Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 35


__ADS_3

Setelah menikmati sarapan di hotel, aku dan Arsen jalan-jalan sebentar ke pantai, sambil menikmati sengatan matahari. Aku dan Arsen berjemur ala bule sambil bermain pasir pantai yang sangat bersih.


Kawasan ini memang lumayan sepi, berbeda dengan pantai Kuta yang padat. Mungkin karena kawasan ini terbilang kawasan elit yang biaya menginapnya sangat mahal dibanding kawasan lainnya di Bali.


Namun, bagi pasangan yang sedang menikmati bulan madu seperti kami, kawasan ini menyuguhkan suasana yang lebih tenang, sejuk, asri dan jauh dari kebisingan.


Kami tidak sempat menyaksikan matahari terbit karena memang kami bangun kesiangan, tapi tidak mengurangi keseruan kami menikmati pantai.


Setelah jalan-jalan di pantai, kami kembali ke resort yang juga mempunyai fasilitas spa. Aku sangat ingin menikmatinya mumpung ada di Bali. Spa sebentar sebelum makan siang sepertinya ide yang sangat bagus, karena Arsen langsung setuju saat aku mengusulkannya.


Aku dan Arsen sudah bersiap dengan memakai kain khas Bali bergambar logo resort milik keluarga Arsen, setelah sebelumnya kami memesan paket spa berdua. Aku sudah tidak sabar ingin dipijat karena rasanya tubuhku juga ingin bermanja-manja karena setiap malam harus siap mengimbangi permainan Arsen di ranjang.


Baru saja masuk ke ruangan spa, perutku mendadak mual saat mencium aromaterapi yang begitu menusuk hidungku. Aku tidak tahan dan langsung berlari ke toilet dan Arsen langsung menyusulku.


“Kamu mual lagi?” tanya Arsen sambil memijat tengkukku.


Aku hanya mengangguk karena rasa mual itu masih menyerangku.


“Kita ke dokter aja ya!” kata Arsen yang terdengar mengkhawatirkanku.


“Nggak, aku nggak mau, aku mau liburan tenang. Nanti aja di rumah,” jawabku setelah rasa mual mulai berkurang.


“Tapi kamu mual-mual terus, Sayang,” kata Arsen.


“Aku udah nggak apa-apa kok, kamu bilang mereka suruh ganti aromanya aja, aku nggak suka.” Aku mencoba berdiri dibantu Arsen.

__ADS_1


“Jangan-jangan kamu ….” Arsen tersenyum sambil mengusap perutku.


Apa maksud Arsen ini? Apa dia berpikir aku hamil? Apa mungkin, aku kan baru satu bulan lalu menstruasi, masa sih secepat ini aku hamil?


“Nggak, Sayang. Kalau hamil itu makan apa aja pasti mual, aku masih enak makan kok, mual karena baunya itu nggak enak, ganti aja ya, bikin sakit kepala,” jawabku. Aku tidak ingin Arsen terlalu berharap, lagi pula saat ini kami sedang berbulan madu, masih banyak kesempatan untuk mewujudkan harapan itu.


Arsen keluar dari toilet untuk memberitahu pegawai spa supaya mengganti aroma terapinya. Rasa mualku sudah hilang hanya tersisa rasa sakit di kepala. Sepertinya aku akan mengambil masase kepala juga untuk menghilangkan sakit di kepalaku.


Aku kembali ke ruangan spa dan sudah tidak mual lagi, sepertinya mereka sudah mengganti aroma terapinya.


“Sayang, mereka bilang kamu nggak boleh luluran sama masase dulu, kalau nanti beneran hamil, bisa bahaya sama janinnya,” kata Arsen yang terlihat khawatir.


“Kita kan belum tes, Sayang. Kalau aku nggak hamil gimana?” tanyaku merasa sedih, karena gagal merasakan pijatan terapis yang pasti akan membuatku rileks nantinya.


Walaupun belum pasti hamil, tapi aku juga tidak mau terjadi apa-apa kalau ternyata aku benar-benar hamil.


“Iya, deh, masase kepala nggak apa-apa kan? Kepalaku agak pusing soalnya,” jawaku yang membuat Arsen tersenyum lega.


“Iya,Sayang.”


Setelah berdiskusi sejenak, akhirnya aku mengganti luluran dengan facial yogurt dan perasan wortel.


“Tunggu dulu!” ucapku yang membuat semua mata memandangku.


“Kenapa lagi, Sayang? Mual lagi?” tanya Arsen yang sudah tengkurap di ranjang yang disediakan untuknya.

__ADS_1


“Kok terapisnya cewek? Emang nggak ada terapis cowoknya?” tanyaku dengan kesal.


Arsen juga terlihat senang sekali, apa dia senang dipijat oleh perempuan? Dulu katanya hanya suka dengan pijatanku, sekarang bahagia banget dipijat wanita lain, mana cantik banget terapisnya.


“Kami ada terapis cowok kok, kalau mau bisa saya panggilkan,” kata terapis yang akan menuangkan lulur berbahan kopi itu ke tubuh suamiku.


“Eh, tapi aku nggak mau kamu diliatin cowok lain dengan keadaan begitu ya,” sahut Arsen dengan wajah yang terlihat tegas.


Aku memang tidak memakai apapun selain kain dan juga dalaman berbahan kertas.


“Iya kan? Aku nggak mau ada yang diam-diam menikmati tubuh istriku.” Arsen tersenyum lagi setelah tahu aku tidak bisa berbuat apa-apa dalam situasi ini.


Apa dia senang disentuh wanita lain? Menyebalkan sekali dia.


♥️♥️♥️


Bawaan Bumil kali ya, sensi amat Kikim. Eh, tapi emangnya beneran hamil 🤭🤭🤭


Selamat malam gays.


Mau lagi nggak? Besok aja ya, sambil nunggu level 😂😂


Banyakin kopi, sama kembangnya.


Sampai ketemu lagi 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2