Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 22


__ADS_3

Arsen masih terus memukuli wajah Pak Kaisar dengan membabi buta. Aku belum pernah melihat Arsen semarah ini sebelumnya. Entah karena Pak Kaisar atau mungkin karena Pak Raffi, emosi Arsen menjadi tak terkendali.


Kemudian, dua orang petugas keamanan datang untuk memisahkan mereka berdua. Satu orang menahan tubuh Arsen, satu lagi menahan tubuh Pak Kaisar.


"Jangan pernah mengganggu istriku lagi. Kalau kamu masih punya harga diri, lebih baik kamu cari wanita yang tidak punya suami," kata Arsen dengan mata yang menyorotkan kebencian.


"Dengar ya, aku tidak berniat mengganggu, aku hanya tidak terima kamu bersikap kasar sama dia." Pak Kaisar yang masih ditahan oleh petugas keamanan terus saja meronta.


"Stop! Stop! Stop!" Aku mengangkat sepuluh jariku dan menggerakkannya di hadapan mereka. "Pak Kaisar, hari ini saya sudah menyelesaikan magang saya di perusahaan Guna Cipta Group, saya harap setelah ini kita tidak akan bertemu lagi," kataku dengan tegas pada Pak Kaisar. "Ayo, kita pulang! Pak tolong lepaskan suami saya!" Petugas keamanan lalu melepaskan Arsen, dan aku langsung meraih tangannya.


"Ada apa ini?" Pak Raffi berjalan menghampiri kami.


"Mereka berdua membuat keributan, Pak," kata petugas keamanan yang memegang Pak Kaisar.


"Kenapa?" Pak Raffi memperhatikan wajah Pak Kaisar dan Arsen secara bergantian. "Ayo ikut saya, kita selesaikan dengan bicara baik-baik," kata Pak Raffi, lalu dua petugas keamanan menyetujui dan meminta kami semua untuk ikut bersama Pak Raffi ke salah satu kamar di hotel ini.


Akhirnya kami sampai di kamar Pak Raffi, lalu dua petugas keamanan itu meninggalkan kami atas perintah Pak Raffi.


"Jadi, kenapa kalian bertengkar?" tanya Pak Raffi yang kemudian memberikan minuman kepada Arsen dan Pak Kaisar.


Kami semua duduk di ruang tamu yang ada di kamar hotel ini, aku duduk bersebelahan dengan Arsen, dan Pak Kaisar ada di hadapan kami, sedangkan Pak Raffi duduk di sofa single.


"Dia mengganggu istri saya," kata Arsen yang mengalami memar di wajahnya.

__ADS_1


"Kamu kasar sama dia," sahut Pak Kaisar tidak terima. Wajahnya sudah babak belur karena dihajar Arsen.


"Memangnya kamu tahu apa? Urusan kamu apa mencampuri rumah tangga orang?" tanya Arsen yang kembali tersulut emosi, ia hampir saja berdiri kalau aku tidak menahannya sekuat tenaga.


"Karena aku cinta sama dia," jawab Pak Kaisar dengan tidak tahu malunya.


"Oke, oke, oke. Tenang dulu!" kata Pak Raffi yang mengangkat kedua tangannya, memberi isyarat pada Arsen dan Pak Kaisar untuk berhenti berdebat. "Jadi, Nak Kaisar suka sama Kimmora?" tanya Pak Raffi pada Pak Kaisar.


"Iya, Pak. Saya juga nggak bisa memilih kepada siapa saya jatuh cinta. Apa saya salah?" Pak Kaisar membela diri dengan alasan cinta.


Arsen sudah mere*mas lututnya mendengar jawaban Pak Kaisar yang pasti membuatnya marah.


"Emm, memang tidak salah, hati memang tidak bisa diatur untuk mencintai siapa, tapi mencampuri urusan rumah tangga orang lain itu salah!" kata Pak Raffi menasehati Pak Kaisar.


"Tapi saya kasihan melihat tangan Kimmora ditarik paksa sama dia." Pak Kaisar kembali membela diri.


Jelas saja aku akan membela Arsen, walaupun memang tadi Arsen menarik tanganku karena buru-buru, tapi aku yakin, Arsen tidak bermaksud untuk bersikap kasar padaku.


"Tidak! Pak Kaisar hanya salah paham," jawabku.


"Nah kan! Lebih baik, tidak usahlah ikut campur masalah rumah tangga orang lain, karena kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."


Pak Kaisar mengangguk, semoga saja ia benar-benar menerima kenyataan kali ini.

__ADS_1


"Sekarang berbaikanlah! Saling memaafkan dan jangan saling dendam!" kata Pak Raffi menatap Arsen dan Pak Kaisar.


"Maafkan aku." Pak Kaisar berdiri dan mengulurkan tangannya di hadapan Arsen.


Arsen menerima uluran tangan itu dan berkata, "Janji, jangan mengganggu istriku lagi."


"Iya, aku janji."


Akhirnya, masalah selesai, dan Pak Kaisar berpamitan ingin mengobati luka-lukanya. Aku dan Arsen juga berpamitan untuk pulang.


"Tunggu, Pak Raffandra, bisa kita bicara sebentar," kata Pak Raffi saat kami baru saja mengatakan akan pergi.


"Ada apa Pak Raffi?"


"Jujur, saat saya dan mendiang Aliya bercerai, saya tidak tahu kalau dia sedang hamil, karena saya tidak bisa mendapatkan kabar apapun tentang dia. Jadi, bagaimana perasaan kamu kalau ternyata kamu adalah anak saya?"


🌹🌹🌹


Up 2 bab ya aku gaess.


Sini sini vote yang masih nganggur.


Aku slow update karena aku juga punya kehidupan nyata ya gengss πŸ₯°πŸ₯°

__ADS_1


Terima kasih untuk suport kalian selama ini. I LOVE YOU ALL, sekebon anggur πŸ₯³πŸ₯³πŸ₯³πŸ₯³


Sampai ketemu lagi 😘😘😘


__ADS_2