
Beberapa hari setelah mengetahui fakta bahwa Om Doni terlibat dalam kecelakaan Arsen, keadaan semakin memburuk. Om Doni yang sekarang sudah dipenjara, meminta pembagian ulang mengenai harta warisan. Arsen dan Dera sudah terang-terangan mundur, tapi Dion menolak. Ia tidak mau menjadi pewaris tunggal, dan akhirnya semua sepakat membagi dua bagian, satu bgian untuk Papa Raffi yang kan dibagi untuk Dera dan Arsen, serta satu bagian untuk Om Doni yang mungkin akan diberikan kepada Dion.
Meskipun Arsen dan Papa sudah memaafkan Om Doni, tapi kasusnya tetap berjalan, dan Om Doni tetap dipenjara.
Hari ini, aku dan Xavier menemani Arsen untuk terapi berjalan. Kata dokter, kemajuan Arsen terbilang pesat. Beberapa kali terapi lagi, dia bisa mulai berjalan normal.
"Ayo kita mampir ke Dokter Nayla," kata Arsen. Seorang perawat laki-laki yang memang kami pekerjakan mendorong kursi rodanya.
"Iya, ini udah lewat dari jadwal periksa. Dokter Nayla pasti udah di kliniknya."
Akhirnya, kami menuju klinik Dokter Nayla. Sudah satu bulan lebih aku belum memeriksakan kandunganku.
"Bu Kimmora, Pak Arsen," sapa dokter cantik itu saat kami masuk ke ruangannya. "Hallo Baby, Xavier." Dokter Nayla tersenyum ramah seperti biasanya.
"Saya terlambat dari jadwal periksa, Dok." Aku duduk di hadapan Dokter Nayla.
__ADS_1
"Kami ingin lihat anak kedua kami, Dok. Saya harap sih semoga perempuan biar kami punya sepasang," kata Arsen.
Dokter Nayla hanya tersenyum. Kemudian, aku mulai diperiksa kesehatan, lalu diminta berbaring di ranjang dan bersiap melakukan USG.
"Pak Arsen masih sakit begini, berarti masih libur, kan?" tanya Dokter Nayla saat mengoleskan krim dingin ke perutku.
"Libur apa, Dok?" tanyaku yang masih belum paham arah pembicaraan Dokter Nayla.
"Oh, iya Dok. Istri saya nggak mau, mungkin karena hamil makanya nggak mau banyak gerak dulu," jawab Arsen yang membuat Dokter Nayla geleng-geleng kepala.
"Apa sih, Dad? Libur apa?" Aku menoleh ke samping, menatap Arsen yang sedang memangku Xavier di kursi roda.
"Oh, asta libur itu? Emang boleh ya, Dok. Suami saya kan baru saja operasi karena pendarahan di kepala." Aku menatap Dokter Nayla.
"Itu buka wewenang saya, Bu. Bisa ditanyakan dengan dokter yang menangani kondisi Pak Arsen saat ini ya," jawab Dokter Nayla yang kemudian melanjutkan pemeriksaannya.
__ADS_1
Kening Dokter Nayla mulai berkerut saat memperhatikan layar monitor.
"Kenapa, Dok? Apa anak kami baik-baik saja?" tanya Arsen yang terlihat cemas. Aku jadi berdebar menanti jawaban Dokter Nayla yang masih terus memutar alat di perutku dan menatap layar monitornya.
"Em, begini. Sebelumnya saya mau tanya, apa kira-kira ada riwayat kembar di keluarga Bapak Arsen atau Ibu Kimmora?" Dokter Nayla balik bertanya.
"Mama saya kembar, Dok," jawabku yang mulai berbunga-bunga, berharap Dokter Nayla akan mengatakan jika bayiku kembar.
"Oh, pantas saja, di sini ada dua bayi dengan dua kantung ketuban. Dua-duanya sehat dan normal." Dokter Nayla menunjukkan dua gambar yang bentuknya mirip kepala bayi.
"Beneran, Dok?"
"Iya, selamat ya, harus dijaga lebih ekstra, karena kembar itu kebih banyak resiko," kata Dokter Nayla.
Arsen yang sedang memangku Xavier pun terlihat sangat bahagia. "Xavier dapat dua temen main," ucapnya sambil menciumi pipi Xavier yang gembul.
__ADS_1
β€β€β€
Oke gaess, aku beneran update 2 bab kan? Maapken aku yang updatenya nggak rutin, aku juga punya dunia nyata π€π€π€ makasih buat kalian yang masih setia menunggu updatean aku ππ