Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 51


__ADS_3

Setelah selesai makan rujak, aku dan Arsen bersantai sebentar di ruangannya. Kebetulan Arsen sedang tidak banyak pekerjaan hari ini.


Arsen baru saja menelpon papanya, mengatakan bahwa kami akan berkunjung ke rumah mereka hari ini. Tentu saja, Arsen juga mengatakan bahwa aku ingin makan roti bolu buatan mama mertua.


“Papa akan telpon mama, kamu mau kita ke sana sekarang?” tanya Arsen.


“Terserah kamu deh, gimana enaknya aja,” jawabku.


“Ya udah aku ke ruangan Kak Darren bentar ya.” Arsen mengambil flashdisk lalu keluar ruangannya setelah aku mengangguk setuju.


Tak lama, Arsen kembali dan kami segera berangkat ke rumah Papa Raffi.


Dalam perjalanan ke rumah mertua, kami menyempatkan untuk membeli oleh-oleh yang akan kami bawa untuk mereka. Tidak banyak yang kami bawa, hanya buah-buahan dan keik.


Kebetulan dari kantor ke rumah mertua melewati rumah baru yang akan kami tempati beberapa hari lagi. Jadi, Arsen memutuskan untuk mengajakku mampir sebentar.


Rumah kami sudah rampung, beberapa perabotan juga sudah dikirim dan dipasang sesuai keinginanku. Walaupun tidak semewah rumah Papa, tapi ada rasa bahagia dan bangga tersendiri, karena kami telah memiliki rumah impian kami sendiri.


Di rumah baru kami, ada orang yang ditugaskan untuk menjaga dan mengawasi rumah selama proses pembangunan sampai saat ini, dan orang itu juga yang menjadi tukang kebun di rumah baru kami ini, namanya Pak Joko.


Aku sudah tidak sabar menempati rumah ini, membayangkan anak-anakku dan Arsen akan berlarian di dalam rumah sambil berteriak-teriak, pasti sangat menyenangkan. Sebentar lagi kamu akan berlari di sana kan Baby.


"Kita perlu menambah apa ya di sini biar nggak kelihatan kosong?" tanya Arsen yang meminta pendapatku saat kami berada di ruang tengah.


"Nggak usah ditambah apa-apa, aku mau buat arena bermain anak di sini. Jadi, aku bisa masak sambil awasin dia, tapi kayaknya nanti kita harus pasang pagar di pintu deh, bahaya kalau dia udah merangkak atau jalan." Aku menunjuk pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan halaman samping yang berupa taman dan kolam renang.


Arsen mengangguk setuju.

__ADS_1


"Boleh deh, sementara biar gini dulu, nanti kalau dia udah mulai aktif baru kita pasang pembatas," kata Arsen.


Lalu, kami berjalan menuju halaman belakang dan melihat bagaimana keadaannya. Ternyata, semuanya sudah selesai juga, sudah rapi dan bersih, lengkap dengan tanaman yang sudah ditanam dan tumbuh dengan baik.


"Masih kecil-kecil ya pohonnya." Aku menunjuk tanaman buah seperti alpukat, rambutan, mangga dan juga jambu air yang mungkin tingginya baru satu meteran.


"Ya iya lah sayang, kalau besar repot menanamnya. Katanya sih yang alpukat itu tiga tahun aja udah berbuah sayang," kata Arsen yang kemudian berjongkok di depan perutku. "Nanti kalau kamu udah bisa jalan, pohonnya udah berbuah, kamu pasti memanjat pohonnya, kan? Nanti Daddy akan ajari kamu memanjat." Arsen memeluk perutku lalu menciumnya bertubi-tubi.


"Dia belum lahir kamu udah ajarin yang enggak-enggak, kalau dia cewek gimana?" tanyaku sambil menjambak pelan rambut Arsen.


"Sakit, Mom." Arsen mendongak dan menatapku dengan ekspresi minta dikasihani. "Aku yakin dia cowok, iya kan Baby," kata Arsen yang kembali mencium perutku.


"Iya deh iya." Aku mengalah, karena sebenarnya hatiku sendiri juga meyakini kalau bayi kecil yang ada dalam rahimku ini laki-laki. Akan tetapi, kami akan menerimanya dengan bahagia, karena dialah buah cinta kami.


Saat ini, aku dan Arsen sudah sampai di rumah mertuaku. Kami disambut hangat oleh kakek dan orang tua Arsen. Mama mertua bahkan memeluk dan mencium keningku saat baru datang tadi.


"Mama udah bikinin kuenya, masih dikukus tunggu biar matang dulu," kata mama mertua.


"Makasih ya, Ma. Maaf merepotkan," ucap ku merasa tidak enak hati.


"Nggak repot kok, cuma tadi harus beli pisangnya dulu, tapi nggak masalah nyarinya nggak susah." Mama mertua menggenggam tanganku dan menepuknya dengan pelan.


"Sebenarnya, aku mau belikan di toko kue tadi, tapi yang Kimmy mau kue buatan Mama, jadi ya aku terpaksa merepotkan Mama," kata Arsen.


"Iya, nggak apa-apa kok, mama malah senang kalau Kimmora suka masakan mama," kata mama mertua.


"Suka kok Ma. Suka banget," jawabku malu-malu.

__ADS_1


"Kata Oma, kalau orang hamil suka minta yang aneh-aneh. Kalau nggak dituruti nanti ileran, aku cuma nggak mau anakku ileran, Ma." Arsen senyum-senyum.


Sebenarnya, suasananya sangat canggung. Kami baru berkumpul beberapa waktu yang lalu, dan sekarang sudah merepotkan mereka begini.


"Jadi, Kimmora hamil?" Papa Raffi antusias.


"Benarkah? Kakek akan punya cicit?"


Arsen mengangguk malu-malu.


"Selamat ya, Sayang." Mama mertua memelukku.


"Anak Papa emang hebat." Papa Raffi menepuk pundak Arsen dengan bangga.


Kenapa para laki-laki selalu begitu? Saat tahu aku hamil, Papa juga terlihat bangga pada Arsen. Padahal yang hamil kan aku, kenapa mereka bangganya sama Arsen?


♥️♥️♥️


Nah, kira-kira kenapa ya gaes? Ada persekongkolan apa di balik itu semua? 🤣🤣🤣


Sabar ya Kim, kamu tetap yang paling berjasa kok ♥️♥️


Selamat siang. Hari ini aku akan kasih info give away gaess.


tungguin ya.


sampai ketemu lagi 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2