Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 60


__ADS_3

Hampir satu jam, aku dan Arsen menunggu Papa Mama yang masih betah di kamar. Arsen justru semakin intens menggodaku.


Di usia Mama yang sudah lebih dari lima puluh tahun itu, masa iya Mama masih mau hamil lagi.


"Sayang, Mama kan punya kembaran, jangan-jangan nanti adik kamu kembar," bisik Arsen yang semakin membuatku kesal.


Seketika capitan jari jempol dan telunjukku mendarat di pinggangnya. Arsen mengaduh kesakitan dan akhirnya aku menarik tanganku dari pinggang Arsen.


Tak lama, Papa keluar dari kamar dengan memakai celana pendek dan kaos singlet. Kebetulan posisi dudukku bisa melihat dengan jelas saat Papa keluar dari kamarnya.


"Kimmora, Arsen," ucap Papa saat keluar dari kamarnya.


Papa lalu berjalan mendekatiku dan Arsen yang duduk di ruang keluarga.


"Papa tidur jam segini?" tanyaku.


"Mana Kimmora, Pa." Mama menyusul Papa keluar kamar dengan memakai daster sambil mengikat rambutnya yang tampak berantakan.


"Nggak, papa cuma nyantai aja sama Mama di kamar, kalian dari tadi ya?" tanya Papa.


Dari gelagatnya, mereka memang terlihat seperti baru saja melakukan nganu-nganu, tapi tetap saja, aku berdoa semoga tidak ada bayi lagi yang lahir dari rahim Mama. Malu dong udah segede ini punya adik!


"Udah satu jam lah," jawabku.


Mama duduk di sebelah Papa lalu Arsen mulai bercerita tentang keputusannya untuk membantu bisnis Papa Raffi.


"Kalau itu keputusanmu, papa hanya bisa mendukung apapun itu. Semoga semuanya baik-baik saja," kata Papa.


"Kalau soal kafe, mama sama Tante Sabila yang akan membantu Kimmy, kamu fokus saja sama bisnis papamu dulu." Mama ikut mendukung keputusan Arsen.


"Terima kasih, Ma, Pa."

__ADS_1


*


*


*


Aku dan Arsen kembali ke rumah kami, saat hari sudah gelap. Sepertinya Oma sedang keluar, karena suasana rumah sedang sepi. Aku sudah memanggilnya berkali-kali tapi Oma tidak menyahut juga. Padahal aku membawa martabak manis spesial.


"Oma ke luar ya?" tanya Arsen yang kini ikut duduk di sampingku.


"Nggak tau, nggak bilang aku sih, Dad," jawabku sambil menyuap martabak manis berisi coklat dan kacang ke mulutku.


Rasa manis meses coklat dan gurihnya kacang, berperang di dalam mulutku.


"Enak banget ya?" tanya Arsen yang sepertinya tertarik dengan caraku menikmati makanan kesukaanku ini.


"Emm," jawabku dengan mulut penuh, sambil terus mengunyah. "Mau?" Aku menawarkan sepotong makanan manis itu ke mulutnya.


Aku pikir ia akan segera memakannya, tapi ternyata salah. Arsen mengarahkan lagi ke mulutku.


"Aak!" serunya agar aku membuka mulut.


Saat aku benar-benar membuka mulut, Arsen memasukkan setengah martabak ke mulutku. Lalu, secepat kilat ia menggigit sisi luar yang belum masuk ke mulutku. Hingga bibir kami saling bersentuhan.


"Daddy, mau makan aja ribet banget sih." Aku memukul lengannya yang kemudian menimbulkan tawa di wajah tampannya.


"Lebih enak bekas gigitanmu, Mom." Aku ikut tersenyum karena tingkahnya, hal-hal romantis seperti inilah yang selalu membuatku mencintai Arsen lebih dan lebih lagi.


"Bentar," kata Arsen yang kini memegang wajahku sambil menggeser posisi duduknya.


"Kenapa?" tanyaku kebingungan. Entah apa lagi yang akan dilakukannya saat ini.

__ADS_1


"Belepotan." Arsen mencium bibir bawah dan menjilat sudut bibirku.


Benar-benar tidak kuduga, Arsen semakin agresif menciumku, membuatku ikut larut dalam ciuman lembutnya yang membuatku menggila.


"Makan sendiri, oma nggak dikasih!"


Suara tiba-tiba itu memaksa tautan bibir kami terlepas. Oma sudah duduk tenang di salah satu sofa, dengan menikmati martabak manis di mulutnya.


"Oma, sejak kapan Oma di rumah?"


"Sejak kalian rebutan martabak dengan mulut, dasar payah!"


Aku dan Arsen saling pandang, lalu Arsen tersenyum karena tingkah konyolnya.


"Oma ganggu aja tau nggak," protesku sambil menikmati lagi martabak manis itu.


"Ingat ya, cicit oma harus dijaga baik-baik, masih sangat lemah, masih rentan kalau nggak hati-hati," kata Oma sambil melotot ke arah Arsen.


"Justru karena lemah itu Oma, harus disiram terus supaya kuat!" jawabku sambil mencebik.


Memangnya cuma Oma yang sayang sama anakku, aku kan yang mengandung, jelas aku juga peduli. Dasar Oma cerewet!


♥️♥️♥️


Selamat siang gaes,


Yang baca big boss jangan bingung ya, karena alurnya Arsen emang lebih cepat ya.


Oke, jangan lupa ritualnya.


Sampai ketemu lagi 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2