Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 79


__ADS_3

Setelah tegang digantung di ketinggian bianglala, aku tidak berani lagi menikmati wahana yang lain. Walaupun aku Arsen terus membujukku untuk mencoba wahana, termasuk rumah hantu, tapi aku tetap menolak. Aku yang penakut ini tidak mau memasuki tempat yang akan membuatku menjerit ketakutan.


Untungnya, Arsen mau mengerti, ia mengajakku berkeliling, melihat kumpulan para pedagang yang menjual banyak sekali dagangan. Ada berbagai jenis makanan, baju, sepatu, tas, kacamata, jam, bahkan aksesoris ponsel pun ada.


Aku tertarik dengan gantungan ponsel yang lucu-lucu. Saat aku memilih barang-barang mungil itu, pedagangnya menawarkan beberapa gantungan ponsel untuk pasangan. Lalu, aku mulai menjatuhkan pilihan pada gantungan berbentuk wajah perempuan dan laki-laki yang bila disatukan akan membentuk sebuah hati.


“Itu terlalu norak, Sayang,” protes Arsen saat aku menunjukkan pilihanku padanya.


“Tapi aku mau ini, kamu harus pasang di ponsel kamu, oke.” Aku berkedip-kedip sambil memasang wajah imut pada Arsen.


Arsen pun menghela napasnya dengan berat, lalu mengeluarkan uang dari dompetnya dan membayarkan pilihanku.


“Makasih, Oppa,” ucapku sambil merangkul lengan Arsen.


“Ada syaratnya,” kata Arsen.


“Apa?” tanyaku yang kini melepaskan tanganku dari lengan kekarnya.


“Kamu yang di atas nanti, aku nggak akan bantu sedikit pun, tapi kamu harus bikin aku benar-benar puas. Baru aku mau pasang di ponselku.” Arsen memainkan alisnya naik turun.


“Nggak ada bosan-bosannya ya kamu.”


“Kalau aku bosan, pasti kamu nangis-nangis.”


“Ih, jahat!”


***


Arsen telah berangkat ke kantor bersama Papa, karena Kak Darren sedang mengurus bisnis di luar kota. Aku hanya berdua bersama Oma dan para pekerja di rumah Papa.


Seperti biasa, aku sudah memasak, mencuci piring, menyapu juga mencuci baju. Aku sudah terbiasa dengan segala penyiksaan Oma, sampai rasanya semua pekerjaan Bi Sri dan Mbak Lastri itu menjadi makanan sehari-hari yang harus aku lahap.

__ADS_1


Oma masih bawel seperti biasanya, dan hari ini Oma memintaku untuk belajar membersihkan toilet di lantai bawah. Tentu saja aku menolaknya mentah-mentah. Oma benar-benar keterlaluan kali ini.


"Oma, memangnya Oma pernah bersihin toilet sendiri?" sungutku kesal.


"Kimmy, itu toilet kan jarang dipakai, cuma sikat dinding sama lantai aja, biar bersih." Oma mengerutkan alisnya.


"Aku nggak mau, kalau Oma mau, Oma sendiri aja yang bersihin." Aku meninggalkan Oma keluar dari rumah.


Sampai di mobil, aku menghubungi Nana, tapi gadis cerewet itu mengatakan ia sedang sibuk. Lalu, aku mencoba menelepon Dara, dan ternyata Dara juga sama sibuknya.


Aku menjalankan mobilku tanpa berpikir akan ke mana. Mobil merah ini melaju pelan bersama kendaraan lain, melintasi beberapa gedung pencakar langit. Entah mengapa, tiba-tiba aku sudah berada di depan kantor Papa.


Mungkin, aku bisa sedikit mengganggu Arsen, dan melihat wajah seriusnya saat bekerja. Setelah memarkirkan mobil, aku menuju resepsionis untuk mencari tahu di mana ruangan Arsen.


"Mbak, ruangan Arsen di mana ya?" tanyaku pada resepsionis yang berdandan rapi dengan sanggul ala pramugari itu.


"Maaf Nona, Arsen yang mana? Apa ada janji?" Lagi-lagi balik bertanya.


Apa aku harus meneleponnya? Ini tidak akan menjadi kejutan. Ah, niatku ingin melarikan diri dari Oma, tapi malah berakhir mengenaskan. Ingin bertemu suami saja ribet sekali.


"Namanya Arsen, kata Papa ada di bagian keuangan. Di mana ruangannya?" tanyaku lagi.


"Maaf Nona, ada keperluan apa? Nanti kami akan menghubungi Pak Arsen," jawab wanita itu yang membuatku semakin kesal.


"Eh, mbak. Saya ini anak pemilik perusahaan ini. Nggak percayaan amat sih," ucapku kesal.


"Ada apa ini?"


Papa datang dari kejauhan dan berjalan menghampiriku.


"Pa, aku mau ketemu Arsen, masa nggak boleh sama dia. Harus janjian dulu katanya," aduku pada Papa.

__ADS_1


"Emang kerjanya seperti itu, Kim. Ngapain sih kamu ke sini. Di rumah aja sama Oma!" cicit Papa yang malah membela karyawannya.


"Aku nggak mau sama Oma, masa aku di suruh bersihin toilet sih, Pa. Oma tuh nyebelinnya nurun ke Papa," omelku pada Papa di hadapan karyawannya.


"Kamu malu-maluin deh, Kim. Udah sini ikut Papa kalau mau ketemu Arsen." Papa berbalik, dan aku segera mengikutinya.


Kami masuk ke dalam lift, lalu Papa menekan angka 10 pada tombol lift dan tak berapa lama kami sampai juga di lantai sepuluh gedung ini. Para karyawan di lantai ini memperhatikan kami yang berjalan beriringan, menundukkan kepala untuk memberi hormat kepada Papa. Sampai akhirnya aku sampai di meja kerja Arsen.


"Arsen, ini ada bocah yang lagi nyari kamu," kata Papa sambil menepuk pundak Arsen.


Arsen yang tadinya sibuk dengan layar monitornya, kini menghadap ke arahku dan Papa.


"Hai, Oppa." Aku melambaikan tangan lalu tersenyum genit pada suamiku itu.


"Dasar bocah kecil, berani-beraninya nyuruh pimpinan cuma buat nganter ke ruangan karyawan," gumam Papa yang kemudian meninggalkanku dan Arsen.


"Kamu ngapain ke sini?" tanya Arsen yang sedikit kikuk karena kami menjadi pusat perhatian.


"Kangen."


🌹🌹🌹


...Aku juga Kangen Oppa, apa perlu aku nyamperin ke tempat kerja juga??...


Hallo gengs, mon  maap agak telat ya, lagi galau sama cover yang diganti paksa sama NT. Jahat kan??😭😭


Suka nggak sih kalian? Aku sih enggak 😭😭😭


Ya udahlah, ritual jejaknya dulu, Like + Komen + Hadiah + Vote seperti biasa ya.


Mau dapat poin dari aku, bisa. Caranya masuk grup chat othor. Tutornya ada di akhir Bab 78 ya. 🥳🥳🥳

__ADS_1


Sampai ketemu lagi 👋👋👋


__ADS_2