
Saat ini, aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, untuk menengok Yumna dan bayinya. Karena rumah Mama Nisa dekat, kami menjemput Mama sekalian untuk ke rumah sakit bersama-sama.
Sampai di rumah sakit, aku dan Mama mencari ruangan tempat Yumna dirawat.
"Pelan-pelan, Sayang." Arsen selalu berjaga dan ia berjalan di belakangku.
"Iya, Sayang. Jangan jalan cepat, hati-hati ya, lantainya agak licin kayaknya," kata Mama saat kami melewati koridor rumah sakit.
"Iya, Ma. Iya, Dad."
Akhirnya kami sampai di ruangan tempat Yumna dirawat. Ternyata, Dera sudah ada di dalam, sedang menggendong bayinya Yumna.
Setelah masuk dan berbasa-basi sejenak. Akhirnya aku bisa melihat bayi Yumna yang kini dipangku Mama Nisa. Wajahnya sangat mirip dengan Dion, seolah ia ingin membuktikan pada dunia kalau dia memang putrinya Dion.
"Lucu sekali ya, apa dia akan terus tidur sepanjang hari?" Aku mengusap dada bayi itu yang terbungkus kain, sehingga hanya terlihat wajah cantiknya saja.
"Kalau siang biasanya dia akan tidur terus, nanti kalau malam dia akan begadang. Kamu sama Arsen sebentar lagi juga mengalaminya. Iya 'kan?" Mama mengusap perutku.
Seolah mengerti dengan usapan Mama, bayi dalam kandunganku ikut bergerak-gerak.
"Dia menendang-nendang, Ma."
"Benarkah? Aku boleh menyentuhnya nggak Kim?" tanya Dera dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Sebagai wanita, aku sangat mengerti perasaan Dera. Dia sudah menikah, pasti juga ingin merasakan yang namanya hamil, dan sepertinya Dera tidak seberuntung aku yang langsung hamil setelah melepas kontra-sepsi itu.
"Boleh dong Ra. Sini! Kamu kan Onty-nya." Aku menarik tangan Dera agar ia bisa merasakan apa yang aku rasakan.
Ada binar bahagia di mata Dera saat mengusap perutku.
"Hey Baby, kamu lagi apa di sana?" tanya Dera yang terlihat antusias.
Semoga kamu bisa secepatnya merasakan kehamilan, Ra.
"Ra, kamu ngapain?"
Aku menoleh pada arah pintu, di mana suami Dera sedang berdiri di pintu.
Mama berjalan meletakkan bayi Yumna ke dalam box bayi, dan aku mengekor di belakang Mama.
Perlahan Mama meletakkan bayi itu ke dalam box bayi. Mama mengusap pelan bayi itu saat kepalanya bergerak-gerak, supaya ia tenang dan kembali tidur.
"Hei! Sini, Zayn!" Suara Arsen membuat bayi kecil itu kaget, ia membuka mata bulatnya walau tidak menangis. Lalu Mama segera mengusap-usapnya lagi, dan ratu kecil itu kembali tenang.
Setelah bayinya tenang, aku dan Mama kembali duduk di kursi dekat ranjang Yumna. Setelah itu, Dera duduk di samping Mama dan memeluknya. Sedangkan suaminya duduk di sofa lain yang tidak jauh dari kami, bergabung bersama Arsen dan Dion yang sepertinya baru bangun tidur.
"Ma, kenapa ya aku belum hamil juga?"
__ADS_1
Aku menatap kasihan pada Dera. Ia pasti sangat sedih saat ini.
"Sabar ya, Sayang. Kamu sama Zayn kan sibuk, stres juga mempengaruhi loh Sayang. Enjoy aja nikmati dulu masa pacaran setelah menikah!" Mama Nisa mengusap pelan rambut putrinya.
"Iya Ra, pacaran setelah nikah itu enak kok. Aku sama Kak Arsen aja sengaja menunda biar bisa merasakan nikmatnya itu," ucapku untuk membesarkan hatinya.
Anak bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah didapatkan. Seberapa keras usahanya, kalau Tuhan belum mengijinkan maka yang bisa dilakukan hanyalah bersabar, dan itu pasti tidak mudah.
"Iya Dera, jangan kayak aku." Yumna ikut bersuara, membuatku menoleh padanya.
Sejujurnya, aku sangat penasaran kenapa dia bisa kebablasan?
Yang belum menikah sudah hamil, yang sudah menikah belum hamil. Takdir manusia memang tidak ada yang tahu, akan seperti apa jalan yang akan kita lalui.
♥️♥️♥️
Selamat pagi gaess.
Selamat hari Jum'at. Semoga berkah. Aamiin
Maaf ya kemarin nggak update.
Aku nggak minta ritual deh karena kemarin nggak up 🤭🤭🤭
__ADS_1
Sampai ketemu lagi 😘😘😘