
Xavier mulai tenang saat aku merangkul dan menenangkannya. Dia sangat manja denganku, dan tidak ingin aku disentuh oleh siapa pun termasuk adik-adiknya.
Air matanya masih menggenang, pipi gembulnya masih basah sisa tangisan yang kini mulai reda.
"Mommie api, mommie api," kata Xavier. Ia belum terlalu jelas bicara, dan menyebut namanya dengan 'api' yang maksudnya adalah Xavie.
"Mommie baby, Xavie udah gede," goda Arsen yang duduk di sisi ranjang, sementara Xavier naik di ranjangku.
"No, no, no, mommie api." Xavier mengeratkan pelukannya pada tubuhku.
Mama, Mama Nisa, Mbak Dian, dan Papa tidak ada yang bisa mengendalikan Xavier saat histeris.
"Xavier itu persis Kimmora, bandelnya. Kayaknya dia harus ketemu jodoh biar nggak bandel lagi," komentar Papa yang sibuk mengambil gambar cucu kembarnya.
"Ih, Papa selalu gitu. Xavier masih kecil udah pilihin jodoh," protesku sambil memeluk Xavier.
"Loh, kamu dulu juga masih kecil waktu papa niat jodohin sama Arsen," balas Papa.
"Ih, jahatnya, Xavier biar nikah sama orang yang Xavier cinta. Biar dia menemukan sendiri cinta sejatinya, Pa."
"Api mau Mommie, api mau mommie aja," kata Xavier.
"Xavier nanti pulang ya, sama Sus, mommie masih sakit soalnya," kata Arsen. Ia membelai lembut rambut Xavier yang sudah tidak jabrik lagi.
"No, no, ama Mommy," jawab Xavier sambil menggelengkan kepala.
"Xavie, kiss mommy please!" pintaku pada Xavier yang menolak permintaan daddynya.
Xavier mengecup kedua pipiku, lalu aku membalasnya dengan ciuman gemas di kedua pipinya yang mengembang.
"Thank you, anak mommy paling ganteng. Xavier nanti pulang ya sama Sus, Xavier bobok di rumah, jagain rumah, Xavier kan jagoan mommy," kataku seraya menatap matanya yang sangat mirip dengan Arsen.
Xavier mengangguk.
__ADS_1
"Tuh, mommie sakit, Xavier tungguin mommie di rumah ya." Aku menunjuk pada tangan kiriku yang masih terpasang infus.
"Mommie." Xavier tiba-tiba memelukku, ia sepertinya tidak tega melihatku sakit.
"Xavie sayang mommie kan?"
Xavier mengangguk cepat.
"Kalau gitu, Xavie juga harus sayang baby twin, Xavier kan abangnya." Aku menunjuk pada kedua bayi yang berada di gendongan Mama dan Mama Nisa.
"Mommie Api," balasnya.
"Iya, mommienya Xavie, mommienya baby twin juga, tapi anak mommy paling ganteng cuma Xavier kok, jagoannya mommy cuma Xavier." Aku mendaratkan ciuman berkali-kali pada Xavier sampai bocah tampan itu tertawa geli.
...****************...
Xavier sedang duduk dipangku Arsen sambil menonton tv, saat aku menyusui adik-adiknya. Sifatnya yang posesif memang membuat kami kewalahan. Apalagi, Xavier memang masih terlalu kecil untuk berbagi kasih sayang.
"Iya ya Jeng, mirip Arsen semua," sahut Mama Nisa yang menggendong bayiku.
Kedua wanita itu sama-sama menertawakanku yang lagi-lagi kurang beruntung.
"Hidungnya kali Ma, yang mirip aku." Aku memperhatikan putri bungsuku yang sedang menyu*su.
"Kayaknya hidung Arsen juga yang nempel di sini," kata Mama Sabrina sambil menyentuh hidung bayiku.
"Tapi bibirnya tipis kayaknya, mirip mommynya," kata Mama Nisa.
"Waduh, pasti cerewet minta ampun nanti," balas Mama Sabrina yang lagi-lagi diiringi tawa oleh keduanya.
Suara tawa kedua omanya membuat perhatian Xavier teralihkan, ia menatap tajam pada adiknya yang sedang menyu*sui.
"Mommie Api, Mommie Api," kata Xavier hampir menangis.
__ADS_1
"Aduh, Oma-oma ini bahas apa sih sampai bikin Xavier sedih nih?" tanya Arsen yang menggendong Xavier.
"Ma, tolong Ma." Aku menyerahkan bayiku yang sudah selesai menyu*su pada Mama Sabrina. Lalu, aku meraih Xavier dari gendongan Arsen.
"Kita lagi bahas si kembar nih yang nggak ada mirip-miripnya sama Kimmora," jawab Mama Sabrina.
"Oh itu. Iya sih, aku juga mikir gitu, tapi aku ada solusinya kok." Arsen menarik kursi untuk duduk di samping ranjangku.
"Jangan bilang kamu mau coba lagi sampai dapat yang mirip mommienya," sahut Mama Nisa. Arsen hanya cengar-cengir sambil mengusap kepala Xavier.
"Nggak ah, udah tutup aja pabriknya, aku mau KB," balasku.
"Ya nggak sekarang Sayang, tunggu mereka agak besar," kata Arsen.
"Nggak lah, udah cukup 3 anak aja, udah ada perempuan ada laki-lakinya, udah lengkap."
"Nambah lagi nggak apa-apa Sayang, aku sama Zayn mau bikin klub kesebelasan." Arsen senyum-senyum menggodaku. Aku tahu dia hanya bercanda, tapi tetap saja, membayangkan punya banyak anak di usia muda, bagaimana ribetnya?
"Aduh, nanti tiap ada acara mama harus keluarkan banyak piring dong," sahut Mama Nisa yang sudah meletakkan bayiku di box mereka.
"Ya, ya, ya," bujuk Arsen sambil memainkan alisnya naik turun.
"Nggak, Daddy mau divasektomi?" tanyaku, membalas godaannya.
"Ih, Sayang, kamu ngeri sekali bercandanya," jawab Arsen.
Aku dan Mama Nisa juga Mama Sabrina malah tertawa karena ekspresi Arsen yang memelas.
β€β€β€
Selamat pagi buat kalian yang masih nungguin update aku πππ Jangan lupa jempolnya πππ
Gemes kan sama bibirnya πππ
__ADS_1