Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 40


__ADS_3

“Ini.” Tangan kanan Arsen bergerak perlahan dari perut naik ke bagian bukit kembarku, dan berhenti di bukit sebelah kiri. “Sekarang aku cuma boleh pegang, atau boleh melakukan yang lebih?”


Setiap kata yang diucapkan Arsen membuat bulu halus ditengkukku meremang, rasa geli menjalar di area yang kini menjadi tempat Arsen menyandarkan dagunya. Sementara tangan kanannya sudah mer*m*s bukitku, tangan kirinya bekerja dengan meraih lilitan handuk di belahan bukit itu.


Gila! Jangan sampai Arsen melepas handuk ini, aku sedang tidak mengenakan apapun. Otakku bekerja lebih keras, memikirkan apa yang harus aku lakukan, menghentikan Arsen atau mengijinkannya melakukan apa yang memang menjadi haknya.


“Stop!” Tanganku memegang erat handuk yang kupakai.


“Kenapa?” tanya Arsen dengan pelan, tepat di telingaku. Napasnya berembus mengenai leher dan pundakku yang terekspos. Tangan kirinya yang tadi berusaha membuka lilitan handukku, kini telah berpindah mengelus pundak hingga lenganku, lalu kembali naik ke pundak lagi, membuatku merasakan sesuatu yang aneh. Ada semacam rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuhku yang tadinya dingin terkena siraman air saat aku mandi.


“Aku mau ganti baju,” ucapku sembari menyikut pelan perutnya yang membuat Arsen kembali mengaduh.


“Sakit, Kimmy. Lagian nggak usah ganti kalau nantinya aku lepasin semua,” kata Arsen yang kini mundur dan duduk di ranjang.


“Dasar mesum.” Aku meninggalkan Arsen setelah mendapatkan baju gantiku.


Aku kembali ke kamar setelah memakai piyamaku, dan suamiku itu masih mengompres wajahnya dengan es.


“Kamu udah makan?” tanyaku yang mendadak canggung dan memilih duduk di kursi meja rias.


“Nggak lapar, kamu lapar?” Wajah tampan itu menatapku, aku menjadi gugup karena tatapannya.


“Bikin mie aja nanti kalau laper,” jawabku sambil mengalihkan pandangan dari Arsen.


Jantungku sudah berdegup kencang karena tatapannya itu. Mau tidak mau aku berusaha menghindari tatapannya.


“Kamu tau nggak rasanya digebukin sama orang yang jago taekwondo?”


Pertanyaan macam apa itu? Yang digebukin dia, ya, mana aku tahu, ‘kan?


“Mungkin sama kayak jatuh dari sepeda,” jawabku asal.


Arsen tiba-tiba bangun dari ranjang dan berjalan mendekatiku. Apa yang akan dia lakukan sekarang? Apa dia akan meminta haknya malam ini? Tidak, aku belum siap. Aku tidak mau hamil saat kuliah, aku masih ingin merebut perusahaan papa supaya papa tidak semena-mena lagi. Tidak Arsen, jangan lakukan itu.


“Rasanya jauh lebih sakit dari jatuh, Kim.” Arsen sudah berdiri di hadapanku. Sedangkan aku berusaha menghindar dengan mundur ke belakang, tapi malah menabrak meja rias dan menjatuhkan peralatan riasku. Lalu, dengan terpaksa, aku duduk di meja rias.


“Kamu mau apa?” tanyaku putus asa.


“Aku mau hadiah untuk mengobati rasa sakit ini, Kim.” Arsen duduk di kursi yang tadi aku gunakan untuk duduk.

__ADS_1


“Apa?”


“Saat petir saja aku dapat hadiah cium, sekarang kamu mau kasih apa saja aku terima kok.” Arsen melingkarkan kedua tangannya di pinggangku, sehingga kini aku terkunci dan tak dapat lagi bergerak.


Apa yang harus kuberikan padanya. Dalam kebimbangan hatiku, Arsen tiba-tiba menarik tengkukku membuat hidung kami saling menempel.


Secara refleks tanganku mengalung di leher Arsen, dan aku langsung mel*m*at bibirnya. Begitu menggairahkan, dan aku kembali terbang ke angkasa bersamanya. Tangan Arsen mengger*y*ng dari leher hingga tengkukku, saat ini, kami tengah dimabukkan oleh gairah yang membakar jiwa kami.


Lama berciuman, dengan sesekali mengambil napas lalu melanjutkannya kembali. Hingga tanpa sadar, aku sudah tak mengenakan pakaian atas karena tangan Arsen yang bekerja dengan sangat halus, entah sejak kapan dia mulai melepas kait penutup bukit dan membuka kancing piyamaku satu persatu. Mungkin karena aku terlalu menikmati ciuman kami, sehingga tak menyadarinya.


Arsen melepas tautan kami untuk melihat pemandangan dua bukit kembar milikku.


“Kimmy, aku sudah melihatnya,” kata Arsen dengan wajah yang terlihat begitu bahagia.


Aku tak bisa berkata-kata karena mau menolak juga Arsen sudah melihatnya. Arsen kembali menarik tengkukku dan bibir kami kembali bertemu. Arsen kembali membawaku ke angkasa saat ciumannya turun perlahan ke leher, tentu saja dengan meninggalkan jejak petualangannya.


Terbuai dengan kenikmatan yang ia berikan, aku tak sadar saat tiba-tiba ujung bukitku terasa sakit karena gigitan. Mataku yang sedari tadi terpejam terpaksa membuka lebar-lebar dan langsung terkejut saat Arsen memasukkan bukitku ke dalam mulutnya.


Aku merinding saat Arsen menyesapnya dengan kuat, seperti bayi yang sedang kelaparan. Arsen bergantian menikmati bukitku dengan sesekali tangannya bermain-main di puncak bukit.


Aku merasakan bagian inti dari tubuhku, bagian yang sangat sensitif itu berkedut-kedut, rasanya begitu tak nyaman, terasa basah yang aku tak mengerti apa penyebabnya.


Arsen melepaskan mulutnya dari puncak bukitku. “Iya,” jawabnya yang kini menatapku. Sedangkan tangan kanannya masih mer*m*s bukit kiriku.


“Arsen, apa kita ….” Otakku tak sanggup menyusun kata-kata.


Maksudku, aku ingin bertanya padanya apa kita akan melakukan sesuatu yang seharusnya telah dari awal pernikahan kita lakukan.


“Kita apa?” tanya Arsen yang kembali melahap bukitku, sepertinya ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, karena belum tentu besok aku mengijinkannya.


Sekali lagi aku mendes*h diiringi nama Arsen yang selalu muncul di otakku.


“Kimmora,” panggil seseorang yang sepertinya ada di luar rumah.


“Siapa itu?” tanyaku sedikit panik.


Dari suaranya itu seorang laki-laki, apa mungkin Dion kembali?


“Kimmy, Arsen,” panggil seseorang itu lagi, dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.

__ADS_1


“Siapa?” Arsen berteriak, yang nadanya terdengar  kesal.


Arsen buru-buru memasangkan dan mengancingkan piyamaku dengan cepat. Sedangkan aku hanya melongo memperhatikannya yang memasang wajah kesal. Setelah selesai memakaikan piyamaku, ia meraih kemejanya dan berjalan cepat menemui orang yang telah mengganggu acara petualangannya.


Aku mengintip dari pintu kamarku, saat Arsen membuka pintu depan dan menampilkan sosok Kak Dareen yang terlihat berbeda dengan kaus lengan panjangnya.


“Kakak.” Aku berlari menghampiri Kak Dareen, tapi rasanya ada yang berbeda. Bukit kembarku bergerak bebas, dan membuatku tersadar, aku tak memakai penutupnya. Ah, sial! Gara-gara Arsen aku jadi tidak nyaman bertemu Kak Dareen.


“Kimmy, kakak bawa martabak manis kesukaan kamu.” Kak Dareen dan Arsen sudah duduk di kursi tamu, sedangkan aku yang harus menarik piyamaku sedikit ke depan agar bukit kembar itu tak tercetak jelas.


Aku memilih duduk di samping Arsen, bersembunyi di belakang punggung Arsen yang sepertinya juga bingung dengan tingkahku.


“Arsen kamu kenapa?” tanya Kak Dareen yang mungkin baru sadar dengan wajah Arsen yang babak belur.


“Ha ha, biasa Kak, ada salah paham sedikit,” jawab Arsen santai, nadanya lembut tak seperti tadi sebelum membuka pintu depan.


“Kamu dihajar Kimmy sampai babak belur?” tanya Kak Dareen yang sepertinya kurang paham.


“Enak aja, emang sejak kapan aku bisa hajar orang sampai babak belur gitu,” protesku.


“Kalian saling menghajar?” Pertanyaan Kak Dareen semakin aneh.


‘“Maksudnya?” tanya Arsen yang sepertinya ikut kebingungan.


“Itu di leher Kimmy,” kata Kak Dareen sambil terkekeh.


Arsen berbalik badan untuk menatapku. Lalu, ia tersenyum malu-malu. Jangan-jangan ada bekas kerokan lagi di leherku.


🌹🌹🌹


Aku tidak bisa berkata-kata, aku polos, aku nggak paham, itu bekas kerokan kenapa ada di leher?


Bang Arsen, udah berhasil menuju puncak ‘kan? Besok-besok jangan minta lebih. Bikin Othor migrain 🤧🤧🤧🤧


Okay segini aja, sempet-sempetin mikir nih walaupun lagi migrain beneran.


Stay healthy ya gengs, jangan lupa ritual jejaknya, Arsen aja selalu ninggalin jejak, kalian juga ya. Like, Komen, Hadih dan Vote.


See you next time sayang-sayangnya Kimmy-Arsen 👋👋👋👋

__ADS_1


__ADS_2