Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 77


__ADS_3

Rasa sakit terus menjalar, seakan meremukkan seluruh tulangku. Ingin sekali berteriak, tapi aku tetap menahannya.


Mama, Mama Nisa, Oma bergantian menungguku, mengusap punggung dan sesekali memijat dengan lembut, sedangkan Arsen terus berada di sampingku.


"Dad, sakit banget." Berkali-kali aku mengeluh pada Arsen yang terus menggenggam tanganku.


"Sabar ya, Sayang. Kamu sedang berjuang, kamu wanitaku yang paling hebat."


"Jangan teriak, Kim. Simpan tenagamu baik-baik," kata Oma yang juga sibuk mengipasi punggungku.


Rasa panas yang menjalar membuatku harus menahan sakit setiap serangan menyakitkan itu datang.


Sampai akhirnya, aku dipindahkan ke ruangan khusus bersalin. Hanya Arsen yang diizinkan masuk. Saat ini, aku masih bisa berjalan, walau harus berhenti sesekali. Sampai akhirnya sesuatu yang seperti air keluar membasahi kakiku.


"Dad, ada yang keluar." Sekuat tenaga aku berusaha mengucapkan kata-kata itu. Karena rasa sakit dan panas itu membuatku sangat sulit mengatakan apapun. Yang aku rasakan hanya, sakit, sakit, dan sakit.


"Tenang ya Sayang, udah dekat kok," kata Arsen yang menuntunku menuju ruangan bersalin di lantai yang sama dengan ruang rawat.


Di ruangan yang dingin ini, aku diposisikan untuk berbaring di ranjang yang sandarannya diatur, dengan kedua kaki ditekuk. Dokter Nayla, dibantu dua orang yang entah perawat atau bidan memberikan instruksi bahwa bayi sudah siap dilahirkan.


"Kalau terasa kontraksi, atur napas seperti yang kita pelajari waktu senam hamil ya."

__ADS_1


Aku hanya mengangguk sebagai tanda bahwa aku mengerti. Lalu, aku kembali menarik tangan Arsen yang berdiri di sampingku.


"Maafkan aku, Dad. Aku takut."


"Sayang, tinggal sedikit lagi, bertahanlah! Aku yakin kamu bisa, kamu Mommy yang hebat untuk anak kita," kata Arsen yang menempelkan dahinya di keningku.


"Sakit, sakit sekali."


"Kimmora, aku mencintaimu, sangat mencintaimu."


Kata-kata Arsen sudah tidak kuhiraukan lagi karena rasa sakit itu kembali datang. Rasanya seperti ada dorongan yang sangat kuat dari dalam perutku.


"Dok, dia mendorong!"


Aku meletakkan dagu di atas dada, mengambil napas dalam lalu menahannya sesuai instruksi Dokter Nayla, dan saat Dokter Nayla menyuruhku untuk mendorong, aku pun mendorongnya sekuat tenaga, sambil mencengkram tangan Arsen yang menggenggamku.


Aku pikir, sekali mendorong, bayinya akan keluar, tapi ternyata aku salah. Rasa panas di area bawah justru semakin menyiksa, dan aku harus menunggu kontraksi untuk bisa mengejan.


"Tahan dulu! Jangang mengejan ya!" kata Dokter Nayla.


Arsen kembali menatapku, ia tersenyum dan mencium pipiku. Saat Arsen melakukannya, air mataku kembali meleleh. Kenapa aku cengeng sekali, padahal dulu aku tidak selemah ini.

__ADS_1


"Jangan menangis, Sayang!" Arsen menghapus air mataku dan menggantinya dengan kecupan.


Lagi, rasa sakit itu kembali datang. Dokter Nayla yang paham, kembali menginstruksi untuk mengatur napas.


Lalu, aku pun kembali mendorong sekuat tenaga. Berkali-kali aku melakukannya sesuai instruksi Dokter Nayla, sampai akhirnya dengan sekali dorongan yang kuat aku berhasil melahirkannya.


Suara tangisan bayi yang sangat kencang membuat perasaanku sangat lega. Napasku masih tersengal-sengal setelah mengeluarkan tenaga ekstra.


"Terima kasih Sayang, terima kasih." Arsen memeluk dan menciumi sekujur wajahku. Kurasakan air matanya yang keluar membasahi wajahku, dan kami pun menangis bersama dalam pelukan ini.


"Selamat ya, Bu. Bayinya laki-laki. Bapak permisi dulu ya, dedek pengen peluk mamanya." Dokter Nayla meletakkan bayi yang baru saja aku lahirkan itu di atas dadaku.


"Makasih, Dok," kata Arsen sambil mengusap matanya.


"Aku udah jadi Mommy, dia anakku."


"Anak kita, Sayang." Arsen mengecup keningku sangat lama.


♥️♥️♥️


...Udahlah, aku mules beneran. Selamat ya Kim, udah jadi emak sekarang. Uluh-uluh bayi cabe pasti ganteng dong kayak Daddy nya....

__ADS_1


Karena banyak yang minta lanjut, aku tetep lanjutin ya. Tapi kembang kopinya jangan lupa 😘😘


__ADS_2