Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 44


__ADS_3

Apa yang sudah aku lupakan? Apa Arsen juga orang yang telah aku lupakan? Aku memang banyak melupakan kenangan di masa kecil, apalagi sosok Mama dalam hidupku. Aku tidak pernah mengingat tentangnya, bahkan fotonya pun tidak ada satupun yang tersisa di rumah ini.


"Arsen, bisa kamu jelasin ke aku?" tanyaku sambil menyentuh otot otot di perut Arsen.


"Nanti saja, kalau sudah waktunya, sekarang kita nikmati saja hidup kita berdua." Arsen mengelus punggungku, hingga aku terlelap dalam pelukannya.


...❤❤❤M.A.S🚗🚗🚗...


Aku terbangun setelah mendengar suara gedoran di pintu. Benar, bukan ketukan, tapi gedoran yang cukup keras. Terbangun di pagi yang masih buta, aku turun dari ranjang dengan mata yang masih lengket, sambil sesekali menguap karena saking ngantuknya.


Jam di dinding masih menunjukkan pukul enam pagi, sedangkan Arsen sudah tidak ada di kamar, entah kemana dia? Aku terus berjalan karena gedoran di kamar semakin kencang, dan saat aku membuka pintu kamarku, Nenek  Sihir itu sudah membawa sapu di tangannya.


“Oma! Oma ngapain sih pagi-pagi gini gedor-gedor pintu? Oma mau bersihkan kamarku?” tanyaku.


“Heh Kimmy!” Oma menarik telingaku dengan keras.


“Ahh sakit Oma, sakit,” teriakku sambil memegang telingaku yang terasa panas akibat ulah si Nenek Sihir.


Oma menarik telingaku sampai di tangga, dan rasanya telingaku sudah hampir putus.


“Oma! Stop it! Sakit banget Oma, aku bisa budek nanti.” Aku mencubit tangan keriput Oma yang menjewer telingaku.


“Dasar cucu durhakim! Jadi istri itu bangun sebelum suami, masak sarapan buat suami, kamu malah molor aja!” omel si Nenek Sihir yang telah membuat telingaku sakit.


Sumpah demi apapun, Nenek Sihir satu ini benar-benar kejam. Bisa-bisanya aku dijewer karena disuruh masak. Padahal di rumah ini ada Bi Sri dan Mbak Lastri yang dibayar buat masakin semua orang.


“Oma! Ini jam berapa? Ngapain juga aku masak, ada Bi Sri yang udah ngurus dapur," ucapku dengan kesal.


“Udah jangan protes, sini Oma ajarin kamu jadi istri yang baik.” Oma menarik tanganku menuruni tangga dan berjalan menuju dapur.


Sampai di dapur, Bi Sri dan Mbak Lastri langsung menunduk, sikap mereka sangat patuh dan juga takut dengan Oma si Nenek Sihir.


“Oma, aku harus ngapain?” tanyaku kesal pada Oma.


“Cuci muka dulu!” perintah Oma yang dengan malas langsung aku turuti.


“Udah nih, mau apa lagi?”


“Kamu bisa masak apa, Kim?” tanya Oma.


“Masak? Nyalain kompor aja nggak bisa, mau masak apaan?” tanyaku kesal.


“Astaga, kok bisa betah Arsen punya istri kayak kamu," jawab Oma yang juga menjengkelkan.


“Oma aja yang terlalu bawel!” balasku.


Oma hanya geleng-geleng kepala.


“Udah, tanya suami kamu sana! Mau dimasakin apa dia?” perintah si Nenek Sihir.


Lagi-lagi aku harus menurut pada perintahnya, karena Oma kalau dibantah tingkat bawelnya bisa bertambah berkali-kali lipat.


“Arsen ada di ruang olahraga sama Bapak dan Tuan Muda, Non,” kata Bi Sri.

__ADS_1


Aku mengangguk sambil mengatakan terima kasih pada Bi Sri, kemudian berlalu meninggalkan dapur juga Oma yang selalu membuat keributan.


Aku berjalan menuju ruang olahraga, sambil berpikir apa yang akan aku masak? Bagaimana caranya masak? Oma benar-benar akan mengacaukan hidupku.


Aku mendorong pintu ruangan khusus yang berisi peralatan olahraga, tempat Papa dan Kak Darren biasa berolahraga di tempat ini. Kulihat hanya ada Papa yang sedang asyik berlari diatas treadmillnya.


“Pa, Arsen mana?” tanyaku


“Oh, lagi basket sama kakakmu tuh.” Papa menunjuk ke lapangan belakang rumah yang bisa dilihat dari kaca besar ruang olahraga ini.


Tanpa menjawab atau membalas kata-kata Papa, aku segera keluar dari ruang olahraga, lalu menghampiri Arsen dan Kak Darren yang sibuk bermain basket.


“Arsen,” panggilku.


Arsen langsung menoleh dan menghampiriku, tak peduli lagi Kak Darren yang ingin mengalahkannya.


“Kamu udah bangun?” tanya Arsen.


“Ya jelas bangun orang digedor-gedor sama sama hansip. Kamu pengen dimasakin apa?” tanyaku tanpa basa-basi.


“Nggak salah kamu masak? Ntar kebakaran loh dapurnya,” sahut Kak Darren yang sepertinya menguping pembicaraanku dan Arsen.


Aku tak peduli dengan ejekan Kak Darren, kalau dapur memang benar-benar bisa kebakaran setelah aku memasak, maka Oma tidak akan menyuruh-nyuruh aku lagi.


“Kamu bisa masak?” tanya Arsen dengan pelan.


Seperti biasa, suamiku itu sangat tenang dalam menghadapi aku.


“Oma yang maksa, buruan kamu mau dimasakin apa?” tanyaku lagi.


“Telur mata sapi aja, biar gampang," jawab Arsen setelah berpikir cukup keras.


Telur mata sapi? Telur apa itu? Bukan telurnya sapi, 'kan? Sapi tidak bisa bertelur.


“Telurnya harus bulet kayak mata sapi?” tanyaku masih belum mengerti.


“Ih bukan, pokoknya, nanti kamu pukul aja telurnya pake sendok terus langsung tuang ke penggorengan, kasih garam dikit, goreng terus matikan. Udah gitu aja." Arsen mengusap rambutku.


“Serius gitu doang?” tanyaku memastikan.


Aku tidak ingin nanti tiba-tiba Oma membuat keributan lagi hanya karena Arsen lupa meminta sesuatu.


“Kalau aku bilang minta rendang nanti malah kamu kerepotan." Arsen tertawa.


Wajahnya yang telah dipenuhi ketingat itu tersorot cahaya matahari dengan sempurna. Tawanya yang menawan menampilkan deretan giginya yang rapi. Ah, kenapa Arsen ganteng sekali pagi ini?


“Ya kamu beli dulu di warung padang, nanti pura-puranya aku yang masak," jawabku yang membuat Arsen semakin tertawa.


“Dasar curang kamu!”


“Yaudah, aku bilang Oma nih, telur mata sapi.”


“Iya. Udah sana masak yang enak ya!”

__ADS_1


Aku pun meninggalkan Arsen, dan berjalan kembali ke dapur. Sampai di dapur, Bi Sri, Mbak Lastri dan terutama si Nenek Sihir itu sudah tidak ada. Kemana mereka? Apa ini kesempatanku untuk kabur ya?


“Mau ke mana kamu?” tanya Oma saa aku mengendap-endap ingin kabur.


Nenek Sihir ini entah muncul dari mana karena tiba-tiba sudah ada di dapur.


“Nggak kemana-mana, cuma bingung aja di mana letak telur?” jawabku samhil pura-pura mencari telur.


“Telur siapa?” tanya Oma.


Aku masih sibuk membuka satu per satu lemari kabinet untuk mencari keberadaan telur itu.


“Telur Arsen Oma, telur siapa lagi?” jawabku sambil sibuk mencari letak telur yang sebentar lagi akan menjadi masakan pertamaku.


“Oh, telur Arsen ya dibawa Arsen lah." Oma malah dengan santai mengawasiku, tidak membantu sama sekali.


“Orang tadi Arsen bilang minta telur mata sapi kok.” Aku menatap Oma dengan curiga, sepertinya Oma membicarakan telur yang lain.


“Oh, telur itu, oma kira telur yang lain?”


Benar dugaanku, si Nenek Sihir ini mulai melenceng.


“Telur apaan Oma?” tanyaku pada Oma yang kini sibuk mengeluarkan telur dari dalam kulkas.


“Kamu belum pernah liat telurnya Arsen?” bisik Oma tepat di telingaku, benar-benar membuat geli Nenek Sihir ini.


“Omaa.” Aku merebut telur dari tangan Oma.


Aku merengut kesal karena bingung mau masak yang bagaimana, ini nyalain kompor caranya bagaimana aku jiga bingung.


“Sini, Oma ajarin kamu masak!" perintah Oma yang mungkin sadar melihatku kebingungan.


Oma memerintahkan semuanya, dan aku mengikuti setiap kata yang diucapkan Nenek Sihir ini.


"Ini udah gini aja Oma?" tanyaku.


"Iya, pokoknya nanti kalau udah mateng kamu matikan kompornya yang tadi oma ajarin. Oma mau cek meja makan dulu," kata Oma lalu berjalan meninggalkan dapur.


Setelah Oma keluar dari dapur, aku jadi sendirian dan mulai bingung, telur kalau matang akan seperti apa? Apa akan seperti ayam?


Lama menunggu dan telur juga tidak ada perubahan, aku terkejut saat tiba-tiba seseorang mematikan kompor.


"Arsen?"


🌹🌹🌹


Nah loh, Oma sih ninggalin pas sayang-sayangnya, eh pas lagi masak maksudnya.. gosong apa kebaran kira-kira.


Okay, sambil nunggu masakan Kimmy yang entah akan dimakan atau nggak sama Arsen, yuk sini kumpulin votenya buat Othor paling solehah dan polos se NT 🤭🤭. Cepet banget ya, udah hari senin aja 🤭🤭


Jangan lupa, ritual jejaknya. like, komen, hadiah, dan Vote nya.


udah dapat vote baru tuh 😅😅

__ADS_1


Nanti kalau khilaf, aku up lagi 🤭🤭🤭 banyakin kembang sama kopinya 😅😅😅


See you again gengs, 👋👋👋


__ADS_2