Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 99


__ADS_3

Saat kami berdua mengumumkan bahwa calon anak kedua kami kembar, semua orang menyambut antusias. Xavier yang masih belum mengerti apa pun, hanya bisa menatap kami bergantian saat Mama dan Papa memelukku.


"Xavier mau punya dua adik, udah mau jadi abang," kata Mama sambil menggelitiki leher Xavier.


"Aku makin nggak sabar pengen bisa cepet jalan normal, biar bisa gendong kamu," kata Arsen yang membuatku malu-malu.


"Hem, kalian tuh ya, mesrah-mesrahan terus nggak ada bosennya," kata Mama.


"Jangan sampai dong Ma, kalau kita bosen nanti bahaya," celetukku lalu mengambil alih Xavier dari pangkuan Mama.


*


*


*


Setelah beberapa kali terapi, akhirnya Arsen sudah bisa berjalan normal. Meskipun masih harus berhati-hati, tapi Arsen sudah tidak lagi memerlukan tongkat apalagi kursi roda. Dia sudah bisa berjalan mandiri.


Xavier sudah mulai merangkak aktif, dia sekarang dijaga Mama karena Mama tidak rela Xavier diasuh orang lain. Akhirnya, sekarang Mama Papa lebih sering menginap di rumahku daripada di rumah mereka sendiri.


"Aku besok mulai kerja ya," ucap Arsen saat menemaniku menonton tv. Ia tidur di atas kedua pahaku yang duduk di sofa.


"Emangnya kamu udah kuat, Dad? Di rumah aja dulu, kafe kan udah ada Nana sama Tante Sabila yang handle," kataku.

__ADS_1


"Aku kan laki-laki, Sayang. Buatku, laki-laki itu harus kerja supaya bisa disebut laki-laki. Berapa pun hasilnya, apa pun pekerjaannya, laki-laki harus tetap kerja selagi bisa." Arsen mengusap-usap perutku, lalu merayap naik mengelus dua bukit kembar sebentar dan kembali mengusap perutku.


"Tapi kamu kan masih sakit, Dad. Kalau kenapa-napa gimana?" tanyaku ragu.


"Ya nanti aku langsung pulang, Sayang. Kamu meragukan kekuatan aku?" Arsen merubah posisinya. Ia duduk dan menatapku sambil senyum-senyum.


"Kamu mau apa?"


"Mau buka puasa, udah lama banget kita nggak main, kamu nggak kangen lolipop?" Arsen berbisik di telingaku yang rasanya geli geli enak. Semenjak kecelakaan, aku memang tidak berani melakukan kewajiban kami sebagai suami istri, karena memang keadaan Arsen tidak memungkinkan.


"Dad, aku mau nonton tv aja," tolakku sambil menggeser duduk sedikit menjauh darinya.


"Ayolah Sayang, mumpung Xavier tidur. Bentar aja deh, yq. Please!" Arsen mengatupkan kedua telapak tangannya.


"Emangnya kamu udah ... ahhhh." Arsen tiba-tiba menggendongku di depan dadanya.


"Kamu kok kuat bisa gendong aku. Aku kan bawa dua bayi."


"Makanya jangan raguin kekuatan aku, nanti aku bawa kamu terbang," bisiknya setelah berhasil membaringkan tubuhku di kasur kami.


Xavier masih tidur dengan tenang, ia memeluk boneka sapinya sambil sesekali melutnya bergerak seakan sedang menghisap sesuatu.


"Pelan-pelan aja ya, Dad," pesanku setelah Arsen melepas kausnya.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Kalau pelan-pelan kan nyampeknya lebih lama," kata Arsen yang kemudian mulai mencium bibirku.


Bibir Arsen rasanya masih lembut dan manis. Sambil berciuman, Arsen mulai membelai pipi kiriku dengan sentuhan lembut. Bibir dan lidah kami saling beradu, kami berdua sama-sama memiliki hasrat yang sama, saling merindukan sentuhan kenikmatan yang entah kapan terakhir kali kami lakukan bersama.


Hingga akhirnya, kami sama-sama telah terbebas dari kain apapun. Perutku yang buncit kembali diciumnya.


"My twins, Dady is coming," kata Arsen yang kemudian merangkak naik dan membalik posisiku. Aku berada di depan menghadap Xavier yang juga membelakangiku, sedangkan Arsen berada di belakangku memeluk dan menciumi tengkuk leherku.


Akhirnya, lolipop besar itu berhasil memasuki diriku. Aku manarik bantal untuk menahan suaraku yang tanpa sadar mengeluarkan suara desa*han setiap kali lolipop itu menghujam diriku.


Aku yang merasa tidak tahan akhirnya kalah dan mengeluarkan apa yang memang seharusnya keluar. Arsen menghentikan sejenak gerakannya, dan menciumi pundakku.


"Enak?" tanya Arsen yang membuat pipiku terasa panas.


"Apa sih Dad." Aku mencubit pelan lengan Arsen yang sedang memelukku.


"Idih malu-malu pipinya merah," godanya. "Lanjut ya, aku belum mau keluar," katanya sambil menggerakkan pinggulnya.


"Iya, iya ih."


Tiba-tiba Xavier menangis dalam tidurnya, membuatku beralih pandangan dan menatap pria kecilku itu.


❤❤❤

__ADS_1


...Dedek Xavier ih, kan Mommy sama Daddy mau jengukin adek kembar. Cup cup bobok lagi ya 🤭🤭🤭...


Aku nggak mau minta hadiah kok, aku mau minta vote aja, boleh nggak 🤭🤭🤭


__ADS_2