Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 75


__ADS_3

Di kantor polisi yang sepi ini, aku dan Arsen baru saja selesai di interogasi. Hanya karena sebuah ciuman kami harus menjawab banyak pertanyaan dari mereka. Sialnya, bukti foto di ponsel Arsen yang baru saja menyala, tidak bisa menjadi bukti yang kuat bahwa kami telah menikah.


Karena statusku dan Arsen yang masih menjadi mahasiswa, akhirnya mereka memanggil Papa untuk menjemput kami.


Aku benar-benar kesal, di usiaku yang tidak di bawah umur lagi, aku harus menghadapi kesialan seperti ini. Bukankah ciuman itu tidak merugikan orang lain?


Aku dan Arsen duduk berdampingan, menunggu Papa yang berjanji akan menjemput kami.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Papa datang bersama Pak Aji dan juga pengacara Papa.


Pengacara Papa langsung mengurus semuanya.


“Kalian ini ngapain sih?” tanya Papa yang kini duduk di sampingku, menggantikan Arsen yang memilih berdiri.


“Nggak ngapa-ngapain, kita cuma mampir bentar lihat pemandangan terus ….”


Aku tidak bisa menjelaskan pada Papa bahwa kami berciuman.


“Terus mesum!” sahut Papa.


“Kita nggak mesum, Pa. Cuma ciuman doang, salah?” balasku. “Sebenarnya yang salah itu Papa, aku masih muda kenapa dinikahin, kalau kayak gini kan pasti dikiranya mesum.” Aku menggerutu pada papaku sendiri.


“Terus sekarang kamu nyesel papa nikahin kamu sama Arsen? Kamu yang ciuman kok papa yang disalahkan," sinisnya. Papa benar-benar tidak bisa disalahkan dan dikalahkan, selalu saja membalikkab omonganku.


“Pak Erick, semua sudah beres," ucap pengacara Papa.


“Kami minta maaf atas kesalahpahaman ini, Tuan Erick Ardiansyah," kata salah seorang polisi yang mungkin pangkatnya paling tinggi di sini, entahlah aku juga tidak mengerti.


“Saya nggak mau masalah dua bocah kasmaran ini sampai tercium publik.” Papa dengan wajahnya yang cool memberi peringatan pada semua polisi di sini.


“Udah tau bocah masih aja dinikahin,” gumamku.


Kami semua akhirnya keluar dari kantor polisi ini dengan selamat. Papa sudah mengomeli kami, memberi peringatan supaya kejadian ini tidak terulang lagi. Arsen hanya diam mendengarkan, tapi aku sama sekali tidak menerima segala ocehan Papa. Putra dari Nenek Sihir itu sama saja dengan ibunya kalau sedang berceramah.

__ADS_1


“Papa duluan aja.” Aku membuka pintu belakang mobil Papa, supaya Papa segera masuk dan berhenti mengomel.


“Kalian langsung pulang, ya! Arsen jangan mau kalau diajak aneh-aneh sama anak nakal ini," pesan Papa sebelum akhirnya masuk ke mobil.


“Dah Pa, kita ikutin dari belakang, ya.” Aku segera menutup pintu mobil, setelah Papa masuk dan duduk di dalamnya.


“Hah, Papa bener-bener bawel kayak Oma. Orang dia yang salah kok, aku baru lulus sekolah udah dinikahin, kan Papa yang salah,” gerutuku saat mobil Papa mulai meninggalkan kami.


Arsen menarik tanganku untuk berjalan menuju parkiran motor.


“Jadi, kamu nyesel nikah sama aku?” tanya Arsen yang kini memandangku dengan lekat.


Aku tak bisa menolak pesonanya, secara reflek aku mengalungkan tanganku di leher Arsen.


“Nggak, aku nggak pernah nyesel nikah sama kamu. Apalagi setelah ….”


Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku, malu rasanya mengatakan hal-hal mesum pada Arsen.


Mata kami masih saling terkunci, mungkin Papa benar bahwa kami ini dua bocah yang sedang kasmaran.


“Mau mesum di sini? Mau dilanjutkan kasusnya?” tanya seseorang yang kemudian membuat kami salah tingkah.


Aku menjauhkan tubuhku dari Arsen, sedangkan Arsen langsung memakaikan jaket dan helm di tubuhku.


“Nggak, Pak. Di sini juga nggak enak, nanti Bapak pengen,” jawabku.


Arsen memandangku tanpa kedip, tangannya yang masih berusaha mengancingkan helm di kepalaku seketika berhenti, ia mematung.


“Udah yuk pulang! Kita lanjut di rumah.” aku berkedip-kedip menggoda Arsen.


“Dasar anak ABG!” Polisi itu kemudian kembali masuk ke dalam.


Aku tersenyum geli melihat ekspresi Arsen yang hanya bengong.

__ADS_1


♥️♥️♥️


Satu bulan usai bertemu Tante Sabila, tidak banyak yang berubah dari hidupku. Aku dan Arsen juga menjalani kehidupan rumah tangga kami seperti biasa.


Hari ini, aku dan Nana sedang berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan. Cukup lama aku tidak shopping setelah menikah dengan Arsen. Sebenarnya bukan karena Arsen tidak memberiku uang, tapi aku berusaha menghargai pemberian Arsen dengan membelanjakannya dengan sebaik-baiknya.


Setelah mendapat gaji pertamanya, Arsen menyuruhku untuk membeli baju yang bagus, karena rencananya kami akan makan malam romantis malam ini.


“Kim, aku ke sana bentar ya,” kata Nana yang kubalas dengan anggukan.


Aku melanjutkan kegiatanku memilih gaun, sampai akhirnya aku terpukau dengan gaun merah muda tanpa lengan dengan renda di bagian paha. Aku segera mengambilnya, tetapi seseorang juga memegang gaun itu.


Aku menoleh pada orang itu, dan aku dibuat terkejut karenanya.


“Eh, kita punya selera yang sama,” ucapnya sambil tersenyum padaku.


“Tante Sabila,” sapaku sedikit ragu.


Wanita itu mengernyitkan dahi dan alisnya. Beberapa detik kemudian dia tersenyum lepas.


🌹🌹🌹🌹


...Nah loh, siapakah dia? Tante Sabila atau bukan? Awas kena prank!...


Hai Gengs, agak telat ya. Dimaklumi kan? Oke, makasih!


Aku nggak mau banyak ngomong. Cuma mau bilang makasih untuk supportnya selama ini.🥰🥰🥰🥰


Jangan lupa ritual jejaknya, Like + Komen + Hadiah + Vote dan Favorite supaya dapat info update.


Aku pamit ya gengs, maaf udah bikin kalian kesel 😭😭😭


Sampai ketemu di lain waktu.

__ADS_1


__ADS_2