang belanjaku.


"Ih, padahal aku masih pengen beli susu UHT." Aku memajukan bibirku karena kesal.


"Yaudah tapi satu aja," kata Kak Darren mengalah.


Aku tersenyum menang, lalu mengambil sekotak susu coklat kesukaanku.


"Totalnya 543.200 rupah," kata Kasir setelah menghitung semua belanjaan kami.


"Wah dua menit aja kamu bisa ngabisin setengah juta." Kak Darren mengeluarkan sebuah kartu dari dompet, lalu menyerahkannya pada laki-laki yang menjadi kasir minimarket ini.


"Siapa suruh ngasih waktu dua menit, kalau lima menit kan bisa sejuta," jawabku tanpa rasa bersalah.


"Makanya Arsen sampe pergi ke Jepang juga kan karena nyari duit susah."


"Nggak gitu konsepnya Kim. Oh ya, kita pulang ke rumah Papa. Mama ada di rumah Tante Sabila soalnya."


Aku mengangguk, lalu Kak Darren kembali menjalankan mobil.


***

__ADS_1


Dengan membawa dua kantong plastik besar berisi jajanan yang ditraktir Kak Darren tadi, aku dan kakakku itu memasuki rumah Papa. Lampu ruang tengah masih menyala, sepertinya masih ada yang terjaga.


"Kiminah, Arsen sudah berangkat?" tanya Oma saat aku menjatuhkan tubuhku ke sofa ruang keluarga.


Oma sedang menonton drama Korea saat ini. Nenek Sihir ini sekarang memang menjadi pecinta drama Korea yang sejati.


"Udah Oma, tadi juga udah kasih kabar kalau dia udah di pesawat," jawabku sambil membuka 1 butir kinder joy.


"Oma tau, gara-gara galau, uang setengah juta habis dalam dua menit." Kak Darren menyerahkan struk belanja pada Oma.


"Banyak amat, kamu beli apa aja?"


"Coklat Oma, Oma mau?"


"Nggak usah, udah sana istirahat, Oma juga mau tidur." Oma beranjak lalu meninggalkanku dan Kak Darren.


Setelahnya aku dan Kak Darren juga memilih tidur, naik ke lantai dua, menuju kamar kami masing-masing.


Masuk ke kamar ini, aku kembali teringat Arsen. Ya Tuhan, kenapa seberat ini sih yang namanya rindu? Padahal baru beberapa saat yang lalu aku mendapat pelukan hangat Arsen, tapi sekarang aku sudah merindukannya lagi. Oh Tuhan, semoga dua bulan cepat berlalu.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...Sabar Kim, rindu itu memang berat kok....

__ADS_1


Aku up 1 bab aja dulu, nanti aku up lagi kalau gak ada halangan. OKE.


Jempolnya jangan lupa..


__ADS_2