
Rasa nyeri di lenganku sudah tidak terlalu parah, dan aku memutuskan untuk tetap kuliah. Usai kelas pertamaku di kampus, aku memilih pergi ke perpustakaan kampus untuk menyusun tugas.
Aku berjalan sambil berkirim pesan dengan Arsen, ia masih ada di area kampus saat ini, dan aku mengajaknya bertemu di perpustakaan supaya bisa berduaan sekaligus membantu tugasku.
“Kimmy! Wait!” Panggilan dari suara yang tidak begitu akrab itu memaksaku untuk menoleh.
“Kamu?”
“Aku perlu waktumu lima menit!” jelasnya dengan napas terengah-engah.
Aku mengernyit heran, aku ingat dia adalah Sam, salah satu teman yang akrab dengan Kenneth.
“Sam, satu angkatan sama kamu!” lanjutnya.
“Iya, kenapa?” tanyaku tanpa basa basi.
“Mau jelasin kejadian kemarin lusa. Soal si Kenneth.”
Cowok itu lagi? Hah, aku sudah cukup muak mendengar namanya. Kemarin saja dia begitu angkuhnya seakan tak mengenalku.
“Lupakan!” jawabku ketus dan pergi meninggalkan Sam.
“Yang kamu lihat dan dengar belum tentu sesuai dengan yang sebenarnya!” serunya sedikit lantang. Mendengar itu membuat jiwa kepoku meronta.
“Apa maksudmu?”
“Yang dimaksud Kennt saat itu bukan kamu! Saat itu aku sedang membahas kriteria wanita yang dia suka. Kebetulan aja ada kamu yang lewat!”
Jadi, aku salah paham begitu?
Tunggu Kimmora, kamu tidak boleh terpengaruh begitu saja. Siapa tahu Kenneth menyuruh Sam untuk mendekatiku.
“Dari mana kamu tau kalau yang dia maksud bukan aku?” tanyaku tak ingin percaya begitu saja.
“Oh ayolah! Kamu terlalu percaya diri, Kimmora. Dia sama sekali nggak tertarik dengan mahasiswa di sini. Kalaupun dia tertarik sama kamu, dia pasti bakal cari kamu!”
Dipikir-pikir benar juga sih. Lagi pula, saat itu sudah jelas bagaimana sikap Kenneth dengan Miss Kia. Apa jangan-jangan, aku sudah salah sangka?
***
Aku melihat Kenneth yang tengah sibuk dengan laptopnya, lalu aku memutuskan untuk menghampirinya, karena merasa tidak enak sudah menamparnya kemarin lusa.
“Hei, Kenneth.” Aku duduk tepat di sebelah Kenneth.
Laki-laki itu mengabaikanku dan tetap fokus dengan layar laptopnya. Aku mengintip ke layar laptop itu, ternyata dia sedang sibuk mengerjakan tugas kelompok kami yang diberikan Miss Kia.
__ADS_1
Ngomong-ngomong soal Miss Kia, aku jadi kepo soal hubungan si Cowok Mesum ini dengan Dosen Gila.
“Kamu sama Miss Kia ada hubungan spesial ya?” tanyaku sambil mengeluarkan laptop dari dalam tas.
“Kepo.” Cowok Mesum itu hanya menjawab satu kata, tanpa menoleh padaku, benar-benar angkuh!
“Yaelah cuma nanya doang. Apa coba yang dilakukan cowok di rumah si cewek sampai sepatu dan bajunya ketinggalan. Jangan-jangan ….” Aku menyangga kepalaku dengan tangan kanan yang kuletakkan di atas meja.
“Berisik banget sih kamu.” Kenneth akhinya menoleh padaku.
“Ih dasar cowok aneh!” gerutuku. “Eh, Kenneth itu kan tugas kelompok kita, ngerjainnya barenganlah! Masa sendiri-sendiri sih.” Aku mengeuarkan buku catatanku yang berisi wawancara kemarin.
“Kalau kamu bisa diam, nama kamu bisa ada di sini,” kata Kennteh dengan sombongnya.
Belum juga aku menjawab, suara yang sangat kukenali tiba-tiba memanggilku.
“Kimmy,” panggil Arsen yang berdiri tepat di hadapanku dan Kenneth.
“Arsen.” Aku memandang Arsen yang mukanya terlihat masam.
Sepertinya ia tak suka aku bertemu Kenneth di perpustakaan.
“Kalian ngapain?” tanya Arsen.
Belum sempat aku melanjutkan kata-kataku, Arsen sudah berjalan memutar untuk mendekati kami.
“Geser!” perintah Arsen yng langsung aku turuti.
Suamiku ini sepertinya cemburu dengan Kenneth, karena itu ia memilih duduk di tengah-tengah antara aku dan Kenneth.
“Tugas Kimmora biar aku yang kerjain.” Arsen menyalakan laptopku, dan membuka buku catatan milikku.
“Terserah,” jawab Kenneth.
Dua laki-laki itu mulai mengerjakan tugas yang seharusnya menjadi tugasku dan Kenneth. Memiliki suami yang cerdas kan harus dimanfaatkan dengan baik.
Arsen dan Kenneth terlihat serius, sesekali mereka saling mengernyit karena perdebatan pendapat antara mereka, sebelum peperangan dimulai aku segera menghentikan mereka.
“Udah deh, kalian sama-sama pinter, jangan berantem, ini perpus!” kataku sambil merebahkan kepala di atas meja.
Akhirnya mereka berdua mulai akur, walau sesekali mereka menampilkan wajah kesalnya.
Melihat mereka kembali tenang, tanpa perdebatan lagi, otakku mulai terasa damai. Perlahan-lahan rasa kantuk mulai menyerangku.
Aku sudah tidak tahan, mungkin karena efek obatlah yang membuatku tak bisa menahan kantuk lebih lama lagi.
__ADS_1
+++
Aku terbangun saat tiba-tiba ada yang meniup telingaku dengan pelan, mataku langsung mengerjap dan seketika aku bangun dengan rasa pegal di leherku.
"Akhirnya kamu bangun juga." Arsen menjadi orang pertama yang aku lihat saat membuka mata. Wajah tampannya itu tersenyum menyambutku.
"Aku lama ya tidurnya?" tanyaku yang masih mengumpulkan sisa-sisa kesadaranku.
"Nggak sayang, kamu bentar lagi ada kelas, 'kan? Makanya aku bangunin." Arsen mencubit kedua pipiku dengan gemas.
"Lah, si Kenneth mana?" tanyaku karena tak menemukan Cowok Mesum itu saat aku bangun.
"Dia udah pergi tadi, tugasnya juga udah selesai tinggal kamu kirim aja ke Miss Kia."
Aku mengangguk dan bersiap untuk ke kelas.
"Aku tunggu kamu di sini aja ya, sambil ngerjain skripsi."
"Iya, ya udah aku ke kelas dulu."
"Cium aku dong."
"Nggak ah Arsen, malu," jawabku sambil membereskan buku dan laptopku.
Namun, Arsen tiba-tiba langsung mendekatkan bibirnya lalu me**lu**mat bibirku sebentar.
"Panggil nama lagi aku cium leher kamu!"
"Iya, iya Oppa Arsen, Kimmy Lovely Hubby. Untung aja, aku selalu bawa lipstik."
🌹🌹🌹
...Hmm, buat jaga-jaga ya Kim, betewe nggak takut apa ketahuan sama penjaga perpus 🙈🙈...
Hai, aku balik lagi, hari ini 1bab aja lah.. otakku lagi lelah 😅😅
tapi nggak tau kalau nanti khilaf up lagi..
makanya banyakin like, sama hadiahnya. biar popnya 🔥 makin naik dan aku makin semangat.
Mungkin novel ini akan panjang ya, karena aku nggak mau buru-buru tamat kok 😅😅 Tapi janji, konfliknya nggak akan bertele-tele.
okay, jangan lupa ritual jejaknya, like, komen, hadiah, dan vote nya..
See You Again gengs 👋👋👋
__ADS_1