
“Selamat Ulang Tahun Sayang,” ucapku saat alarm yang aku atur tepat pukul 00.00 berbunyi, tepat saat itu juga Arsen baru saja merebahkan tubuhnya di atasku setelah menyiramkan benihnya di rahimku.
“Hah, jam berapa sekarang?” Arsen meraih ponselku yang masih berbunyi, tanpa melepas penyatuan kami.
Lalu ia kembali menatapku, tersenyum lebar, dan bertanya, “Memangnya ini hari ulang tahunku?”
Tentu saja aku mengerutkan alis, berpikir sejenak. Benar kan ini ulang tahunnya, aku udah mengecek tanggal di ponselku tadi.
“Iya kan, ini memang ulang tahunmu. Kata Nana juga hari ini kok,” jawabku pelan-pelan.
Arsen terkekeh, ia mengusap rambutku dengan satu tangan, lalu menciumi leherku dan meninggalkan bekas-bekas kemerahan di sana.
“Kamu pasti dikasih tahu Nana kan, kalau nggak dikasih tahu pasti lupa. Tapi terima kasih karena kamu yang pertama memberikan ucapan sekaligus hadia terindah ini,” kata Arsen yang kini kembali menatapku.
Aku membelai wajahnya, yang membuat Arsen memejamkan mata, membuatku tidak tahan dan mencium bibirnya. Aku bisa merasakan milik Arsen yang masih terbenam di bagian inti tubuhku kembali menegang. Otot-otot wanita di bawah sana kembali mencengkram lolipopnya.
“Kamu mau hadiah apa?” tanyaku setelah melepaskan bibirnya.
“Aku suka apapun yang kamu lakukan, karena kamu adalah hadiah terindah untukku.”
Setelah itu yang terjadi adalah kegiatan indah yang selalu mewarnai malam-malam kami. Mungkin suatu hari nanti kami akan merasa bosan, tapi aku tidak peduli, yang terpenting saat ini aku dan Arsen menikmati hasrat yang selalu membakar jiwa kami. Gairah yang selalu membawa kami terbang ke surga bersama-sama.
*
*
*
Aku terbangun di pagi yang masih remang. Bukan karena mual, tapi karena aku lapar. Namun, ada yang berbeda dengan pagi ini, tangan kekar yang biasa melingkar di perutku sekarang entah ada di mana.
__ADS_1
Aku duduk bersandar di sandaran ranjang sambil menutup tubuhku dengan selimut tebal.
Jam di ponselku masih menunjukkan pukul 04.45, masih sangat pagi untuk bangun, apalagi aku baru tertidur sekitar empat jam, rasanya masih sangat mengantuk.
Bunyi keroncongan kembali terdengar, yang akhirnya membuatku beranjak dari kasur, memungut pakaian dan segera ke kamar mandi.
Baru beberapa langkah menuju kamar mandi, aku teringat sesuatu.
Bukankah ini saat yang tepat untuk mengambil tes kehamilan?
Aku berputar badan dan mencari alat tes kehamilan yang masih berada di kantong plastik minimarket kemarin.
“Sayang, kamu udah bangun?” tanya Arsen.
Aku menoleh padanya yang ternyata baru keluar dari kamar mandi. Lalu aku menghampiri Arsen dengan membawa satu alat kehamilan yang kusembunyikan di belakang punggungku.
“Ya, baiklah, tapi kenapa wajah kamu tegang begitu, Sayang?” tanya Arsen yang menyentuh wajahku.
“Aku lapar, aku sakit perut juga, cepet pesenkan makan!” perintahku lalu berlalu ke kamar mandi, tanpa memperlihatkan alat tes itu pada Arsen.
Aku berdebar debar membuka bungkus alat kehamilan ini, lalu aku segera menampung air seni ke dalam cawan yang sudah tersedia di dalam paket alat ini.
Aku mengikuti petunjuk demi petunjuk yang ada di kemasan alat tes berwarna biru ini, lalu aku memejamkan mata sambil menghitung waktu tiga menit yang dianjurkan, untuk menunggu hasilnya.
“Sayang, sayang, kamu nggak sekalian tes?” Arsen mengetuk pintu kamar mandi berulang kali, membuatku semakin gugup saja.
Ya Tuhan, semoga saja hasilnya positif. Aku tidak sanggup melihat ekspresi Arsen yang tersenyum menahan kecewanya kalau sampai hasilnya negatif.
“Sayang, kamu dengar aku?” teriak Arsen yang kembali mengetuk pintu kamar mandi.
__ADS_1
“Iya, nanti saja, aku belum pipis kok,” jawabku yang berbohong.
Konsentrasiku menghitung akhirnya buyar karena teriakan Arsen. Bodoh! Kenapa tadi tidak bawa ponsel saja?
Akhirnya aku membuka mata karena bingung harus bagaimana.
Lalu, dengan hati-hati aku mengambil alat yang aku letakkan di atas cawan, tanganku sampai bergetar saking gugupnya.
Hasil yang aku nantikan telah keluar, tanda garis itu sudah terlihat, dan aku langsung keluar kamar mandi untuk mencari Arsen.
Ia sedang menelpon room service untuk memesan makanan. Aku langsung memeluknya dan menunjukkan hasil dari tes itu.
"Ini beneran?" tanya Arsen yang langsung menutup teleponnya.
Aku mengangguk, dan masih memeluknya dari belakang.
Arsen merebut alat tes itu dari tanganku.
"Kita cek lagi ya?"
♥️♥️♥️
...Ngapa dicek lagi sih Bang. Oh iya, kan belinya 5 biji 😂😂😂...
Ada yang nungguin? Mon maap, othor kelamaan main di ig sama sama utub, liatin penyemangat Othor yang susah banget dipeluknya 🤣🤣🤣
Jangan lupa ritualnya, like, komen, hadiah, vote
Sampai ketemu lagi 😘😘
__ADS_1