Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 103


__ADS_3

Aku dan Arsen sudah berada di kamar. Malam ini akan menjadi malam terakhir kami tidur bersama. Entah bagaimana rasanya melewati malam tanpa dia, tapi semua ini harus kami lalui untuk kebaikan semuanya.


"Oppa, nanti di sana berapa lama?" tanyaku sambil memeluk tubuh polos Arsen.


"Em, mungkin satu atau dua bulan, Sayang. Tapi bisa lebih lama juga," Arsen memainkan rambut hitamku. Sementara aku sibuk menulis kata 'rindu' di dada bidang Arsen.


Dua bulan jelas bukan waktu yang sebentar, apalagi ini pertama kalinya kami terpisah jarak yang sangat jauh.


"Kamu betah nggak, kalau lama-lama jauh dari aku?" Aku tahu, sebagai laki-laki normal, Arsen tidak mungkin bisa menahan hasratnya terlalu lama, dan ini yang sangat aku takutkan.


Arsen membalik tubuhku, yang tadinya tidur di dadanya, sekarang aku berbaring di kasur, dan setengah tubuh Arsen berada di atasku. "Dengar ya, Sayang. Aku bukan laki-laki seperti itu. Walaupun bercinta denganmu membuatku sangat ketagihan, tapi aku tidak akan pernah melakukannya dengan orang lain. Percayalah padaku," ucapnya yang terdengar begitu lembut.


"Aku juga akan selalu setia sama kamu, aku janji." Aku menyelipkan jemari tanganku di rambut belakangnya. Lalu, dengan lembut aku mencium bibir Arsen.


Sekali lagi, kami bermain cinta untuk terakhir kalinya. Aku tidak ingin malam ini berlalu begitu saja, dan aku akan membuat Arsen merasakan kepuasan yang akan selalu diingatnya selama ada di sana.


***

__ADS_1


Arsen masih berangkat kerja seperti biasa, Kak Darren juga semakin sibuk, bahkan dia sudah berangkat ke kantor sebelum Arsen.


Kata Arsen, masalah di Jepang memang cukup rumit, beberapa petinggi perusahaan di sana melakukan korupsi yang membuat perusahaan merugi  hingga ratusan juta Yen.


Papa sudah ada di sana, tapi Papa bilang ke Arsen, bawa Arsen mungkin bisa membantu Papa memulihkan kondisi keuangan di sana, sehingga bisa mencegah dampak buruk yang akan mempengaruhi perusahaan pusat.


Setelah Arsen berangkat kerja, aku menyibukkan diri dengan melakukan semua pekerjaan yang aku bisa. Rasanya, aku harus mengalihkan pikiranku agar aku tidak menangis sebelum Arsen berangkat malam ini.


"Sayang, kamu lagi apa?" Mama menghampiriku yang sedang mencuci semua baju dengan tangan, karena biasanya aku mencuci baju dengan mesin.


Aku menoleh sebentar pada Mama, lalu kembali fokus menyikat dan mengucek baju-baju yang telah terendam air sabun itu. "Nyuci baju Ma," jawabku singkat.


Aku sedikit tersenyum ke arah Mama, "Bentar lagi selesai, Ma."


"Oke kalau gitu, nanti kamu nyusul ke dapur ya."


Aku hanya mengangguk sambil tersenyum melihat Mama yang kemudian meninggalkanku.

__ADS_1


***


Aku dan Mama telah selesai masak untuk makan siang Arsen dan Kak Darren. Sebelumnya Mama sudah mengabari Kak Darren bahwa kami akan berkunjung untuk mengantar makan siang.


Sesampainya di kantor, kami langsung masuk ke ruang kerja Kak Darren. Di sana sudah ada Arsen juga yang masih bergelut dengan tumpukan berkas bersama Kak Darren di meja kerjanya.


"Darren, Arsen kita makan siang dulu, yuk." Mama meletakkan makanan yang kami bawa ke atas meja.


Kak Darren dan juga Arsen langsung bergabung bersamaku dan Mama yang sudah duduk di sofa.


"Kamu kenapa, Dek? Kok kayaknya sedih gitu?" tanya Kak Darren yang duduk di samping Mama.


Mendengar ocehan Kak Darren, Arsen yang duduk di sampingku langsung mengusap kepalaku.


"Kamu kenapa, Sayang?" Sedih ya mau aku tinggal?"


🌹🌹🌹

__ADS_1


...Sedihlah Bang, kan mau ditinggal. Abang jangan ngeledekin dong....


Jempol jempol jempol jangan lupa.


__ADS_2