Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 43


__ADS_3

Nenek Sihir ini adalah nenek paling bawel di muka bumi. Setiap gerak-gerik yang aku lakukan, pasti akan diawasi dengan ketat oleh Oma.


"Eh, kamu kok sendirian, suami kamu mana?" Oma celingukan mencari seseorang di belakangku.


"Lagi kerja Oma." Aku merebahkan tubuhku di sofa ruang keluarga.


Sepertinya hidup beratku akan segera dimulai. Dari dulu, Oma yang paling bawel dengan hidupku. BIsa lebih parah dari Papa yang suka mengatur hidupku.


"Hebat ya suami kamu, masih kuliah tapi udah punya penghasilan. Pasti dia pekerja keras seperti papamu." Oma melihatku dari atas hingga bawah.


Oma itu indra penciumannya seperti kucing, yang bisa mencium aroma kebusukan yang aku atau Kak Dareen lakukan. Aku tidak ingin Oma tahu hubungan rumit aku dengan Arsen yang juga membawa nama Dion, Kalau sampai Oma tahu, bisa gawat.


"Kakak mana Oma? Tadi aku disuruh ke sini sama Kakak," kataku sambil membuka kancing kemejaku bagian paling atas.


Aku mencoba mengalihkan perhatian si Nenek Sihir ini, bisa mati aku kalau sampai Oma tahu soal Dion.


"Lagi mengeram tuh di kamar," jawab Oma.


"Mengeram emangnya ayam." Aku mencebik pada Oma yang kini menatapku tajam.


Sepasang mata tua itu memindai sesuatu dengan fokus. Tunggu! Yang dilihat Oma bukannya ….


"Oma ngapain?" Aku menjauh dari Oma dan menutupi leherku dengan menaikkan kerah kemejaku.


"Apa itu di lehermu?" Oma menarik paksa tanganku untuk melepas kerah baju yang ku pegang erat.


"Oma apaan sih, ini privasi tau," teriakku tak ingin kalah dari Oma.


"Cie cie, cucu oma udah nggak virgin." Oma tersenyum-senyum, membuatku jadi malu sendiri.


"Ngaco aja Oma, aku masih virgin sampai hari ini." Aku mengancingkan kembali kemejaku.


"Payah sekali. Apa suamimu kurang perkasa?" Nenek Sihir itu mencebik seolah mengejekku.


Satu hal yang paling tidak aku suka dari Oma, selain bawel, Oma juga sangat kepo dengan urusanku.


"Oma!" Aku berteriak pada Oma yang bicara tanpa filter.


"Berani kamu teriak-teriak sama oma!" Oma melotot padaku, matanya yang bulat sempurna itu seakan ingin melompat dan menghajarku.


"Oma kalau ngomong yang bener, ngatain Arsen kurang perkasa, jangan sok tahu jadi orang, Oma!" ucapku.


"Lah, kamu empat bulan nikah ngapain aja Kimmora?"


"Nggak ngapa-ngapain, cuma bobok bareng aja Oma."


"Nah 'kan, cowok normal kalau bobok sama cucu Oma yang cantik, dan seksi ini pasti akan kepincut. Oma jadi curiga sama suami kamu." Oma mengelus dagu dengan jari tangannya, lalu dahinya berkerut seolah memikirkan sesuatu.


Kenapa Oma curiga sama Arsen? Kalau saja Oma tahu apa yang sudah aku lakukan pada Arsen, mungkin Nenek Sihir ini akan menyihirku jadi pajangan dinding.


"Curiga apa Oma?" Aku mendekat pada Nenek Sihir itu setelah melihat aba-aba dari tangannya untuk mendekat.


“Jangan-jangan suami kamu suka sama sejenis,” bisik Oma tepat di telingaku.


“Omaaaaa! Oma makin ngaco aja, udah aku mau mandi.” Aku beranjak meninggalkan Oma.


“Kikim, mau kemana kamu? Eh, Kim Minah Kim.” Oma berteriak tapi aku terus berjalan menaiki tangga.


Aku tidak peduli dengan panggilan aneh Nenek Sihir itu, semenjak Oma memanggilku seperti itu, Nana jadi ikut-ikutan terpengaruh Oma.


***


Aku menuruni tangga dengan rambut setengah kering setelah mandi. Sebentar lagi makan malam akan dimulai.

__ADS_1


Namun, ada sesuatu yang membuatku terkejut.


“Oma, Arsen. Kalian ngapain?” Aku berjalan cepat menghampiri Arsen dan Oma.


“Oma tadinya mau melatih suami kamu biar kuat,” ucap Oma.


“Arsen bangun, ngapain kamu push-up di sini.” Aku menarik tubuh Arsen agar bangun, tapi laki-laki itu malah melirik Oma.


“Aku di suruh Oma,” jawab laki-laki itu seolah takut dengan Oma.


“Oma.” Aku menghampiri Oma dan melotot padanya.


“Kimmy, suami kamu kayaknya nggak ada masalah deh, otot-ototnya yang keren gitu nggak mungkin kalau suami kamu nggak perkasa, tapi kenapa kamu masih virgin ya?”


Benar-benar Nenek Sihir kalau bicara tanpa filter. 


“Itu bukan urusan Oma.” Aku menghampiri Arsen yang hanya bertelanjang dada.


“Dasar cucu durhakim!” teriak Nenek Sihir itu.


“Arsen kok kamu udah pulang, emang kamu nggak kerja?” tanyaku sambil memakaikan kemeja pada Arsen.


“Tadi manajer kafe bilang kalau papa nyuruh aku pulang sekarang, ada Oma katanya.” Arsen duduk bersamaku setelah kulihat Oma juga duduk di sofa ruang keluarga.


“Ada Oma tuh pasti rusuh seisi rumah,” cibirku pada Nenek Sihir yang entah mengapa tiba-tiba datang ke rumah ini.


“Oma mau tanya sama kalian berdua?” Oma seakan tak peduli dengan cibiranku.


“Apa?” tanyaku.


“Emang bener kalian belum pernah itu?” Oma menautkan dua jari telunjuknya saat menyebutkan kata itu.


Sungguh pertanyaan yang tidak penting, seperti itulah Oma yang tingkat keponya sudah overdosis.


“Diem deh kamu Kikim! Oma tanya Arsen aja, benar itu Arsen?” Oma berkedip-kedip pada Arsen membuatku geleng-geleng kepala.


“Em, iya Oma,” jawab Arsen terlihat patuh.


“Kenapa? Apa Kimmy kurang menarik?” Oma masih memandang serius wajah Arsen. “Atau jangan-jangan malah cucu durhaka ini nolak kamu ya, mengingat kalian ‘kan menikah karena terpaksa.” Mata Oma melirik tajam ke arahku.


“Itu tau, malah nanya.” Aku sungguh malas dengan pertanyaan tidak penting Oma.


“Eh, Kikim, kamu bilang kan udah bobok bareng, itu nggak terpaksa namanya.” Oma melayangkan tangannya seakan hendak memukulku.


“Terpaksa Oma, kan waktu itu gara-gara ada petir,” balasku tak terima.


“Petir? Kamu nggak kenapa-napa kan? Apa kamu ingat sesuatu?” Oma berkerut, wajah keriputnya terlihat khawatir.


“Maksud Oma apa?” tanyaku tak mengerti.


“Em … nggak ada, lupain aja! Jangan ingat-ingat hal yang menyakitkan, petir itu selalu nyakitin kamu kan, jadi ya lupain aja.” Oma mengalihkan pandangan, melihat ke arah meja makan.


Aku merasa Oma menyembunyikan sesuatu dariku, tapi apa itu? Apa hubungannya dengan rasa takutku pada petir? Apa yang sebenarnya keluarga ini sembunyikan dariku?


Kak Dareen turun dari lantai atas, tepat saat Bi Sri dan Mbak Lastri menyajikan makanan di meja makan.


“Dareen, papamu masih lama?” Oma menghampiri Kak Dareen.


“Masih ada meeting, Oma.” Kak Dareen duduk di kursi makan.


Aku dan Arsen segera menyusul Oma dan Kak Dareen ke meja makan. Dengan perasaan yang diliputi banyak pertanyaan, aku tetap makan malam bersama mereka.


“Kimmy, kamu itu isi piring suami kamu dulu, baru isi piring kamu sendiri,” omel Oma saat aku mengambil nasi untukku sendiri.

__ADS_1


“Ih, dia punya tangan sendiri Oma,” jawabku tak peduli.


“Ini anak kalau diajarin yang benar, bantah terus! Mulai besok Oma akan ajari kamu jadi istri baik yang sesungguhnya.” Nenek Sihir itu kembali melotot padaku.


“Ih, Oma bawel deh.”


“Biarin, daripada kamu oma sihir jadi lukisan Kimmy, mau kamu?”


“Dasar Nenek Sihir.”


Makan malam ini dipenuhi dengan kecerewetan Oma yang melarangku ini, itu, membuat telingaku panas mendengarnya. Kami makan malam tanpa Papa karena sampai kami selesai makan, Papa belum juga sampai rumah.


Usai makan malam, aku mengajak Arsen untuk segera ke kamar, daripada harus mendengar Oma yang sekarang tengah berceramah pada Kak Dareen. Dari raut wajah kakakku itu, aku sangat paham Kak Dareen juga muak dengan ceramah Oma yang selalu memintanya untuk mencari pacar.


“Aku boleh tidur di sini?” tanya Arsen saat kami telah sampai di depan pintu kamarku.


“Ya, boleh dong. Kemarin-kemarin kita juga tidur bareng, ‘kan?” Aku membuka pintu kamarku.


“Hmm, tapi sayang ya kita belum tidur bersama yang sesungguhnya.”


“Apaan sih Arsen. Yuk masuk.”


Aku menarik tangan Arsen untuk masuk ke kamarku, lalu mengunci pintunya.


“Arsen, aku mau bilang satu hal sama kamu sebelum kita lakuin itu,” ucapku saat kami sudah di atas kasur.


“Apa?” tanya Arsen yang hanya bertelanjang dada.


“Aku nggak ingin hamil.” Aku menatap mata Arsen, ingin melihat reaksi seperti apa yang akan ia tunjukkan.


“Kenapa?” tanyanya sambil mengelus kepalaku.


“Aku masih terlalu muda untuk mengurus anak Arsen, apa kamu keberatan dengan permintaanku?”


“Nggak, aku akan tunggu sampai kamu siap.” Arsen menarik tubuhku ke dalam dekapannya.


“Tapi Arsen, rasanya masih banyak yang belum aku tahu soal kamu.” Aku mendongak ke atas untuk melihat wajah Arsen yang memeluk tubuhku.


“Apa yang ingin kamu tahu?” tanyanya sambil mengecup puncak kepalaku.


“Kenapa kamu mau menikah denganku?”


“Karena aku mencintaimu,” jawabnya dengan nada santai.


“Sejak kapan?”


“Sejak kecil, sejak kita pertama bertemu.”


“Apa kita pernah bertemu di masa kecil? Kenapa aku tidak ingat?” Aku sama sekali tak bisa mengingat masa kecilku, apalagi tentang Arsen.


“Aku tidak bisa jawab itu Kim, karena itu akan membuka masa lalu menyakitkan yang sudah kamu lupakan selama ini.”


🌹🌹🌹


Nah loh, mau ada rahasia yang terbongkar nih. Apa ya kira-kira🥳🥳🥳🥳


Hai Gengs, apa kabar? Masih setia? Masih suka nggak? Atau jangan-jangan udah mulai bosan? 😭😭😭😭 Kasih aku masukan ya kalau mulai bosan.


Maaf kalau kebanyakan dialog. Otak masih belum sempurna diajak menghalu soalnya.🥰🥰🥰


Ritual jejaknya jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, dan Votenya.


See You Again 👋👋👋

__ADS_1


__ADS_2