Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 48


__ADS_3

Hari sudah sangat gelap, rumah Papa juga sudah mulai sepi. Oma sudah pergi ke kamarnya, Bi Sri dan Mbak Lastri juga sudah beristirahat. Sementara aku, hanya sendirian di ruang keluarga sambil menonton drama korea kesukaanku.


Sejujurnya mataku sudah sangat mengantuk, tapi aku masih setia menunggu Arsen pulang, karena sebentar lagi pasti dia akan sampai di rumah. Cukup lama menunggu, akhirnya mataku tak sanggup juga. Aku mulai memejamkan mata saat tiba-tiba seseorang mengecup keningku, dan itu membuatku kembali terjaga.


Aku melihat Arsen tengah berjongkok menatapku yang tidur di sofa panjang ruang keluarga ini.


"Kamu belum tidur?" Arsen mengusap rambutku.


Aku hanya menggeleng, lalu Arsen tersenyum.


"Kamu udah makan?" Dia ganti mengusap pipiku lalu menciumnya sekilas.


"Udah, kamu udah makan?" tanyaku dengan suara yang parau.


"Udah, yuk ke kamar." Arsen mematikan televisi, lalu mengangkat tubuhku ke dalam gendongannya.


“Arsen, jangan!” protesku yang hanya ditanggapi senyuman oleh suamiku itu.


Melihat senyumnya, aku jadi ikut tersenyum lalu mengalungkan tanganku ke leher Arsen.


“Aku udah lama nggak angkat beban, anggap aja ini olahraga.” Arsen tertawa pelan.


Arsen membawaku menaiki anak tangga satu per satu sampai akhirnya kami tiba di kamar dan Arsen merebahkanku di kasur. Kami hanya saling menatap saat mata kami saling mengunci. Arsen yang berada di atasku terus menatapku sambil tangannya mengusap rambutku dengan sangat lembut.


Arsen melepaskan jaketnya dan melemparkannya ke sofa. Otot-otot di lengan Arsen bisa kulihat dengan jelas karena saat ini Arsen hanya mengenakan kaus putih lengan pendek. Arsen kembali menatapku, hanya menatap tanpa bicara, dan itu sukses membuatku tersipu malu.


“Kenapa hanya melihatku?” tanyaku saat ia tak melakukan apa-apa setelah beberapa lama.


“Karena saat ini aku ingin menikmati wajahmu setelah seharian aku tidak ada kesempatan untuk menikmatinya.” Arsen mengelus pipiku yang kuyakini sudah bersemu kemerahan.


Aku tidak sanggup membalas kata-kata indah yang diucapkannya, karena aku sendiri begitu menikmati tatapan matanya, juga wajah tampannya yang begitu dekat denganku.


Jantungku berdebar tidak karuan saat Arsen mendekatkan wajahnya padaku, aku tahu dia akan menciumku, dan itu membuatku memejamkan mata agar aku bisa menikmatinya.


Napasku dan napasnya bersatu, begitu juga dengan kedua bibir kami yang kembali bertemu.


“Apa yang kamu pelajari bersama Oma hari ini?” tanya Arsen yang tiba-tiba melepaskan bibirnya.


Aku cukup terkejut, karena yang aku pikirkan dia akan mengajakku terbang ke awan dengan ciumannya yang memabukkan, tapi ternyata, dia hanya menempelkan bibirnya saja.


“Mijitin Oma.” Aku memalingkan wajah darinya, rasanya aku begitu kecewa karena gagal mendapatkan ciumannya.


Kenapa tiba-tiba tidak jadi menciumku? Apa iya aku harusnya menciumnya dulu?


“Bisa?” tanyanya yang masih berada diatasku.


Aku masih memalingkan wajah darinya, lebih memilih untuk memperhatikan lampu tidur yang belum kami nyalakan.


“Hmm, boleh aku coba?” Arsen merebahkan tubuhnya di sampingku, membuat pandanganku pada lampu tidur itu terhalang oleh wajahnya yang tampan.

__ADS_1


“Apanya?”


“Hasil belajarmu dengan Oma.” Arsen bangun dari posisinya lalu melepas celana jeansnya.


Setelah itu ia kembali duduk di ranjang dan bersandar pada headboard dengan kaki yang ia selonjorkan.


“Pijat?” tanyaku.


Arsen mengangguk lalu menarik tanganku. Memaksaku untuk bangun dari posisiku.


Arsen saat ini hanya mengenakan celana bokser pendek yang hanya setengah paha, membuatku berdebar-debar saat akan menyentuhnya.


“Ayo! Capek juga loh gendong kamu dari bawah sampai ke kamar.” Arsen menepuk paha kirinya.


“Aku ‘kan nggak minta,” jawabku.


“Tapi kamu suka ‘kan?” Arsen berkedip-kedip.


Memang sih, aku suka saat ia menggendongku tadi, tapi aku merasa sangat malu menyentuhnya.


“Ayo Kim, bentar aja, nanti kalau emang nggak ilang capeknya aku ke tukang pijit deh,” kata Arsen.


Seketika aku kembali teringat dengan yang tadi sore aku bayangkan, kalau aku tidak menghilangkan capeknya, bisa-bisa Yumna yang akan memijatnya.


“Tidak, tidak! Jangan ke tukang pijat, biar aku aja,” sahutku.


Aku memejamkan mata saat aku menyentuh kaki Arsen yang putih itu.


Masih dengan memejamkan mata, aku mulai memijat paha Arsen, perlahan mulai turun sampai ke betisnya, lalu kembali lagi memijat bagian pahanya.


“Kamu suka pergi ke tempat pijat?” tanyaku masih sambil memijatnya. Namun, aku mulai berani membuka mata dan memandangnya.


“Em, jarang sih, mungkin setahun sekali kalau benar-benar capek,” jawabnya.


“Yang mijit perempuan?” tanyaku untuk memastikan, bukan Yumna yang memijatnya, ‘kan?


Arsen tertawa, lalu ia bangun dan mencium pipiku. Sementara aku hanya menatapnya bingung.


“Orangnya udah tua Kim, dan dia bapak-bapak,” jawabnya yang membuatku tersenyum.


Aku kembali melanjutkan pijatanku di kaki Arsen, secara bergantian seperti yang tadi Oma ajarkan.


“Sekarang aku nggak akan pijat ke sana lagi, karena pijatan istriku lebih enak.” Arsen menarikku ke dalam pelukannya.


“Benarkah, pijatanku enak?” Aku balas memeluknya.


“Iya, kamu belajar dengan sungguh-sungguh ya tadi.”


“Siapa bilang, Oma malah ngomel terus, kurang keras, terlalu keras, kurang enak, kurang semua lah, menjengkelkan.”

__ADS_1


“Tapi tadi enak kok, besok aku mau lagi.” Arsen mencium keningku.


Aku merasa senang saat Arsen menyukai pijatanku, artinya apa yang aku bayangkan tadi sore tidak akan menjadi kenyataan, kan?


...❤❤❤M.A.S.🚗🚗🚗...


Lima hari di rumah Papa, rasanya seperti lima tahun di neraka. Oma yang cerewet itu menyuruhku melakukan banyak hal yang katanya harus bisa dilakukan oleh seorang istri. Mulai dari memasak, memijat, menyapu, cuci piring, mengepel lantai, bahkan mencuci baju dengan tangan. Aku merasa Oma benar-benar akan menjadikanku pembantu gratis di rumah Papa.


“Yang bersih Kim,” omel Oma.


Saat ini aku tengah menyapu halaman depan rumah Papa yang cukup luas, dan Nenek Sihir itu mengawasiku dengan duduk di kursi sambil menikmati teh dan camilannya di sore yang cerah ini.


“Oma, aku udah ngerti caranya, sekarang biar dilanjutin Mbak Lastri ya, aku capek banget Oma.” Aku duduk di samping Oma.


Aku sudah menyapu setengah dari total halaman rumah Papa yang luasnya lima kali dari rumah kontrakan.


“Enak aja, kalau kamu nyapu nggak bersih, nanti Arsen bakalan tumbuh brewok, kamu mau?” Oma menatapku sinis.


“Ih, kalau tumbuh brewok ya tinggal dicukur Oma!” sahutku.


“Nggak akan mempan, hari ini dicukur, besok udah numbuh lagi lebih panjang. Semakin dicukur semakin panjang tumbuhnya, dan itu gara-gara kamu yang nggak bersih nyapunya.”


“Emang bisa?”


“Ya bisalah, ‘kan kamu istrinya.”


Teori dari mana sih yang Oma dapat itu. Apa hubungannya sapu sama brewok?


“Nggak masalah Oma, daripada aku capek nyapu, mending aku capek bantuin Arsen cukur brewok.”


“Dasar istri nggak berguna, kalau kamu nggak bisa apa-apa, bisa-bisa suami kamu cari istri yang bisa mengurus semuanya daripada bertahan sama kamu. Kamu mau Arsen cari istri baru?”


“Jahat banget sih Oma ngomongnya.”


“Makanya cepetan nyapunya. Bentar lagi Arsen pulang lihat rumah bersih pasti seneng dia.”


Dengan terpaksa aku menuruti perintah Oma yang selalu mengancamku dengan membawa-bawa nama Arsen dan mantannya.


🌹🌹🌹


Oma, aku daftar kalau Arsen cari istri yang bisa semuanya. Boleh kan Oma 😅😅😅


Kim, izinkan adikmu yang paling sholehah dan paling polos di NT ini untuk menjadi madumu 😅😅😅


Kemarin kayaknya ada yang minta visual babang Arsen ya yang hot. Oh, tidak bisa ya, Othor kan sholehah, nanti dilaporkan ke NT bisa hilang dong.


Kepoin aja IG Othor di @ittaharuka atau FB Othor Itta Haruka


Nanti aku upload visualnya 😅😅😅😅

__ADS_1


Okey, jangan lupa ritual jejaknya. Like, Komen, Hadiah, dan Votenya.


See You again 👋👋👋


__ADS_2