
Arsen duduk di sebelahku, mengusap wajahku sambil menatapku dengan hangat, membuat gejolak di hatiku semakin meronta. Aku tidak sanggup lagi menahan air mataku, dan langsung menangis dalam pelukan Arsen.
Rasanya begitu sakit, sesak dan panas. Aku merasa kepergian Arsen kali ini tidak hanya satu atau dua bulan saja, tapi akan lebih lama dari itu.
Arsen membalas pelukanku dengan mengusap pelan punggungku, satu tangannya memegang kepalaku. Aku menangis sesenggukan dalam pelukan Arsen. Bayangan awal pernikahan kami terlintas begitu saja di kepalaku.
Dulu, aku begitu menyia-nyiakan Arsen. Aku memang bodoh waktu itu, dan sekarang aku merasakan karmaku.
"Sayang, aku nggak akan lama di sana," kata Arsen yang masih setia mengusap punggungku.
"Kata siapa, kamu nanti di sana bisa sepuluh tahun loh!" kudengar Kak Darren menyahut omongan Arsen.
Aku semakin tersedu mendengar ucapan Kak Darren, dan Arsen semakin memelukku dengan erat.
"Kamu doain aja biar masalah di Jepang cepat kelar dan aku bisa cepat pulang. Nggak mungkin sampai sepuluh tahun, Sayang," ucap Arsen yang kemudian menangkup wajahku dan menghapus air mataku.
"Jelek banget kalau nangis, udah nanti kakak belikan permen satu pack."
"Nggak mau, kalau kinderjoy mau," balasku yang membuat Kak Darren mencebik.
Arsen tersenyum sambil mengusap kepalaku, dan akhirnya kami mulai makan siang bersama.
__ADS_1
***
Mobil sport hitam melaju kencang membelah jalanan ibu kota. Malam kelam ini tak menghitamkan suasana, karena kerlap kerlip lampu mampu mengusir kegelapan dengan cahayanya.
Laki-laki yang begitu kucintai ini terus saja merangkulku, tak peduli dengan pengemudi mobil yang sedari tadi berdecak kesal.
Aku menghirup dalam-dalam aroma tubuh Arsen yang membuatku semakin tak karuan. Jika boleh memilih, aku ingin sekali menahan waktu agar berhenti berputar untuk saat ini. Tentu saja perpisahan menyakitkan ini begitu menyiksa jiwaku, sehingga rasanya waktu berlari begitu kencang.
Ya, benar, berlari bukan berjalan. Tahu-tahu sudah sampai di bandara, padahal rasanya baru tadi aku menangis meraung saat Arsen berpamitan sambil membawa kopernya keluar rumah Mama. Ternyata, saat ini, kami sudah harus benar-benar berpisah.
Usai memarkirkan mobil, kami masuk menuju pintu keberangkatan internasional. Arsen sudah saatnya untuk check in, dan kami harus mengatakan selamat tinggal.
"Kak aku pamit ya, tolong jaga Kimmy!" pesan Arsen sambil berpelukan ala cowok dengan Kak Darren.
"Lolipop sama Kinder Joy juga Kak," sahutku yang membuat Arsen tersenyum, sedangkan Kak Darren menatapku dengan ekspresi bingung.
"Mahal!"
Aku tak lagi membalas ocehan Kak Darren karena panggilan cek in untuk pesawat Arsen sudah menggema.
Sekali lagi aku memeluk tubuh Arsen untuk terakhir kali, tapi setelahnya ia malah melepaskan jaketnya. Membuatku menatapnya bingung dengan wajahku yang sudah sangat basah.
__ADS_1
"Kamu pakai jaket ini ya, anggap aja aku yang lagi peluk kamu." Arsen memakaikan jaket bombernya. "Jangan nangis, nanti sakit kepala, makan yang teratur jangan sampai sakit, aku akan cek tiap waktunya makan. Oke." Setelah mengatakannya, Arsen mengecup keningku lama sekali.
Aku mencium punggung tangannya, ini kali kedua aku melakukannya setelah hari pernikahan kami. "Kamu juga jaga diri baik-baik."
Arsen membalasnya dengan mengecup pipiku. "Aku berangkat, ya."
"Hati-hati, aku mencintaimu." Dengan pelan aku melambaikan tangan melepas kepergian Arsen.
Ia tersenyum lalu menyeret kopernya menjauhiku.
"Aku juga mencintaimu," bisik Kak Darren yang kemudian merangkulku. "Dramanya sudah selesai, sekarang kita pulang!"
"Sebentar aja, sampai punggungnya Arsen nggak kelihatan." Aku masih terus menatap tubuh Arsen yang sudah menjauh
"Duh, ribet kalau ketemu cewek bucin."
"Aku sumpahin Kakak lebih bucin!"
🌹🌹🌹
...Abang Arsen hati² ya di sana.. jaga kesehatan juga 😭😭😭...
__ADS_1
Aku nggak cuap² takut di damprat.. othor banyak ngomel 🤭🤭