
Usai berciuman di kamar mandi, aku membantu Arsen untuk beristirahat di kamar. Meskipun belum bisa berjalan, tangannya masih bisa bergerak dan membantu menopang tubuhnya saat naik ke kasur.
Saat tubuhnya sudah berada di ranjang kami, Arsen sengaja menarik tubuhku ke dalam pelukannya, membuatku jatuh menimpa tubuhnya.
Belum sempat kami mengucapkan kata-kata, suara Mama sudah membuat kami terkejut.
"Duh, maafkan mama gangguin kalian, tapi Xavier sudah heboh dari tadi." Mama memberikan Xavier padaku.
"Makasih ya Ma, Mama istirahat dulu. Mama pasti capek," ucapku sambil menggendong Xavier.
"Iya, kalau ada apa-apa mama papa ada di kamar ya."
Aku mengangguk lalu Mama keluar dari kamarku. Mama dan Papa memang menginap di rumahku dan Arsen semenjak Arsen kecelakaan, sedangkan Mama Nisa dan Papa Raffi akan bergantian menjenguk kami.
"Anak ganteng Daddy sini dong!" kata Arsen yang kini sudah di posisi duduk.
Aku mendudukkan Xavier di samping Arsen. Pria kecil itu lalu diangkat dan duduk didudukkan di pangkuan Arsen.
"Hei, Boy. I miss you," kata Arsen lalu menghadiahi Xavier dengan ciuman bertubi-tubi di pipinya.
__ADS_1
Xavier terlihat sangat bahagia. Dia terus menerus tertawa dan berceloteh.
"Rambut kenapa udah nggak berdiri lagi? Mommy nggak bisa ya tata rambut kamu biar berdiri? Cuma Daddy yang bisa." Ciuman kembali mendarat di pipi Xavier, dan lagi-lagi bayi itu tertawa.
"Nggak sempat, Dad. Lagian Xavier udah nggak bisa anteng, aku suka lemes tiba-tiba semenjak hamil ini," curhatku lalu memilih duduk di samping Arsen dan Xavier.
"Kamu butuh baby sitter deh kayaknya, Sayang. Xavier makin besar makin aktif, perut kamu makin besar juga pasti makin gampang capek." Arsen mengusap wajahku, dan itu membuat Xavier menirukan gerakan daddy-nya.
"Iya, nanti biar Mama yang carikan, Dad. Xavier kiss Mommy," pintaku pada bocah gembul itu.
Xavier memonyongkan bibirnya, lalu aku mendekatkan pipiku untuk mendapat ciumannya.
...❤M.A.S.2❤...
Kami baru saja selesai makan malam di rumah bersama orang tua dan mertuaku. Saat ini kami sedang membahas kecelakaan yang menimpa Arsen. Mesipun pelakunya sudah tertangkap dan sudah diproses hukum, tetapi semenjak sadar dari koma, Arsen belum tahu tentang fakta yang sebenarnya.
"Dia saingan bisnis kita, memang semenjak kamu dan Dion bergabung, resort dan hotel kita mengalami perubahan yang signifikan. Beberapa hotel lain mulai merasa tersaingi. Padahal, dia sangat dekat dengan papa, bahkan semuanya terlihat baik-baik saja. Nggak nyangka kalau dia benar-benar tega melakukan ini semua." Papa Raffi menunduk.
Pelaku yang telah membuat Arsen celaka adalah sahabat Papa Raffi yang menjalankan bisnis yang sama.
__ADS_1
"Apa benar dia melakukannya sendiri?" tanya Papa. "Maksudku, dia bisa tahu kamu dan Arsen ada di sana? Apa Tuan Raffi pernah merasa ada yang mengikuti selama ini?"
"Saya rasa sih tidak. Tapi tidak tahu juga kalau saya tidak sadar sat diikuti."
"Bisa saja dia punya mata-mata di kantor yang tahu jadwal pertemuan itu. Kalau Pak Gery sendiri yang merencanakan, dia pasti akan melakukannya sebelum pertemuan itu dimulai, sedangkan keceakaan itu terjadi setelah kita berhasil mendapat kontrak kerja?" Arsen sepertinya mencurigai sesuatu.
"Benar juga, apa sebaiknya papa minta tolong Zayn lagi untuk menyelidiki ini?"
"Saya juga masih menyelidiki ini, dan belum mengakhiri penyelidikan karena orang kepercayaan saya mencurigai orang terdekat kita yang bekerja sama dengan Pak Gery, tapi saya belum berani mengungkapnya karena belum ada bukti kuat," kata Papa.
"Jadi pelakunya lebih dari satu orang?" tanyaku.
❤❤❤
Pelakunya adalah ..... (silahkan dijawab)🤣🤣
Selamat pagi, aku bawain Xavier yang nggak jabrik nih,
Jangan lupa jempolnya diangkat semua 😘😘😘
__ADS_1