Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 72


__ADS_3

Arsen masih tampak kacau, matanya hanya berkedip-kedip, seperti ia tengah mengumpulkan nyawanya untuk berpikir. Karena Arsen hanya diam saja, aku berinisiatif untuk menelepon Kak Darren.


Entah Arsen bekerja sebagai apa di kantor Papa, tapi rasanya tidak mungkin kalau Arsen dipecat hanya karena mengajakku bulan madu.


Panggilan telah tersambung, tapi Kak Darren tak juga menjawabnya. Lalu aku berusaha menghubungi Papa, Kak Darren atau Papa kan sama saja.


Papa langsung menjawab begitu sambungan telepon tersambung.


“Halo Pa, aku sama Arsen lagi liburan. Papa jangan pecat Arsen, ya,” kataku sebelum Papa berbicara.


“Kalian lagi di mana sih emangnya?” tanya Papa.


Aku melirik Arsen yang memandangku.


“Ada pokoknya di tempat yang indah. Papa nggak usah nyariin aku.” Aku mendekat pada Arsen, lalu tersenyum manis untuk menggodanya.


“Papa nggak nyari kamu, Papa nyari Arsen. Dia kan kerja buat bantuin kakakmu.”


“Ih, yang anaknya Erick Ardiansyah itu aku,” sungutku. “Eh, tapi Pa. Papa tega banget nyuruh Arsen jadi--”


Belum sempat aku melanjutkan kalimatku, Arsen langsung menutup mulutku dengan tangannya, lalu ia membaringkanku di ranjang dan memelukku.


“Jadi apa? Nggak jelas kamu! Papa lagi siapin dia di departemen keuangan biar bisa bantu kakakmu," kata Papa.


Aku tak bisa menyahuti omongan Papa karena tangan Arsen masih membekapku, ia kemudian mencium kedua pipiku bertubi-tubi.


“Arsen, geli tau!” Aku berteriak saat Arsen menciumi leherku dan tangannya sudah lepas dari mulutku.


“Papa telepon papa.” Arsen setengah berbisik, lalu menghentikan keisengannya.


"Kalian kenapa?"


“Nggak kenapa-napa, ya udah Pa, aku mau cari makan dari pagi belum sarapan,” ucapku sebelum mengakhiri panggilan telepon.

__ADS_1


***


Aku dan Arsen kini tengah jalan-jalan di sekitar penginapan, tidak jauh dari tempat kami menginap ada sebuah danau yang sangat menakjubkan yang dihiasi pohon-pohon rindang di sekitar danau. Sauasa asri yang benar-benar menyegarkan mata.


Aku dan Arsen duduk di tikar yang telah digelar oleh pedagang sekitar, sambil menikmati gorengan dan juga kopi. Benar-benar pas dengan cuaca yang dingin ini.


Aku melihat dua anak kecil yang sedang bermain di sekitaran danau. Lalu aku teringat omongan Arsen bahwa kami pernah bertemu waktu kecil.


“Arsen, coba ceritakan masa kecil kita,” kataku tiba-tiba.


Arsen langsung mematikan rokoknya. Lalu, kedua tangannya meraih tanganku.


“Kamu mau tau beneran?” tanya Arsen.


Aku mengangguk dengan cepat. Sedangkan Arsen mengambil napas berat, lalu ia mulai bercerita.


“Dulu, saat pertama kali aku diajak bapak masuk ke rumah Tuan Ardy, orang yang pertama kali aku lihat adalah kamu. Waktu itu kita masih sangat kecil, tapi seiring berjalannya waktu akhirnya kita semakin dekat. Kita bahkan berjanji untuk menikah.” Arsen tertawa geli.


“Dan sekarang kamu berhasil menikahiku karena janji seorang bocah?" Aku menatap mata Arsen.


“Sebenarnya bukan karena itu,setelah kecelakaan dan kamu koma. Bapak mengirimku ke desa, karena semua orang di rumah papa sibuk dengan kamu," kata Arsen.


“Oh ya, terus sejak kapan kamu kembali ke kota, kenapa nggak kembali ke rumah Papa sama Pak Aji?” tanyaku benar-benar penasaran.


“Waktu itu, pernah satu tahun setelah kamu kecelakaan kita bertemu, tapi ternyata itu membuatmu mengalami sakit kepala hebat dan histeris memanggil mama kamu, jadi karena itu bapak melarang aku untuk ketemu kamu lagi.”


Aku mencoba berpikir, apa separah itu keadaanku? 


“Tapi saat kita ketemu di kafe tempat kamu kerja, aku nggak kenapa-napa


“Kamu kan udah gede, wajah aku juga udah berubah kan?”


“Em, bisa jadi.”

__ADS_1


“Setelah ketemu kamu di kafe, Papa kamu nyari aku, dan minta aku buat nikahin kamu. Suatu kebetulan yang sangat kebetulan kan?”


“Karena janji itu kamu nikahin aku dan mutusin Yumna?”


Arsen mengangguk, “Ya, memang saat itu aku pacaran dua tahun sama Yumna, karena aku merasa nggak mungkin bisa mendapatkan kamu, jadi aku memilih mundur.”


“Tapi takdir tetap membawamu kembali ke aku.”


“Ya, benar. Setelah bertemu kamu, perasaanku yang harus aku kubur dalam-dalam, tiba-tiba kembali aku rasakan lagi. Kamu selalu menempati ruang di hati aku.” Arsen kembali tersenyum padaku


“Tapi yang aku nggak habis pikir, dari sekian banyak laki-laki kenapa Papa pilih kamu?”


🌹🌹🌹


...Karena Papa dapat bisikan dari Othor buat buat milih Bang Arsen buat kamu, kurang baik apa coba?...


Nah, Othor mulai munculin perlahan ya konfliknya. Jangan pada protes!


Oh, ya. Aku hari ini up 1 bab aja lah. Kemarin 70 sama 71 barengan tapi yang 70 terabaikan 😭😭


Udah 1 aja, Othor baperan.


Kasih vote dulu biar nggak baper.


Ini udah hari Senin, pasti dapat vote. Yuk mana Votenya.


Vote buat Othor, Kembang buat Kimmy, sama Kopi buat Bang Arsen.


Kasih tiga-tiganya juga lebih seneng.


Yaudah, sekarang ritual j****ejak dulu, Like, Komen, Hadiah, Votenya.


Sampai ketemu lagi 👋👋👋 kalau mood Othor bagus 😄😄😄

__ADS_1


__ADS_2