Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 11


__ADS_3

Setelah berdiskusi dengan Papa, aku dan Arsen memutuskan untuk pulang ke rumah karena Arsen juga butuh istirahat. Jujur, aku sangat senang dengan keputusan Arsen yang sudah bersedia membantu Papa di perusahaan.


Saat ini kami dalam perjalanan pulang ke rumah Papa.


“Oppa, makasih ya kamu udah mau bantuin Papa.” Aku memiringkan tubuh menghadap Asen yang sedang fokus dengan kemudinya.


“Apa kamu bangga jika aku menjadi presdir?” tanya Arsen.


Aku menanggapinya dengan senyum, tentu saja aku sangat bangga. Bukan karena dia akan menjadi presdir, tapi karena aku tahu dia sangat bekerja keras untuk kesuksesannya.


“Sangat bangga, pokoknya kamu harus sukses sebagai Arsen. Supaya aku juga bisa jadi terkenal.”


Arsen tertawa mendengar jawabanku.


Apapun yang terjadi, aku akan selalu ada bersamamu, karena aku sangat tahu kamu laki-laki terbaik yang pernah aku kenal.


***


Sampai di rumah, aku turun dari mobil untuk memanggil Pak Aji yang biasanya ada di halaman depan. Akan tetapi, berkali-kali aku memanggilnya, Pak Aji masih juga belum keluar untuk membuka gerbang yang terkunci ini. Akhirnya aku memencet bel rumah karena menunggu Pak Aji terlalu lama.


Tak berapa lama, Mbak Lastri datang sambil berlari, lalu membukakan gerbang agar Arsen bisa memasukkan mobil ke dalam rumah.


“Pak Aji ke mana, Mbak?” tanyaku saat Mbak Lastri menutup dan mengunci kembali gerbang rumah.


“Lagi di belakang sama Bi Sri, Non. Sepertinya mereka sedang bicara serius,” kata Mbak Lastri.


Aku mengangguk lalu berjalan menyusul Arsen yang sudah selesai memarkirkan mobil.

__ADS_1


Arsen menggandeng tanganku saat masuk ke rumah. Aku tahu dia sangat lelah, dan pasti ingin segera istirahat di kamar.


Baru saja kami akan melangkahkan kaki menuju anak tangga paling bawah, Pak Aji sudah memanggil Arsen, dan akhirnya aku pun ikut menoleh.


Pak Aji dan Bi Sri sudah ada di belakang kami dengan wajahnya yang tegang.


“Bapak, Ibu. Ada apa?” tanya Arsen yang menghampiri Pak Aji dan Bi Sri.


“Arsen, bisa kita bicara sebentar, Nak,” tanya Pak Aji.


“Ada apa, Pak?”


Pak Aji sepertinya butuh privasi untuk bicara dengan Arsen. Aku paham itu dan memilih untuk meninggalkan mereka.


“Oppa, aku ke kamar dulu, ya.” Aku berbalik dan akan melangkahkan kaki menaiki anak tangga, tapi Arsen meraih tanganku.


Pak Aji dan Bi Sri terlihat mengangguk. Sebenarnya aku tidak enak dengan Pak Aji, tapi Arsen juga tidak melepas tanganku.


“Ayo kita bicara di sana, Pak.” Arsen menunjuk ke arah taman belakang, lalu menarik tanganku dengan pelan untuk berjalan mengikutinya.


Aku jadi penasaran, apa yang akan Pak Aji katakan sehingga wajahnya terlihat begitu khawatir.


Kami akhirnya duduk di kursi yang terbuat dari batang kayu, yang melingkari meja bundar berbahan sama.


“Ada apa, Pak? Kenapa sepertinya Bapak terlihat khawatir?” tanya Arsen pada Pak Aji, laki-laki yang sudah merawatnya sejak kecil.


“Kemarin siang, bapak ketemu Pak Raffi, ayah kandungmu,” kata Pak Aji yang membuat wajah Arsen berubah tegang.

__ADS_1


“Lalu?” Arsen mengatakan dengan bibir yang samar-samar terlihat bergetar.


“Dia menanyakan ibumu,” kata Pak Aji.


Seketika Arsen tersenyum kecut,


“Tadi pagi, bapak lihat, putrinya sedang dilamar pengusaha, bapak lihat beritanya di TV,” kata Pak Aji lagi.


“Lalu, hubungannya denganku apa, Pak? Kalau dia ingat punya anak, pasti sudah diurus sejak kecil kan?” Arsen terlihat kesal, dia mere*mas lututnya dengan keras, pasti dia sedang menahan emosinya.


“Masalahnya bukan begitu Arsen,”


🌹🌹🌹


...Masalahnya kita bahas besok ya....


Maaf telat 🙏🙏, hari ini Othor benar-benar sibuk di dunia nyata, sampai nggak bisa fokus di dunia halu.


Yang penting udah up 2 bab kan ya hari ini.


Mungkin besok juga lebih sibuk, jadi tolong dimaklumi ya, tetep Othor usahakan kok updatenya.


Ritualnya jangan lupa.


Like, Komen, Hadiah, Vote.


Sampai ketemu besok 👋👋👋

__ADS_1


__ADS_2