Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 81


__ADS_3

Semenjak ada Xavier, rumah kami tidak pernah sepi. Selalu ada saja yang datang, kadang Mama, kadang Mama Nisa, kadang Tante Sabila, Dera juga terkadang datang untuk bermain dengan Xavier.


Pagi ini, Arsen mengajak Xavier untuk berjemur. Semenjak Xavier lahir, berjemur di pagi hari menjadi satu kebiasaan yang sering Arsen lakukan. Sementara anak dan daddy itu berjemur, aku menyiapkan segala keperluan mandi dan pakaian ganti mereka. Setelahnya, barulah aku menghampiri keduanya.


"Hai Baby, waktunya kita mandi, Sayang." Aku menepuk kedua tanganku untuk mengalihkan perhatian Xavier agar menatapku.


Saat tahu Mommy-nya datang, bayi tampan itu langsung menggerakkan tangannya dan tersenyum.


"Yuk, gendong sama Mommy, Daddy harus mandi terus berangkat kerja," ucapku yang lagi-lagi membuat Xavier tersenyum.


"Mandiin Daddy dong, Mom. Punggung Daddy udah lama nggak ada yang gosokin," sahut Arsen dengan nada manjanya.


Aku menggendong Xavier dengan meletakkan kepalanya di pundakku. "Daddy mandi sendiri ya, mommy mau mandiin Xavier dulu," jawabku, tersenyum lalu meninggalkan Arsen yang terlihat cemberut.


Aku memang mengurus Xavier sendiri, karena aku benar-benar ingin menikmati waktu dan peranku sebagai ibu untuk Xavier. Jadi, aku tidak mempekerjakan baby sitter untuk Xavier.


Setelah beres memandikan Xavier, bertepatan juga dengan Arsen yang baru keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Sayang, krim cukur aku habis, udah kamu beliin belum?" tanya Arsen yang keluar dengan handuk sepinggang.


"Astaga, dibeliin nggak ya sama Mbak Lastri? Kemarin aku udah catetin sih, coba aku tanya dulu. Tolong pakaiin popoknya Xavier ya, bisa kan, Dad?" usulku setelah memperhatikan keadaan Arsen yang tidak memungkinkan untuk menemui Mbak Lastri.


Jelas saja, siapa yang rela kalau suaminya keluar kamar menemui wanita lain dalam keadaan telan*jang begitu.


"Iya, bis kok. Jangan lama-lama," balasnya.


Aku meninggalkan Xavier bersama Arsen, dan mempercayakan bayiku itu untuk durus Daddy-nya.


Aku menemui Mbak Lastri yang sedang memasak di dapur. Dari aromanya sepertinya Mbak Lastri memasak nasi goreng udang.


"Oh, ada Non. Masih di plastik belanja, belum saya keluarin, Non," jawab Mbak Lastri sambil mengaduk-aduk masakannya. Ia menunjuk kantung belanjaan yang cukup besar. Lalu, aku mencari sendiri krim milik Arsen itu.


"Ada, makasih ya Mbak." Aku segera berlalu meninggalkan dapur dan kembali ke kamar.


Saat aku masuk kamar, Arsen sedang berkacak pinggang, seolah ingin memarahi Xavier. Karena khawatir, aku berjalan cepat dan menghampiri keduanya. Xavier yang masih tidak memakai celana, sedang menghisap jempolnya dengan santai, sedangkan Arsen menatapnya dengan kesal.

__ADS_1


"Daddy kenapa sih? Mau marahin Xavier?" tanyaku dengan menahan kesal.


"Lihat, Sayang! Dia pipisin daddy-nya, nggak sopan banget, 'kan?" adunya sambil menunjukkan perut dan dadanya yang basah, sampai mengenai handuknya.


Sementara itu, Xavier hanya menanggapi dengan uh-uh saja, seolah ingin mengejek Arsen yang sedang kesal.


"Ya udah, mandi lagi sana Dad, ini krimnya sekalian." Aku menyodorkan krim khusus yang digunakan untuk mencukur jenggot itu pada Arsen.


"Marahin Xavier, Sayang! Aku harus mandi lagi nih." Arsen terus saja mengeluh, mungkin karena kebutuhan biologisnya harus tertunda makanya aku memaklumi saja.


"Sayangnya Mommy, pipisin Daddy ya? Anak Mommy pinter banget sih, gemes deh." Aku menggoyangkan dada Xavier dengan pelan, membuatnya tertawa geli dan terlihat semakin menggemaskan.


♥️♥️♥️


...Xavier lagi balas dendam soalnya kemarin Daddy nakalin Xavier, ya kan?...


Selamat siang gaes, aku balik lagi nih.

__ADS_1


Hapy weekend, jangan lupa tengokin Kak Zayn yang mau ke Maldives, di novelku Istri Big Boss.


__ADS_2