
Melihat dua sahabat itu kembali akur, rasanya perasaan bersalah dalam diriku sudah berkurang. Aku sudah lega melihat keduanya saling memaafkan. Semoga mereka bisa bersahabat selamanya.
"Apa Yumna juga tahu kalian sudah menikah?"
Pertanyaan Dion membuatku dan Arsen saling bertatapan mata. Kami bahkan belum memberitahu siapapun soal pernikahan kami, bahkan Nana sahabatku juga belum tahu soal pernikahan ini.
“Belum.” Arsen yang menjawab.
“Aku belum siap jika ada yang tahu soal pernikahan kami, kalau bisa tolong jangan kasih tahu siapapun ya,” ucapku pada Dion.
Dion menatap Arsen, lalu Arsen mengangguk. Dan Dion pun berjanji tidak akan memberi tahu pada siapapun soal pernikahanku dan Arsen.
***
Saat ini, aku sedang menyiapkan pakaian Arsen untuk kerja di kafe, sementara suamiku itu sedang mandi. Oma banyak mengajariku apa-apa yang harus aku lakukan untuk mengurus suamiku. Mulai dari bangun tidur sampai pergi tidur, dan ternyata, semua tidak segampang yang aku bayangkan.
“Sayang, kamu lagi apa?” Arsen memelukku dari belakang.
Aroma sabun begitu menusuk hidungku, harum dan segar. Membuatku menoleh ke belakang untuk melihat wajah tampan Arsen yang baru saja mandi.
“Aku bingung kamu mau pakai baju yang mana?” Aku mengangkat kemeja lengan panjang motif kotak-kotak dan juga kemeja lengan pendek dengan motif garis-garis.
“Yang mana aja aku pasti pakai.” Arsen membalik tubuhku lalu menempelkan hidungnya padaku. Hidung mancung itu terasa dingin saat menyentuh hidungku. Arsen semakin memiringkan wajahnya seperti ingin menciumku, dan benar saja, bibirnya telh melahap bibirku bagian bawah, semakin lama semakin menuntut. Arsen bahkan sudah mendudukkanku di tepi ranjang dan tangannya sudah menyusup ke dalam kausku, dengan cepat ia menyingkap kaus dan kain kacamata yang kukenakan. Lalu Arsen mulai menghisapnya seperti bayi.
Tidak lama kami menikmati kegiatan yang selalu menambah imun Arsen itu, karena tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar kami.
“Arsen udah, ada orang.” Aku berusaha melepaskan mulut Arsen dari puncak bukit milikku. Namun, Arsen tak bisa begitu saja melepaskannya.
“Bentar lagi,” ucapnya dengan tidak begitu jelas, karena mulutnya menggigit puncak bukit kesukaannya.
“Kimmora, Arsen, kalian di dalam?” teriak Oma sambil terus mengetuk pintu.
“Arsen, itu Oma,” ucapku.
Arsen langsung melepaskan mulutnya dari puncak bukit, lalu menurunkan kausku. Dengan cepat ia meraih kemeja kotak-kotak yang tadi kusiapkan, lalu memakai celananya.
Setelah memastikan Arsen aman, aku segera membuka pintu kamarku, dan Oma berdiri dengan wajah galaknya.
“Ngapain aja sih, emang Arsen nggak kerja?” tanya Oma.
Aku melirik ke dalam untuk memperhatikan apa yang tengah dilakukan Arsen. Suamiku itu tengah merapikan rambutnya dengan sisir.
“Tadi masih ganti baju Oma, nggak kedengeran, kenapa?” tanyaku.
Oma memelototkan matanya yang bulat sempurna.
__ADS_1
“Ada Markona tuh di bawah.”
Apa? Nana? Gawat! Jangan sampai Nana tahu aku dan Arsen sudah menikah.
“Oma.” Aku menarik lengan Oma yang akan meninggalkanku kamarku.
“Kenapa lagi?” tanya Oma yang kembali memelototiku.
“Oma mau aku pijitin nggak? Kayaknya Oma capek banget deh, nanti malam aku pijitin sambil kita nonton drakor Oma, gimana?” tanyaku berusaha merayu Oma.
“Mau apa kamu?” Oma langsung paham apa yang aku inginkan, itu artinya Oma pasti akan setuju membantuku nanti.
“Jangan bilang-bilang Nana kalau aku sama Arsen udah menikah ya,” pintaku pada Oma.
“Yah, kamu telat Kim, Oma udah kasih tau Nana tadi,” kata Oma dengan santainya, dan tanpa rasa bersalah.
“Oma ih, jahat banget sih,” teriakku.
Aku benar-benar kesal dengan Oma, entah kali ini Nana akan semarah apa karena aku membohonginya, dan ini semua karena Oma.
Oma mencebik lalu meninggalkan kamarku begitu saja. Nenek Sihir itu benar-benar jahat, tidak seharusnya ‘kan Oma mengatakan pada Nana saat ini.
Arsen menghampiriku yang masih berdiri di dekat pintu kamar.
“Ada apa sih, kenapa marah-marah?” tanya Arsen yang kini menangkap wajahku, lalu mengecup keningku.
“Oma bilang sama Nana kalau kita udah menikah,” jawabku yang masih membenamkan wajahku di dada bidang Arsen.
Arsen balas memelukku, ia mengelus punggungku. Benar-benar nyaman sekali dipeluk Arsen, aku seperti mendapatkan ketenanganku kembali.
“Mungkin ini memang sudah saatnya dunia tahu bahwa kita sudah menikah, sayang.” Arrsen mengurai pelukannya pada tubuhku.
“Huh, baiklah, aku akan menemuinya.”
“Aku temani.”
Aku dan Arsen akhirnya menemui Nana, dan sahabatku itu terlihat kecewa, tapi ia juga tersenyum. Sayangnya Arsen harus segera berangkat kerja dan tidak bisa menemaniku dan Nana lebih lama.
“Kim, ceritain semuanya ke gue. Kok bisa lo nikah sama Arsen.” Nana merapatkan duduknya setelah Arsen meninggalkan kami.
Lalu, aku pun menceritakan semuanya pada Nana, bagaimana aku tiba-tiba diculik oleh Papa, dan ternyata aku dinikahkan dengan Arsen, bagaimana aku membencinya, dan sampai akhirnya sekarang aku mulai menerima dan mencintai Arsen saat ini.
“Gila lo, Kim.” Nana menggelengkan kepalanya. Aku tahu dia juga tidak menyangka dengan hubungan percintaanku, tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terlanjur terjadi.
“Gue bersyukurnya hari ini, Dion dan Arsen udah baikan sih.”
__ADS_1
“Syukur deh, gue bener-bener syok denger dari Oma kalau lo sama Kak Arsen udah married.”
Aku langsung memeluk Nana, walaupun dia begitu cerewet tapi ia sahabat terbaikku. Aku dan Nana bercerita cukup lama, sampai akhirnya Nana pulang saat selesai makan malam bersama Papa dan Kak Darren juga.
Saat ini, aku sedang menikmati drama korea sambil menunggu Arsen pulang bersama Oma pastinya. Semenjak mengenal drama, Oma jadi sering menonton drama, hampir tiap malam.
Setengah jam usai drama berakhir, Arsen pun sampai di rumah.
“Kamu belum tidur?” Arsen menghampiriku yang rebahan di sofa.
“Belum, kan nungguin kamu.” Aku memeluk Arsen, menenggelamkan wajahku di dadanya.
“Ayo kita ke kamar, kita coba gaya yang lain?” bisiknya yang membuatku tersipu malu.
Baru saja aku berdiri menggandeng tangan Arsen, tiba-tiba Papa memanggil Arsen dan menghampiri kami.
“Arsen, papa ingin bicara sebentar sama kamu, kita ke ruang kerja aja ya.” Papa lalu meninggalkan kami, setelah mendapat persetujuan dari Arsen.
“Kamu ke kamar dulu ya, aku bicara sebentar sama papa.” Arsen mengusap rambutku lalu mengikuti Papa ke ruang kerjanya.
Kenapa Papa memanggil Arsen di malam selarut ini. Apa tidak bisa menunggu besok, mengganggu orang saja Papa ini.
Dengan kesal, aku pun berjalan menyusuri anak tangga satu per satu menuju kamarku. Merebahkan tubuh ke kasur yang empuk, aku jadi mengantuk karena menunggu Arsen terlalu lama.
Tiba-tiba aku merasa ada penyusup yang masuk ke dalam kausku. Dengan mata yang sudah sangat mengantuk, aku menoleh ke belakang untuk memastikan pelakunya.
“Kamu udah ngantuk ya?” Arsen mengecupi leherku, sambil tangannya terus menjelajahi bukit kembarku.
“Kamu ngobrol apa sama Papa?” tanyaku dengan mata yang masih mengerjap.
“Besok aja aku cerita.” Arsen langsung membalikkan tubuhku lalu melepas kausku.
🌹🌹🌹
Ngobrolin apa ya? Apa jangan-jangan lagi ghibahin Kimmy?
Good malam gays, aku up malam soalnya.
Sepi banget ya sekarang, yang biasa komen pada kemana sih? Udah pada kabur ya setelah ehem-ehem.🤣🤣🤣
Emm jadi aku ditinggal setelah habis enak-enaknya nih 😅😅
Yaudah lah, yang masih bertahan, yuk kita ngobrol-ngobrol sambil ngopi 😅😅
Ritual jejaknya jangan lupa, seperti biasa, udah hafal kan?
__ADS_1
Sampai ketemu besok 👋👋👋 Kalau banyak like sama Komen ya, sampai ketemu nanti sore 😄😄