Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
Menikah


__ADS_3

❤❤


Selamat membaca


❤❤🌸


Sebenarnya Alena pernah menyukai Ammar. Dulu sekali. Tapi karena perbedaan keyakinan, perasaan itu dibiarkan menguap begitu saja. Tiga tahun lalu ia menikah dengan seorang duda, pengusaha batik yang sukses dari pekalongan. Alena menjadi mualaf mengikuti suaminya. Biarpun sudah menjadi muslimah, Alena belum siap untuk mengenakan hijab. Walau keinginan itu sudah ada dalam hatinya.


Ammar tidak tahu soal keyakinan Alena sekarang. Yang ia tahu Alena sudah berkeluarga. Alena juga tak pernah bercerita mengenai agama barunya. Bagi sebagian besar orang keyakinan itu ranah privasi. Begitu juga Alena.


“Kamu pengen pernikahan seperti apa, Ki?” tanya Ammar pada gadis anggun yang duduk di sampingnya.


“Terserah Abang saja,” jawab Kirana tanpa berpikir panjang. Ia tidak ingin merepotkan dengan berbagai permintaan yang memberatkan Ammar. Begitulah Ki. Tidak hanya fisiknya yang cantik, tapi hatinya juga melengkapi kesempurnaan kecantikannya. Itu yang membuat Ammar semakin meleleh dan ingin cepat menghalalinya.


Sebenarnya Ammar ingin konsep pernikahan ala timur tengah. Sudah lama sekali ia mengidam-idamkan pernikahan seperti itu. Berkali-kali ia menghadiri undangan pernikahan saudara dan teman-temannya yang bernuansa arab. Pernikahan seperti itulah yang ia inginkan. Tapi... Ammar merenung lagi. Ibunya berasal dari jawa asli. Tentu ia juga ingin melihat anaknya menikah memakai blankon seperti raja-raja jawa. Ada keris yang diselipkan di belakang. Memakai selop bludru warna hitam. Bersanding dengan mempelai perempuan yang memakai gaun beludru hitam. Pakai sanggul berhiaskan melati. Pernah suatu ketika ibunya berandai-andai. Kala itu Ammar hanya diam tak mengiyakan. Ibunya tak tahu apa yang Ammar pikirkan. Karena memang Ammar tak pernah menyampaikan. Ia takut menyakiti hati ibundanya. Ammar sadar perbedaan seperti ini tak mudah disatukan. Seandainya Ammar menginginkan pernikahan ala Arab, secara tidak langsung ia sudah mengecewakan ibunya.


Di samping itu keluarga Pak Faisol juga sama, tulen jawanya. Biarpun mereka hanya orang tua angkat Kirana. Tapi merekalah yang membesarkan Kirana hingga sekarang. Pasti keinginannya tak jauh beda dengan ibunya.


Beda halnya dengan keluarga besar dari pihak ayahnya. Ammar tahu pernikahan seperti apa yang mereka inginkan.


Kalau Ki sendiri..Ia tipe gadis yang tak banyak keinginan. Ammar sudah tahu apa jawaban Ki kalau dirinya menanyakan itu. Paling juga bilang, terserah abang. Sebenarnya Ammar bisa saja memutuskan itu. Keluarganya pasti tidak keberatan. Begitu halnya dengan keluarga Pak Faisol. Namun, alangkah tidak bijak jika ia tak mau tahu perbedaan itu. Ammar ingin pernikahan ini sebagai penyatuan dua keluarga dengan budaya yang berbeda. Tidak kearab-araban juga tidak kejawa-jawaan. lebih baik netral tidak condong ke salah satunya.


“Bagaimana kalau konsep islam saja?” Rasanya itu lebih adil menurut Ammar.


“Iya, Bang. Ki setuju.” Ammar senang dengan jawaban Kirana. Gadis yang amat penurut dan santun. Bagaimana Pak Faisol dan istrinya mendidik Ki sehingga menjadi anak yang baik seperti ini. Ammar merasa beruntung. Tidak banyak stock gadis seperti dia di jaman sekarang. Itulah alasan Ammar ingin mempercepat pernikahannya.


Setelah berdiskusi dengan Kirana, Ammar menyampaikan keinginannya itu pada Alena, yang sedari tadi duduk sambil mengamati gerak-gerik mereka. Wanita yang kerap tampil modis dengan rambut tergerai sebahu itu merespon dengan antusias. Bak seorang konsultan, Alena langsung memberikan pandangan bla..bla. Ammar tak terlalu suka mendengarkan penjelasan Alena panjang lebar. Selain bertele-tele itu juga hanya sekedar seremonial yang tak terlalu penting bagi Ammar. Lagian waktunya kini tidak banyak. Ada beberapa urusan penting lainnya yang harus diseleseikan.


“Lu aturlah gimana bagusnya. Kan lu lebih paham”


Alena juga menawarkan pada Ammar, EO milik temannya yang reputasinya tidak diragukan. Tanpa berfikir panjang, Ammar mengiyakan. Sebenarnya Ammar sudah memikirkan itu sebelum datang ke butik Alena. Menyerahkan paket acara pada EO tentu lebih enak, tidak repot juga. Cocok untuk orang seperti Ammmar. Namun demi membatalkan sebuah janji yang pernah diucapkan saat reuni beberapa tahun silam, dimana Alena meminta Ammar ketika menikah memakai baju pengantin darinya, makanya Ammar datang. Bagaimana pun janji itu hutang. Ammar datang untuk menepati janjinya.


“Hutang gue lunas ya?”


“Hutang? Apa sih? Alena melotot sambil mencoba mengingat-ngingat. Alena sudah tidak mampu mengingat apa yang dimaksud Ammar.


“Hadeuh. PDI Lu. Inget waktu reuni dulu ngomong apa?”


“Sumpah..gak inget apa-apa? ngomong apa ya gue?” Alena sambil tepok jidat.


“Dah lupain..yang penting gue sudah nepati janji. Mana no EO nya.” pinta Ammar.


“Ntar gue inget-inget. Ngomong apa ya,” gumam Alena. Tangannya lincah mencari nomor hape EO di kontak hapenya. Kemudian dia mengirim no itu ke Ammar.


“Namanya, Naura. Apa gue telponin dulu ya. Ntar atur dah ketemuannya."


“Okey,” sahut Ammar.


Tak lama kemudian, terjadi percakapan antara Alena dan Naura di ujung telpon. Ammar melangkah mendekati Kirana yang sedang melihat-lihat koleksi gaun di manuqien.

__ADS_1


“Mar, mau ketemuan dimana? tanya Alena setengah berteriak karena jarak mereka agak berjauhan.


Ammar menjawab dengan menyebutkan salah satu rumah makan di jalan HR. Muhammad. Sengaja Ammar memilih tempat itu karena searah jalan pulang. Jadi tidak ada waktu yang terbuang.


“Sudah tak wa ke Naura,” kata Alena.


Setelah itu Ammar dan Kirana pamit pulang. Alena mengantar sampai depan pintu. Saat itulah dia baru ingat apa yang dikatakan pada Ammar saat reuni dulu.


“Gue inget dah. itu bencanda kali.” Alena bicara sambil nyengir menunggu reaksi Ammar.


“Apa perlu dibatalin?” sahut Ammar dengan maksud becanda.


“Yee..uang dah masuk rekening gak bisa dicancel.”


Ki hanya mendengarkan di samping Ammar. Mereka berjalan menuju parkiran. Sebenarnya ia tak terlalu suka melihat keakraban Ammar dan Alena. Hatinya tiba-tiba memanas. Rasanya ingin protes. Tapi ?


🌻🌻


Tiga puluh menit kemudian Ammar dan Kirana sudah sampai di restoran yang terletak di jalan protokol Surabaya.


“Kita makan dulu ya. Abang laper belum sarapan,” kata Ammar sambil memegang perutnya.


“Iya Bang. Tadi sebenarnya di rumah Ibu dan Ki sudah menyiapkan makanan. Tapi Abang buru-buru ngajak keluar.” jawab Ki merasa tak enak karena tidak menjamu tamunya di rumah sampai kelaparan.


“Ohya? Kenapa Ki gak bilang. Kan Abang pengen makan masakan Ki. Pasti enak kan?” goda Ammar.


Ki hanya tersipu tidak menanggapi. Wajahnya langsung merah merona. Ammar semakin gemas. Ki mencoba menata hatinya yang mulai dag dig dug.


“Ki sukanya apa?” tanya Ammar sambil mengamati menu yang disodorkan pelayan.


“Samain punya Abang aja.” jawab Kirana cepat biar tidak repot memilih menu. Lagian gadis cantik ini juga tidak pernah makan di tempat seperti ini. Melihat nama menunya saja ia tidak paham makanan model apa.


Pelayan berbaju serba hitam dengan rok selutut itu berlalu. Ki mengedarkan pandangan. Beberapa meja sudah terisi. Sementara yang lain terlihat kosong. Jam makan siang masih dua jam lagi. Chef sedang menyiapkan makanan. Kesibukan tampak di ruang kitchen.


Naura belum juga nampak. Mungkin terjebak macet. Sambil menunggu menu yang mereka pesan, Ammar menghubungi teman kuliahnya-Ahmad Zaini yang saat ini menjadi kepala KUA. Sebelumnya Ammar sudah menghubungi Zain terkait rencana pernikahannya yang akan dilangsungkan bulan depan. Perubahan yang sangat mendadak membuat Zain kaget bukan kepalang. Tapi lama bersahabat dengan Ammar, Zain tahu betul watak Ammar yang terbiasa mengambil keputusan tidak terduga. Bahkan terkesan absurd. Akhirnya Zain bersedia membantu Ammar, setelah Ammar memohon berkali-kali. Itu membuat Ammar lega. Urusan KUA merupakan yang paling penting bagi Ammar, kalau yang lainnya itu mudah. Ammar tidak terlalu memusingkan.


Kemudian Ammar menghubungi Son untuk menanyakan persiapan pernikahannya hari ini. Di ujung telpon Son mendengarkan instruksi Ammar. Rencana akad dan resepsi akan dilaksanakan di sebuah hotel. Son mencari referensi hotel yang cocok untuk acara ini. Dengan cepat Son mengatur ha-hal yang bersifat teknis. Kemampuan kerja Son tak diragukan Ammar. Awalnya Ammar menginginkan akad nikah di masjid saja, baru resepsi dilaksanakan di hotel. Tapi Son memberikan berbagai macam pertimbangan yang menurut Ammar cukup masuk akal. Lebih baik dua acara penting itu dilaksanakan di satu tempat biar tidak riwa-riwi. Tak lupa Ammar berpesan pada Son, untuk membooking beberapa kamar untuk kerabatnya selain kamar pengantin. Kirana mendengarkan percakapan calon suaminya itu. Diam-diam, Kirana mengagumi Ammar yang mampu menghandle semua dengan cepat. Sepertinya ia juga sangat mempercayai Son dalam banyak hal.


Pelayan sudah datang membawa makanan yang mereka pesan. Ammar memesan agak banyak. Sebentar lagi Naura-owner EO dan suaminya akan datang. Ammar ingin mengajak mereka sekalian makan.


“Ki, ayo makan!”


“Iya Bang. Tapi.. kenapa banyak begini pesannya. Kalau gak habis kan mubadzir Bang.”


Ki tidak tahu dengan rencana Ammar.


“Makanya harus dihabiskan biar gak mubadzir, Ki.” jawab Ammar kalem.


Ki terpaku melihat makanan yang tersaji. Menurutnya ini amat berlebihan. Kalau tidak habis bagaimana? Apa bisa dibawa pulang buat Ibu Bapaknya di rumah? Tentu mereka sangat senang. Tiba-tiba Ki ingat kedua orang yang sangat berjasa dalam hidupnya itu. Tapi, bukankah itu sangat memalukan. Biarpun ia miskin tapi tidak mau kelihatan rakus dengan makanan.

__ADS_1


“Ki gak sanggup, Bang kalau segini banyak.”


Wajah Kirana terlihat mengiba. Meminta sedikit pengertian Ammar. Tapi Ammar pura-pura cuek sambil memasukkan suapan ke dalam mulutnya.


“Abang gak mau tahu, pokoknya harus dihabiskan.” goda Ammar sambil melirik gadis yang duduk di sampingnya. Puas ia bisa mengerjai Ki. Sementara Kirana sedikit kesal dengan ulah Ammar.


Beberapa menit kemudian Naura sudah datang dan langsung menghampiri mereka. Ia datang bersama suaminya-Khafid. Mereka saling memperkenalkan diri.


“Ayo silahkan makan dulu Bu Naura, Pak Khafid! Habis itu baru kita ngobrolnya.” Ammar mempersilahkan kedua tamunya untuk makan bersama.


“Wah, jadi ngrepotin nih, kita datang langsung makan,” kata Naura dan suaminya.


“Rejeki pantang di tolak. Silahkan..silahkan!.” ajak Ammar.


Mereka berempat makan bersama. Setelah itu mereka terlibat dalam pembicaraan untuk mematangkan acara yang hanya menunggu hitungan jam. Karena sudah terbiasa menangani proyek wedding baik sederhana maupun mewah ala artis dan pejabat membuat Naura memiliki banyak referensi. Namun bagi bos EO ini, acara kali ini yang paling kilat. Oleh sebab itu ia harus gercep. Biarpun sangat instan, Naura tidak ingin mengecewakan kliennya. Ia tetap berusaha memberikan pelayanan maksimal dan terbaik.


Ammar dan Ki telah berada dalam mobil. Ki duduk di sebelah Ammar. Seperti biasa pandangannya ke samping arah jendela. Sebenarnya Ki tidak nyaman berduaan seperti ini dengan laki-laki yang bukan muhrim. Tapi ya sudah. Toh sebentar lagi Ammar akan menjadi suaminya. Mereka dalam perjalanan pulang ke rumah Kirana. Tiba-tiba Ammar ingat belum memikirkan mahar untuk Ki. Bagaimana mungkin Ammar bisa kelupaan, padahal ini hal yang amat penting.


“Ki..maaf Abang lupa. Kamu pengen mahar apa? tanya Ammar sambil menoleh pada gadis yang duduk di sampingnya.


“Terserah Abang saja.” Ki menarik wajah hingga lurus ke depan, tanpa sedikit pun menoleh pada Ammar.


“Kok terserah sih.”


“Apa saja asal tidak memberatkan Abang.” sahut gadis itu.


“Tapi Abang kasi bocoran dikitlah, Ki itu sukanya apa? biar Abang gak bingung. Abang takut nanti Ki tidak suka.” goda Ammar sambil sesekali melirik. Sayangnya Ki tak tergoda untuk membalas lirikan Ammar.


“Kan Ki sudah bilang. Apa saja terserah Abang. Inshallah apapun pemberian Abang, Ki su-ka,” ujar gadis itu lirih, namun Ammar bisa mendengar dengan jelas. Ammar begitu bahagia mendengar jawaban tulus dari Ki. Ah rasanya semakin besar saja rasa cintanya pada Kirana. Ammar sudah tidak sabar menunggu akad tiba.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah Ki. Pak Faisol dan istrinya tampak menyambut mereka di depan pintu. Ammar berpesan pada Ki bahwa nanti ada sopir yang jemput mereka ke hotel.


Sementara itu Son terlihat sibuk dengan hapenya. Beberapa kali ia terlibat pembicaaran serius dengan seseorang diujung telpon. Kali ini ia tidak mengerjakan pekerjaan kantor. Karena harus berkonstrasi dengan acara Ammar.


🌸🌸


Akad nikah akan segera dimulai. Keluarga dari kedua belah pihak sudah berkumpul. Ammar di walikan oleh ayahandanya, Sementara Kirana dengan wali hakim karena Pak Faisol bukan orang tua kandung. Ammar sedikit gugup tapi ia berusaha tenang. Hanya butuh satu tarikan nafas, Ammar dapat mengucapkan ijab kabul dengan lancar.


“Alhamdulillah.”


Ucap syukur menggema seisi ruangan menandai seleseinya prosesi penting ini. Ammar dan Kirana telah sah menjadi suami istri. Pak Faisol dan istrinya sangat terharu. Bahagia bercampur sedih. Sebentar lagi ia akan kehilangan putri angkatnya ini karena akan dibawa suaminya. Membayangkan hari-hari tanpa Kirana, mereka pasti merasa sangat kesepihan dan kehilangan. Berkali-kali kedua orang ini mengelap pipinya yang basah.


Ibunya membimbing Ki. Kini Kirana sudah duduk di samping Ammar. Mencium tangan laki-laki yang kini menjadi suaminya penuh takzim. Kemudian Ammar mencium kening. Dada Ammar bergetar. Matanya begitu takjub melihat Kirana yang begitu cantik bersinar. Kalau saja tidak ingat begitu banyak mata memandang, pasti Ammar sudah…Ah begitulah.


Sementara itu ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan dari jauh. Wajahnya beku dengan ekspresi yang tak seharusnya. Ia meraba dadanya. Apa yang ia rasakan? Marah? Benci ? hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.


❤❤


NB: PDI (penurunan daya ingat)

__ADS_1


Tinggalkan krisan..biar lebih semangat ngetiknya


❤❤


__ADS_2