
Di sore yang begitu melelahkan. Setelah diperdaya Oma untuk membersihkan rumah besar ini, akhirnya tubuhku kembali segar setelah terguyur air. Aku mulai mengeringkan rambut dengan handuk dan berkaca di depan cermin. Sambil mengeringkan rambut, aku memperhatikan kembali wajahku di cermin, cantik dan mempesona. Ya, dari dulu memang aku sangat cantik.
Ceklek.
Arsen membuka pintu kamarku yang memang tidak aku kunci. Lalu, ia berjalan mendekatiku yang masih mengeringkan rambut.
“Istriku udah cantik aja.” Arsen memeluk tubuhku, bau keringatnya yang bercampur dengan wangi mint membuatku begitu nyaman.
“Udah dong, udahh jadi babunya Oma juga,” jawabku.
“Ngapain lagi hari ini?” Arsen melepas pelukannya dan duduk berjongkok di hadapanku.
“Disuruh nyapu halaman depan, pegel banget rasanya,” keluhku.
“Nanti aku pijitin, mau?”
“Emm, aku udah selesai itu, apa kita ….”
“Beneran?”
“Iya.”
“Aku ijin dulu nggak masuk kerja,” kata Arsen yang kemudian mengambil ponsel dari saku jaketnya.
“Kenapa nggak kerja, ‘kan kita.” Aku tak sanggup melanjutkan ucapanku melihat Arsen yang dengan semangat mengetikkan sesuatu di ponselnya.
“Daripada aku nanti nggak konsen kerja, mending sekalian aja nggak kerja, mau mulai sekarang?” Arsen mengangkat tubuhku dari sofa.
“Ini masih sore Arsen, bentar lagi waktunya makan malam loh,” ucapku saat Arsen merebahkanku di ranjang.
“Ya udah, tapi habis makan malam langsung ke kamar ya,” kata Arsen dengan wajahnya yang menggemaskan.
***
Aku dan Arsen turun ke bawah setelah Arsen selesai mandi. Laki-laki itu menggandeng tanganku sambil terus tersenyum padaku.
Kak Darren dan Papa sedang menonton televisi, sedangkan Oma si Nenek Sihir itu sedang menjadi pengawas di dapur
Arsen bergabung dengan Papa dan Kak Darren, sedangkan aku memilih untuk menghampiri Oma.
__ADS_1
“Kikim, suami kamu nggak kerja?” tany Oma.
“Nggak, Oma lagi ijin,” jawabku sambil membuka kulkas, mencari air dingin untuk menyegarkan tenggorokanku yang terasa kering.
“Ijin kenapa? Sakit?” tanya Oma yang membuat Bi Sri mengalihkan perhatiannya padaku.
“Nggak kok Oma, cuma pengen izin aja.” Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
“Yaudah kamu bawa ke meja makan tuh yang udah siap!” perintah Oma.
Aku menurut dan memindahkan piring dan juga makanan yang telah matang ke meja makan. Sambil sesekali melirik Arsen yang tengah mengobrol bersama Papa dan Kak Darren.
Akhirnya, semua siap di meja makan. Semua orang sudah duduk di tempatnya masing-masing untuk makan malam, dan kami pun makan dengan tenang.
Setelah makan malam, aku dan Arsen sudah saling memberi kode untuk segera menuju kamar. Namun, sayangnya Nenek Sihir itu memerintahkanku untuk mencuci piring.
“Oma, kali ini aja aku nggak cuci piring ya,” pintaku dengan wajah memelas.
Kulihat Arsen masih mengobrol dengan Papa dan Kak Darren di meja makan.
“Nggak bisa Kikim, nanti besok-besok kamu jadi malas kalau nggak terbiasa, udah jangan banyak ngeluh, cuci semua Oma mau lihat TV.” Oma pun meninggalkanku dengan tumpukan piring-piring kotor.
Dengan malas, aku mulai membersihkan peralatan makan yang kotor itu satu per satu. Sampai akhirnya semua telah bersih berkilat dan aku bisa meninggalkan dapur ini.
“Oma, lihat Arsen nggak?” tanyaku pada Oma yang asyik menonton drama korea yang biasa aku tonton.
“Oh, tadi sih ke ruang kerja sama papamu sama Darren juga,” jawab Oma yang tak mengalihkan perhatiannya dari layar televisi.
Jadi, Arsen lagi sama Papa dan Kak Darren, sebaiknya aku menunggu bersama Oma saja.
“Oma suka sama drakor juga?” Aku memilih duduk di samping Oma yang terlihat serius dengan adegan pelukan di layar televisi.
“Oma baru pertama lihat, karena tadi dia sebut ‘Opa’. Jadi, Oma tonton aja, tapi kok opanya belum nongol juga,” kata Oma masih dengan wajah seriusnya.
“Itu Oppa ‘kan Oma.” Aku menunjuk pada laki-laki yang menjadi pemeran utama drama itu.
“Ih, masih muda gitu masak dipanggil Opa,” kata Oma tak percaya.
Wah, sepertinya ini Nenek Sihir salah paham.
__ADS_1
“Oma nggak pernah lihat Oppa di instagram?” tanyaku.
“Nggak pernah, ‘kan Oma main instagram cuma mau ngawasin kalian, kalau cowok-cowok korea sih sering tapi Oma nggak suka,” jawab Oma.
Benar ‘kan, Oma salah paham dengan kata Oppa yang disebut di drama itu.
“Oma, Oppa di drakor itu maksudnya dia panggil sayang ke pacarnya atau suaminya, atau kakak laki-lakinya, bukan opa pasangannya oma-oma,” jelasku.
Oma menatapku, dahinya berkerut seolah berpikir aku telah membohonginya.
“Kalau nggak percaya cek aja di google, Oppa korea pasti munculnya begitu semua.” Aku tersenyum sinis pada Oma, akhirnya aku bisa mengalahkan Nenek Sihir ini.
Oma membuka ponselnya yang sama persis tipenya dengan ponselku, ponsel keluaran terbaru yang sangat canggih dan cocok untuk anak muda. Oma mengetikkan sesuatu di ponselnya dan tak lama wajahnya berubah kecewa.
“Kalau gitu, kenapa kamu nggak panggil Arsen dengan Oppa, kamu ‘kan panggil dia dengan nama, nggak sopan. Kamu nggak gaul banget sih Kim.” Nenek Sihir itu mencebik.
“Oppa? Oppa Arsen?” Aku tertawa karena lelucon Oma, tapi seseorang menepuk pundakku membuatku berhenti tertawa dan melihat ke arahnya. “Arsen.”
“Oppa, panggil Oppa,” sahut Oma yang akhirnya beranjak meninggalkanku dan Arsen.
“Oppa?” Arsen terlihat bingung dengan yang aku dan Oma bicarakan. "Kalian bahas apa emangnya?"
"Oma nyuruh aku panggil kamu Oppa kayak di drakor." Aku kembali tertawa geli membayangkan jika aku harus memanggil Arsen dengan panggilan Oppa.
"Kalau kamu suka ya nggak masalah." Arsen menarikku bangun dari sofa, lalu mematikan televisi.
"Oppa pasangannya sama Oma loh." Aku meledek Arsen yang terlihat biasa saja.
Aku dan Arsen menuju kamarku dengan bergandengan tangan, aku masih saja tertawa geli tapi Arsen terlihat begitu serius. Sampai kami tiba di kamar dan Arsen mengunci pintu, aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Ada apa?"
"Aku dari tadi udah nggak tahan." Arsen langsung menyerang bibirku dengan bibirnya.
🌹🌹🌹
Hai guys, aku muncul lagi, masih ada yang lanjut nggak? Oh udah mulai bosan ya sudah lah 1 bab aja 😅😅😅
Coba kasih saran, enaknya Kikim panggil apa?? Oppa? Kakak? Mas? Abang? Kayak manggil kang somay ya 🤣🤣🤣
__ADS_1
Ya udah lah, pokoknya tinggalkan jejaknya, Like, Komen, Hadiah, dan Vote. Udah jarang nih yang ngasih hadiah, poinnya buat apa emangnya 😅😅😅
Okay, See You again, kalau banyak yang komen atau hadiah, aku update lagi, ehem ehemnya 🥰🥰🥰