Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 14


__ADS_3

Coklat pemberian Pak Kaisar masih ada dalam genggamanku, entah harus kujawab apa pertanyaan Arsen soal coklat ini. Apa harus kukatakan ini dari Pak Kaisar?


"Sayang, kok melamun?" tanya Arsen sambil menyentuh tanganku, membuatku menoleh langsung menoleh padanya.


"Kalau aku jujur soal coklat ini, kamu marah nggak?" Aku menyodorkan coklat itu pada Arsen.


Arsen langsung mengerutkan dahinya, ia tak langsung menerima coklat itu.


"Dikasih sama cowok, ya?" tebaknya. Aku hanya sedikit mengangkat ujung bibirku.


"Dari Pak Kaisar. Maaf ya, Oppa. Nanti aku buang aja ya," kataku.


"Jangan dibuang munazir. Buat aku aja, nanti aku belikan buat kamu," kata Arsen langsung merebut coklat itu dari tanganku dan menyimpannya dalam saku jasnya.


Dia kalau cemburu seperti ini menggemaskan sekali.


***


Setelah sekian purnama, aku kembali menginjakkan kaki di tempat ini. Sebuah ruangan praktek dokter spesialis kandungan yang dulu menjadi saksi saat aku dokter Nayla memasangkan alat itu di lengan kiriku.


Sekarang, di tempat yang sama, bertemu orang yang sama, dan ditemani suamiku yang masih sama, hehe, akhirnya aku memutuskan untuk melepas alat itu. Alat yang menghalangi benih cinta Arsen untuk masuk ke dalam rahimku. Sebentar lagi, alat itu akan menghilang dari tubuhku.


Dokter Nayla menyambut kami dengan ramah, sama seperti tiga tahun yang lalu.


"Selamat malam, Pak Arsen dan Bu Kimmora," sapa Dokter Nayla setelah melihat sekilas pada berkas medisnya.


"Malam Dok," jawabku.

__ADS_1


"Apa ada keluhan dengan kontra-sepsinya Bu Kimmora? Atau malah mau dilepas?" tanya Dokter Nayla.


"Emm … iya Dok, kami sudah sepakat untuk melepaskannya, apa saya bisa secepatnya hamil?"


"Tergantung tingkat kesuburannya Bu Kimmora, nanti setelah menstruasi normal, bisa dimulai program kehamilannya." Dokter Nayla mulai menjelaskan apa saja yang mungkin akan terjadi setelah alat itu dikeluarkan dari tubuhku.


Setelah siap, aku diminta berbaring di ranjang pasien. Kemudian, Dokter Nayla mulai melakukan prosedur pelepasan alat kontra-sepsinya. Awalnya lengan kiriku disuntik anastesi lokal, setelahnya Dokter Nayla mulai mengeluarkan alat itu. Karena takut, aku hanya bisa memejamkan mata sambil berpegangan tangan Arsen yang selalu setia di sampingku.


"Tidak usah takut, cuma sebentar kok," kata Dokter Nayla. Akan tetapi, yang namanya takut ya tetap saja takut.


"Sudah," kata Dokter Nayla sambil memasang plester dan perban elastis di lengan kiriku.


"Sudah beneran Dok?" tanyaku sedikit ragu, pasalnya Dokter Nayla baru beberapa menit melakukannya dan tiba-tiba sudah selesai.


Yang aku bayangkan, Dokter Nayla akan melakukan sayatan lebar untuk mengeluarkannya, tapi sepertinya tidak.


"Iya, sudah beneran, dua duanya sudah keluar, ini alatnya!" kata Dokter Nayla yang kemudian menunjukkan dua alat berwarna putih itu padaku.


"Setiap dokter punya caranya masing-masing, dan saya menggunakan cara saya sendiri," jawab Dokter Nayla.


Kemudian aku dibantu Arsen untuk duduk.


"Wah, sayang sekali saya tidak berani melihatnya tadi," jawabku yang membuat Dokter Nayla tersenyum.


Akhirnya penghalang itu sudah benar-benar disingkirkan dari tubuhku, dan sekarang tinggal menunggu waktu supaya aku bisa hamil.


***

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang, kami melewati deretan pedagang kaki lima, dan itu sukses membuat perutku keroncongan.


"Presdir, traktir aku makan di situ dong." Aku menggoda Arsen yang fokus dengan setirnya, tanganku menunjuk deretan lapak makanan kaki lima yang terlihat menggoda.


Arsen menoleh lalu mencubit pipiku dengan tangan kirinya.


"Sakit, Oppa," rengekku meski sebenarnya tidak sesakit itu.


"Lagian kamu minta traktir di pinggir jalan. Istriku udah merakyat kayaknya," kata Arsen sambil menepikan mobil di tempat yang tersedia.


Aku hanya tersenyum lalu bergaya imut di depan Arsen dengan meletakkan kedua tanganku di pipi.


"Karena meskipun suamiku seorang presdir, tapi gajinya belum turun, kan baru sehari," jawabku yang membuat Arsen tertawa.


Lebih dari tiga tahun lalu aku menikahi anak sopir, sekarang laki-laki itu telah menjadi seorang presdir, dan aku bersyukur karena aku ada bersamanya saat melewati semua proses itu.


🌹🌹🌹


...Kim, gajinya tetap dibagi dua sama aku ya 😝😝...


Ada yang merindukan Oppa Sen Sen nggak sih.


Kayaknya nggak ada πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


Yaudah balik ke Bang Zayn lagi kalau gitu 🀭🀭


Jangan lupa like nya dipencet, kolom komentarnya diisi, kalau banyak poin sini kasih hadiah kembang atau kopi buat Bang Arsen, masih nyimpen vote, boleh kok disumbangin ke sini πŸ˜…πŸ˜…

__ADS_1


Ritual wajib ya.


Sampai ketemu lagi 😍😍


__ADS_2