Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 90


__ADS_3

Ocehan Xavier selalu mengawali pagi kami. Bayi yang baru genap berusia enam bulan itu selalu memberikan kejutan-kejutan manis lewat tingkah lucunya.


Pagi ini, dia sibuk membangunkan Daddy-nya yang masih terlelap. Bayi enam bulan yang baru mulai makan pendamping asi itu, mengisap pipi daddy-nya.


Aku masih sibuk menyiapkan pakaian Arsen dan Xavier juga, sembari berkali-kali mengawasi pergerakan Xavier.


Tiba-tiba Xavier menangis kencang, membuatku terkejut dan berlari keluar dari walk in closed. Ternyata, Arsen sudah terbangun.


"Xavier kenapa?" tanyaku yang setengah berlari, masih membawa dasi dan ikat pinggang, karena Arsen hari ini akan menemani papanya untuk keperluan bisnis.


Xavier masih menangis kencang, bayi tampan itu sudah merah padam, matanya terpejam dan air matanya meleleh membasahi pipi.


"Dia kaget," ucap Arsen sambil menciumi Xavier yang masih menangis.


Aku meraih tubuh bayi tampan itu dan membawanya dalam dekapanku, sedikit menggoyangkan tubuhnya agar ia tenang dan cepat diam.


"Tadi dia gigit-gigit pipiku, trus aku kagetin langsung nangis," jelas Arsen yang kini turun dari ranjang. Lalu, ia berjalan mendekatiku dan mendaratkan bibirnya di kepala Xavier. "Maafin daddy ya, Sayang." Arsen masuk ke kamar mandi.


"Sayang Mommy, cup ya. Kalau diem nanti Mommy kasih enen," bujukku pada Xavier yang tangisnya mulai mereda.


***


Arsen dan Xavier sudah sama-sama ganteng. Arsen memakai setelan jaz warna navy, sedangkan Xavier memakai setelan lengan panjang dengan gambar kartun di bagian dadanya.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan, Arsen sepertinya sedang bermalas-malasan untuk pergi. Entah apa yang menjadi beban pikirannya, ia belum berangkat dan malah menemani Xavier belajar merangkak.


"Udah siang, Dad. Kamu nggak jadi ke kantor Papa Raffi?" tanyaku dengan perasaan cemas, takut ia tidak enak badan.


"Bentar lagi, aku masih kangen-kangenan sama Xavier sama kamu," jawab Arsen yang membuatku menatapnya dengan heran.


"Kita kan tiap hari sama-sama, kangen apanya sih?"


Arsen melihat wajahku, ia tersenyum lalu mendaratkan ciuman di bibirku.


"Kamu cantik banget, Sayang."


Aku tersipu malu mendapat gombalan itu, dan memukul dadanya pelan.


"Iya deh." Arsen berdiri, lalu aku menggendong Xavier untuk mengantar Arsen ke depan. "Oh iya, ada yang lupa," kata Arsen saat kami sudah di depan pintu.


"Apa?"


"Aku sayang kamu, istriku," ucapnya yang kembali mendaratkan ciuman kilat di bibirku. "Daddy sayang Xavier." Arsen mencium Xavier bertubi-tubi, lalu melambaikan tangan dan masuk ke mobil.


***


Aku sedang membacakan dongeng untuk Xavier, entah kenapa perasaanku sangat tidak karuan. Seperti ada yang tidak beres, tapi apa?

__ADS_1


Aku mengecek Xavier yang terlihat sehat-sehat saja. Lalu, aku mengirimkan pesan pada Arsen untuk menghilangkan perasaan tidak itu.


Sepuluh menit, belum ada jawaban. Mungkin Arsen sedang sibuk, dia kan sedang membantu Papa Raffi hari ini.


Xavier tiba-tiba menangis kencang. Aku pikir dia ketakutan melihat gambar buku ceritanya, tapi biasanya dia sangat suka dengan cerita sapi.


Perasaanku semakin tidak karuan. Aku menggendong Xavier dan berusaha menenangkannya. Mbak Lastri bahkan ikut menghibur Xavier supaya diam.


Setengah jam berlalu, Xavier tidur karena kelelahan menangis. Lalu, ponselku tiba-tiba berdering. Langsung aku raih dan kulihat bukan Arsen yang menelepon, tapi Papa Raffi. Ada apa?


"Hallo Pa."


"Kim, kamu di mana?" tanya Papa.


"Aku di rumah, Pa. Papa nggak sama Arsen, dia aku chat kenapa nggak balas ya." Aku bertanya balik pada Papa.


"Kamu yang tenang ya, Kim. Jangan panik! Arsen sekarang ada di rumah sakit, dokter sudah menanganinya, dia barusan kecelakaan," kata Papa Raffi yang membuatku lunglai. Aku terjatuh di lantai sambil menggenggam tangan Xavier yang tertidur di ranjang.


♥️♥️♥️


Maaf ya gaess kalau updatenya nggak teratur 🙏🙏 Aku sedang mengembalikan mood 😘😘


Jangan lupa ritualnya 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2