
“Soal kejadian beberapa minggu yang lalu, aku sudah tahu pelakunya.”
Kalimat itu bagaikan sambaran petir di siang bolong. Begitu cepat dan langsung membakar.
Apa Dion sudah tahu tentang hubunganku dan Arsen? Apa ini artinya pernikahanku dan Arsen akan terbongkar? Tidak, tidak. Ini belum saatnya.
Telapak tanganku sudah terasa dingin saat aku memberanikan diri untuk mengangkat wajahku dan menatap mata Dion.
“Siapa?” tanyaku dengan bergetar, keringat dingin sudah mulai keluar dari pelipisku.
“Aku tidak akan mengatakannya sekarang, tapi jangan sampai aku menangkap basah kalian, karena jika itu terjadi aku tidak peduli jika dia sahabat terdekatku sekalipun. Kecuali ….” Dion tak melanjutkan kalimatnya.
Aku jadi semakin gisah karena kalimat terputus yang diucapkan Dion.
“Kecuali apa?” tanyaku saat Dion ta juga melanjtkannya.
“Bertahan dan belajarlah dengan sungguh-sungguh untuk mencintaiku. Jauhi dia,” kata laki-laki yang dulu begitu aku suka itu.
“Apa kamu tidak marah karena aku berkhianat?” tanyaku.
“Sangat … aku sangat marah, dan demi perasaanku ke kamu, aku berusaha memahami semuanya. Jadi, sekarang tergantung kamu, apa kamu bisa menjauhinya dan mencintaiku saja? Atau aku akan menghajar cowok itu habis-habisan.” Dion terdengar begitu marah. Dia yang biasanya imut dan menggemaskan, mendadak berubah menjadi harimau yang menyeramkan.
“Aku ….”
Belum selesai melanjutkan kalimatku, ponselku yang tergeletak di atas meja berdering, dan menampilkan nama Arsen di layarnya.
Kulihat Dion melirik ponselku lalu membuang wajahnya, mungkin dia kesal. Dion tersenyum aneh dengan menggigit bibir bawahnya.
Aku masih belum berniat menerima panggilan video itu, karena dalam pikiranku kembali terlintas ucapan Yumna tentang mereka berdua. Apa yang sedang mereka lakukan di sana? Hatiku terasa mendidih saat membayangkannya.
Hingga ponselku tak lagi berdering, Dion dan aku masih sama-sama membisu. Sekarang apa yang harus aku lakukan?
Aku memejamkan mata, lalu menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.
“Kenapa tidak dijawab telfonnya? Apa harus aku yang jawab?” tanya Dion yang membuatku terpaksa membuka mata dan melihatnya.
“Tidak, tidak perlu,” jawabku,
Aku mematikan daya ponselku lalu menyimpannya ke dalam tas.
“Jadi, pilihan mana yang akan kamu ambil?” Dion kembali membuatku pusing. Kepalaku suah berdenyut semenjak dia mengatakan bahwa dia mengetahui pelaku yang meninggalkan bekas merah di leherku.
“Jangan bertengkar dengannya, ini kesalahanku,” kataku dengan putus asa.
“Ini salahnya juga, karena sudah berusaha merebut pacar sahabatnya sendiri.” Kulihat Dion mengepalkan tangannya.
Melihat kemarahan di wajah Dion, membuatku semakin yakin untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Laki-laki yang terlihat imut itu begitu mengerikan saat marah.
“Kita putus saja, aku nggak akan milih kalian berdua.” Aku bangun dari kursi hendak meninggalkan Dion.
__ADS_1
“Kimmy, kamu nggak bisa gini ke aku.” Dion menahan langkahku dengan mencekal pergelangan tanganku.
“Udah lah Kak, dulu Kak Dion bilang aku berhak mengakhiri kalau aku nggak bisa mencintaimu, dan sekarang ini lah saat itu.” Aku melepaskan tanganku darinya.
“Aku akan buat perhitungan dengan Arsen,” kata Dion yang bisa kudengar dengan jelas.
Tapi aku tak peduli, dan terus berjalan meninggalkan Dion di kafe itu.
Pada akhirnya aku mengakhiri hubunganku dengan Dion. Saat di kampus, aku akan menjauhi Dion jika bertemu dengannya.
Hubunganku dan Arsen juga semakin tak jelas. Karena aku tak lagi membalas pesan Arsen, apalagi menjawab panggilannya.
Aku memang egois, tetapi, daripada aku yang tersiksa karena mereka berdua, lebih baik aku menghindari keduanya.
Aku menjalani hidupku seperti dulu sebelum ada Arsen. Meskipun sangat sulit, tapi aku terus berusaha mengembalikan hidupku tanpa batang-bayang Arsen.
...❤❤❤M.A.S🚗🚗🚗...
Seminggu setelah berakhirnya hubunganku dan Dion, kehidupanku mulai berjalan normal. Semua berkat sahabat-sahabat minim akhlak yang selalu bersamaku. Ya, meskipun mereka belum mengetahui pernikahanku dan Arsen.
“Kim, sorry ya, saat lo putus dari Dion sekarang ini, gue malah udah nggak jomblo lagi,” ucap Nana saat kami sedang menikmati jajan di kantin kampus.
“Maksud lo, sekarang lo sama Dion?” tanyaku penuh selidik.
Nana malah menimpukku dengan kulit kacang.
“Ngaco aja kalau ngomong. Gue jadian sama Randy, temennya Bimo yang ketemu di pantai," ucapnya yang sedikit sewot.
“Lo juga harus move on, Kim," kata Nana yang kini kembali duduk di hadapanku.
Mendengar kata-katanya, aku memicingkan mata ke arahnya.
“Eh, Markona! Emang siapa yang bilang gue belum move on. Gue lagi menikmati kejombloan gue, sebelum gue cari target baru.” Aku menimpuknya dengan kulit kacang juga.
Si Nana malah tertawa terpingkal-pingkal. Sahabatku itu memang terkadang aneh.
“Kim, gue ada info cowok ganteng, mahasiswa baru yang ada di kampus kita," ucapnya dengan serius.
Kalau soal cowok, si Nana ini paling cepat dapat informasi. Entah dari mana info yang ia dapat, tapi semuanya selalu akurat. Padahal semua temannya, juga jadi temanku. Aneh, 'kan?
“Siapa, siapa Na, cowok gantengnya?” tanyaku antusias.
Sejujurnya aku hanya ingin menunjukkan pada Nana bahwa aku memang sudah tidak mempedulikan Arsen dan Dion dalam hidupku.
“Namanya Kenneth. Ganteng banget, nggak kalah sama Dion dan Arsen. Dia sekelas sama kita juga," ucap Nana sambil mengedipkan matanya, genit.
“Gila, lo cepet banget dapet info cogan.”
"Gue gitu loh," ucapnya yang sedikit sombong. “Eh, Kim, balik yuk! Udah sore."
__ADS_1
Aku mengangguk dan segera meninggalkan kantin.
Hari memang sudah terlalu sore, dan aku memutuskan untuk pulang ke rumah papa. Namun, baru belum begitu jauh meninggalkan gedung kampus, sebuah panggilan masuk di ponselku, segera kupasang earphone bluetooth yang sudah tersambung dengan ponsel ke telingaku.
“Kim, kamu di mana?” tanya Kak Dareen.
“Lagi di jalan mau pulang. Kenapa, Kak?” tanyaku.
“Kakak kamu yang paling ganteng dan baik hati ini, ada kejutan special buat kamu," kata Kak Dareen.
“Kejutan apa sih? Setengah jam lagi aku nyampe rumah."
“Pulang ke mana? Kakak di kontrakan Arsen sekarang.”
“Ngapain?”
“Udah pokoknya ke sini aja. Awas kalau nggak ke sini." Kak Dareen mengakhiri panggilannya.
Dengan kesal aku pun mengambil jalan untuk memutar balik. Lalu, aku melempar earphone itu ke jok penumpang depan.
Mau apa sih Kak Dareen ke kontrakan Arsen segala? Di sana kan tidak ada orang.
Sepuluh menit kemudian, aku sampai di kontrakan. Lalu aku memarkir mobilku di belakang mobil Kak Dareen.
Sepi, tidak ada orang. Lampu rumah bahkan belum menyala, hanya ada cahaya lampu teras yang membuat rumah ini tak begitu menyeramkan, karena magrib telah tiba.
“Kak, Kakak dimana?” panggilku saat mengintip ke dalam mobil Kak Dareen yang sepertinya kosong.
Aku masih mencari Kak Dareen di sekitar teras yang tak begitu luas ini. Karena tak menemukan keberadaannya, aku memutuskan untuk meneleponnya saja. Namun, saat aku sedang mencari ponsel di dalam tas, seseorang memelukku dari belakang.
"Kangen …."
🌹🌹🌹
Ah, tebak saja lah siapa dia! Kira-kira, kali ini si Kimmy ngamuk nggak ya? Apa dia pasrah aja? Terus Dionku bagaimana dong?
Oke, lah. Besok dilanjut lagi.
Masih ada yang punya vote? Sini bagi ke aku, biar aku makin semangat 🤭🤭
Oh ya, kalau kalian mau bagi cerita Kimmy dan Arsen ke temen-temen kalian, boleh banget kok ya.
Caranya gini
Klik Berbagi di pojok kiri bawah.
Lalu, tinggal pilih mau dibagi lewat apa.
okay,
__ADS_1
Ritual jejaknya jangan lupa. Like, Komen, Hadiah dan Vote.
Oke, see you again 😍😍😍