Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 62


__ADS_3

Cabai berbentuk unik ini memang sangat mirip dengan lolipop, hanya saja ukurannya jauh berbeda dengan lolipop Arsen. Sangat lucu dan menggemaskan.


"Kita cari di toko tanaman ya, aku yakin ada kok." Jari Arsen kembali menggeser layar ponselku naik turun, sepertinya ia sedang mencari tahu apakah ada tanaman unik ini di toko tanaman.


"Aku maunya ini, Dad. Nggak mau yang lain-lain. Walaupun sama persis aku maunya ini," kataku sambil mencolek-colek ujung cabe, gemas sekali ingin memetiknya.


"Duh, aku nggak mau ngajarin jelek sama anak kita." Arsen mengacak rambutnya.


Aku masih sibuk mengamati tanaman aneh yang warnanya sudah merah merona ini. Tidak sabar ingin memetiknya saat ini juga, tapi bukankah itu namanya mencuri?


Seorang wanita keluar dari rumah mewah pemilik cabai ini. Lalu memandang sinis ke arah kami, sambil menuntun sepedanya dan menutup kembali gerbang yang sangat tinggi itu.


"Kalian ngapain?" tanyanya penuh selidik. Pasti ia berpikir kami akan mencuri.


"Em, kami ingin me ... em, membeli cabai itu kalau boleh," jawab Arsen terdengar gugup.


"Itu tidak dijual," kata wanita itu lagi. Ia bersiap menaiki sepeda.


"Tunggu, bisakah saya bicara dengan pemilik rumah ini?" tanya Arsen yang berjalan mendekati wanita itu, sedangkan aku masih di posisiku.


Lalu, setelah berbincang cukup serius, seorang satpam keluar dari dalam rumah dan terlibat negosiasi lagi dengan Arsen, sedangkan wanita yang tadi meninggalkan mereka.


"Baiklah, saya akan panggil nyonya, semoga beliau mau menemui kalian."


Arsen mengangguk, lalu satpam itu masuk lagi.


Arsen menghampiriku lagi.


"Yang punya rumah ini bukan orang sembarangan Sayang, semoga saja kita diijinkan ya."


Aku hanya mengangguk. Bagaimanapun caranya aku harus bisa memetiknya.


Cukup lama menunggu dan pemilik rumah tak kunjung keluar, tapi aku tetap duduk di tepi jalan, memperhatikan cabai-cabai yang warnanya tak hanya merah, ada juga warna hijau pekat yang mungkin masih belum siap petik.

__ADS_1


Dering ponsel Arsen memecah keheningan, dan Arsen pun segera menjawab.


"Iya, Pa," kata Arsen sambil duduk di sampingku.


"Aku sama Kimmy nggak di rumah, Papa sudah dekat?"


Papa siapa? Papaku apa Papa Raffi?


"Kita udah mau pulang kok, tunggu sebentar."


"Nggak, aku nggak mau pulang, aku mau petik dulu," sahutku saat Arsen mengatakan akan pulang.


"Papa udah mau sampai rumah Sayang, masa kita di sini, kayaknya yang punya rumah nggak ngijinin. Kamu mau nunggu di sini apa nanti saja kita beli?" tanya Arsen dengan nada sedikit tinggi.


"Kok kamu marah sama aku? Kalau nggak mau yaudah, kamu pulang aja, aku mau di sini," jawabku tak kalah meninggi.


"Ini loh Pa, Kimmy pengen petik cabe, tapi kayaknya yang punya nggak ngijinin, aku ajak beli nggak mau," kata Arsen yang kembali berbicara dengan ponselnya.


"Yaudah Papa ke sini aja, lihat sendiri bentuk cabe anehnya, siapa tahu Mama pernah lihat ada yang jual cabe aneh kayak gini. Aku ada di komplek, nggak jauh dari rumah kok." Arsen terlihat kesal.


Kami memang menunggu cukup lama, mungkin karena itulah ia jadi kesal. Lalu, salahku di mana? Salah kalau aku mau cabai yang ini?


Setelah telpon dimatikan, Arsen kembali mendekatiku, mengusap rambutku yang kepanasan terkena matahari. Arsen lalu berkongkok untuk menghalangi kepalaku dari panas matahari yang mulai naik.


Suara gerbang yang sengaja dibuka membuat kami menoleh, seorang satpam dan seorang wanita dengan rol rambut yang melekat di atas dahinya, keluar dari gerbang.


Arsen langsung mendatangi wanita itu, aku mengekor di belakangnya.


"Maaf ya, Mas. Itu cabai unik, saya sengaja biarkan dia kering di pohon karena mau saya tanam lagi," kata wanita pemilik rumah langsung pada intinya.


"Saya akan membeli berapapun yang Nyonya minta, istri saya sedang hamil," kata Arsen.


Wanita itu memandangku dan Arsen bergantian, seakan meremehkan kami.

__ADS_1


"Mau beli berapa?" tanyanya dengan mengangkat satu ujung bibirnya.


"Terserah Nyonya, saya akan transfer berapapun itu." Arsen menyalakan layar ponselnya.


"Lima juta," kata wanita itu dengan cepat.


"Apa? Nggak salah?" Aku sedikit berteriak saat mendengar harga cabai yang sangat tidak masuk akal itu.


"Lima juta silakan petik sepuasnya. Kalau nggak mau ya sudah, cari saja di pasar, ada nggak cabe kayak gitu." Wanita itu hendak masuk rumah.


"Saya bayar," cegah Arsen. "Berapa nomor rekeningnya?" Arsen mengulurkan ponselnya.


Belum sempat wanita itu menerimanya, sebuah mobil berhenti di dekat kami. Kami semua menoleh ke arahnya. Lalu, Papa Raffi dan Mama Nisa turun dari mobil.


"Kimmy, kamu ngidam cabe?" Mama Nisa menghampiriku sambil tertawa, mungkin lucu baginya mengidamkan cabai sampai menunggu lama di depan rumah orang.


"Jeng Nisa."


"Loh, Jeng Liana." Mama Nisa menatap wanita pemilik rumah. "Oh, kebetulan ternyata punya Jeng Liana cabenya. Anak saya ngidam cabe, cabe apa sih?"


♥️♥️♥️


...Cabe cabean Ma. Eh, betewe mahal amat lima juta, biasa beli juga lima ribu. Kesempatan dalam kesempitan ini namanya 🤣🤣🤣...


Jangan dibully, ntar aku nangis, biar dramatis gitu cabe lima juta 🤣🤣


Maaf ya kemarin nggak up, aku sibuk gaes.


Ini aku panjangin kan 🤭🤭🤭


Jangan lupa ritualnya. Eh hari senin. Sini bagi vote nya juga 🤭🤭


Sampai ketemu lagi 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2