
❤❤
Mungkin bukan kebetulan. Namun banyak hal tak terduga bisa terjadi dalam hidup ini. Itulah yang dinamakan skenario Allah. Semua sudah digariskan olehNya. Siapapun yang datang dalam kehidupan kita tak lepas dari campur tangan Tuhan. Begitu juga yang dialami Kirana.
Seandainya boleh memilih, tentu ia ingin memiliki hidup normal seperti teman-temannya. Namun hidup tak melulu soal pilihan. Ada sesuatu diluar jangkaun manusia. Ia tak bisa memilih terlahir dari rahim siapa.
Gadis bermata indah itu menyeka butiran kristal yang menerobos di ujung mata. Semua teka-teki terjawab sudah. Gamang hendak menyentuh wanita yang terbujur di sampingnya. Laksana ada ribuan jarum yang menusuk dada gadis itu. Perih. Ia tak tahu harus apa. Menangis, meraung atau sebaliknya, bahagia karena sudah menemukan ibu kandungnya.
Son menyentuh pundak kirana. Tatapan mata laki-laki itu terasa berbeda. Teduh kini terasa. Kirana menelan saliva. Tak menyangka, ternyata laki-laki ini omnya. Hidup kenapa begini amat. Diam-diam ia menyesal sudah bersikap kasar padanya.
Perlahan, Ibunya-Larasati membuka mata. Aroma minyak kayu putih yang dibalurkan ibunya, terasa menyengat hidungnya. Untuk beberapa saat lamanya, suasana keharuan menyelimuti mereka. Ia bersandar di tepi ranjang. Mulai bercerita sambil terus terisak. Kirana pun tak mampu menahan kepiluan yang menyesakkan dada.
Waktu maghrib baru berlalu. Kirana baru menyeleseikan salatnya. Di atas sajadahnya ia bersimpuh. Kejutan demi kejutan yang ia alami membuat gadis itu terguncang. Ia butuh bahu untuk bersandar. Tiba-tiba ia amat merindukan Ammar. Sedang apakah suaminya kini? Matanya basah. Baru saja ia hendak merebahkan diri di ranjang. Suara pintu di ketuk.
Kirana membuka pintu dengan berat. Ibunya sudah berdiri di pintu.
“Makanlah dulu Nak,” ajak ibunya hati-hati.
Ia bisa merasai kenyataan ini tak mudah bagi putrinya. Mungkin kesalahannya sulit termaafkan. Kirana mengangguk. Ingin rasanya ia memeluk putrinya yang cantik itu. Tapi melihat sikap Kirana yang lebih banyak diam, di tahan keinginan itu dalam hati. Ia tak mau melukai kirana. Mereka butuh waktu untuk saling menyesuaikan sebagai ibu dan anak.
__ADS_1
Setelah menyeleseikan makan malam, kirana langsung masuk ke kamar lagi. Ia butuh waktu untuk sendiri. Sambil menunggu waktu isya’. Pikirannya menerawang mengitari langit-langit kamar.
Sebelum tidur, Kirana ke dapur karena ia merasa haus. Di sana ia melihat ibunya dan Son sedang berbincang. Kirana menahan langkah. Sebenarnya bukan bermaksud menguping. Tapi ia tak ingin kehadirannya yang tiba-tiba menganggu mereka. Ia memilih berdiri mematung di belakang dengan jarak beberapa meter. Lamat-lamat ia bisa mendengar obrolan kakak beradik itu. Bagai disengat listrik bertegangan tinggi, Kirana nyaris tidak mempercayai apa yang sudah disampaikan Son. Ia menutup mulutnya rapat. Hendak berlari menuju kamar, tapi mereka sudah terlanjur menoleh ke belakang.
“Ki…”
Kirana menghentikan langkah. Ada segumpal kekecewaan yang menohok di dadanya. Ibunya menghampiri. Kemudian memeluknya. Menuntunnya ke kamar. Kirana masih terguguk. Kenyataan ini lebih menyakitkan daripada saat mengetahui tentang ibu kandungnya. Ternyata Son menyukai suaminya. Itu alasan laki-laki itu membawa dirinya pergi. Untuk memisahkan dengan suaminya. Rasanya, gadis itu ingin teriak sekencang-kencangnya. Ia tak mengerti kenapa dirinya mengalami kehidupan yang begitu dramatis sekaligus tragis. Bahunya terus terguncang. Ibunya mengelus dengan lembut. Larasati mengatakan pada kirana bahwa ini tak mudah bagi Son. Dan, Son butuh waktu untuk menata perasaannya. Ia akan pergi malam ini untuk sementara waktu.
Setelah tenang, Kirana meminta izin pada ibunya untuk menemui Son. Laki-laki itu sedang bersiap-siap pergi sambil menyeret koper.
“Son!” jerit Kirana.
Laki-laki itu menoleh.
“Apa kau masih menganggapku sebagai ponakan,” tatap Kirana.
Son balas menatap. “Iya kamu ponakanku.”
“Kalau begitu, jangan pisahkan ponakanmu dengan suaminya. Kecuali kamu ingin ponakanmu ini menjadi janda.” Kirana berbicara dengan bibir bergetar.
__ADS_1
“Dia sudah perjalanan menjemputmu. Bersiap-siaplah.”
“Bagaimana aku bisa mempercayaimu, setelah yang kamu lakukan padaku.”
“Aku mau menelponnya sendiri,” pinta kirana.
Son mengulurkan ponselnya. Setelah itu meninggalkannya. Ia tak sanggup untuk mendengarkan percakapan mereka. Dengan tangan gemetar kirana menekan kontak untuk melakukan video call dengan suaminya. Tak lama pun tersambung. Di monitor ia bisa melihat wajah suami yang amat dirindukannya. Begitu juga dengan Ammar. Ia nyaris tidak percaya kirana menelponnya. Sejak Kirana menghilang dirinya hampir kehilangan kewarasan karena terus memikirkannya. Makan tak enak tidur pun tak nyenyak.
“Abang!” Sapa kirana dengan bibir bergetar dan mata berembun.
Ammar menatap layar ponselnya. Melihat penuh haru wajah perempuan yang amat dirindukan.
“Ki..sayang. Tunggu abang ya! Abang kangen! Suara Ammar parau karena ia sedang tidak enak badan.
“Hoeekk..huk..huk.” Rasyid langsung kumat jahilnya.
“Diem Lu,” bentak Ammar pada adik sepupunya. Rasyid nyengir.
“Ini sudah sampai probolinggo, Sayang. Sebelum subuh inshallah sudah sampai rumah.”
__ADS_1
“Iya, Abang hati-hati. Ki tunggu!”
Tamat d