
Aku menarik tubuh Arsen hingga jatuh menimpaku. Wajahnya tepat berada di hadapanku.
“Apa kamu nggak mau nemuin ayah kandungmu?” Aku melingkarkan tanganku memeluk punggungnya dengan erat.
“Untuk apa, Sayang? Sekarang fokus utamaku cuma kamu, bukan yang lain lagi,” jawab Arsen yang menyentuh pipi kiriku dengan tangan kanannya.
“Tapi dia kan ayah kandung kamu, Oppa.”
Aku tidak bermaksud apa-apa dengan mengingatkan Arsen tentang ayah kandungnya. Aku hanya berharap Arsen dan ayah kadungnya bisa saling memaafkan dan bahagia seperti aku dan Mama.
“Selagi aku punya kamu, aku nggak peduli yang lain lagi. Aku akan buktikan sama mereka kalau aku bisa sukses tanpa mereka,” jawab Arsen yang membuatku tak bisa lagi memaksanya.
Aku akan menghargai apapun itu keputusan Arsen.
“Kamu beneran keren, Oppa,” pujiku lalu melayangkan kecupan di pipi kanannya.
“Jangan beritahu siapapun soal jati diriku, termasuk Dion.”
“Memangnya aku masih berhubungan sama dia?” Aku mengernyit yang kemudian di balsa Arsen dengan mengecup bibirku. “Aku sudah punya kamu, aku nggak butuh yang lain lagi, teruslah berusaha membahagiakan aku,” ucapku sambil menyisir rambut Arsen dengan jari tanganku.
__ADS_1
“Pasti, Sayang. Sekarang juga aku buat kamu bahagia.” Arsen mengecup keningku.
Lalu, ia langsung beralih menyerang leherku dan menghisapnya dengan kuat, menmbuatku menjerit karena ulahnya. “Ah, itu beresin dulu buku sama laptop kamu.” Aku sedikit mendorong bahunya untuk menjauhiku.
“Nanti aja, gampang.”
Arsen benar-benar tidak bisa dihentikan jika sudah seperti ini. Lagi-lagi dia membawaku terbang melayang menggapai puncak kenikmatan bersamanya.
Kalau saja alat itu tidak terpasang di lenganku, mungkin saja aku sudah hamil dan berhenti kuliah. Aku masih terlalu muda untuk bisa hamil, bahkan usiaku baru sembilan belas tahun.
***
Pagi telah bersambut, aku terbangun dan menyibak selimut tebal yang menghalangi tubuhku dari hawa dingin. Saatu per satu aku memungut pakaianku dan mengenakannya sebelum beranjak dari kasur.
Laptop hitam ini memang bukan merek mahal, tapi kata Arsen, ia mendapatkannya dengan kerja keras. Aku penasaran dengan isi laptop itu. Mengingat bagaiamna mahirnya Arsen bermain di ranjang, aku yakin pasti di dalam laptop ini banyak videonya.
Dengan mudah, aku menyalakan laptop yang tidak terkunci ini. Hal pertama yang aku lihat adalah foto gadis kecil dengan gigi ompong yang tersenyum ke arah kamera, di sampingnya ada seorang anak laki-laki yang merangkul tubuh kecilnya. Mereka sama-sama tersenyum bahagia.
Gadis itu sangat mirip dengan fotoku di album foto yang tersimpan rapi di rumah Papa. Apa gadis kecil di laptop ini adalah aku?
__ADS_1
Mengabaikan wallpaper itu, aku kembali ke tujuanku, yaitu video-video yang menjadi media belajar Arsen di ranjang. Pasti menyenangkan jika bisa menggoda Arsen dengan temuanku nanti.
Aku mencari ke semua folder tapi tidak satu pun ada video yang kucari, hanya ada video-video tentang bisnisyang menjadi mata kuliahnya.
Mataku tertarik dengan satu judul folder yang bernama ‘Sweet Memories’. Apa Arsen menyimpan kenangan mantannya di laptop ini?
Apa ini? Kenapa banyak sekali fotoku di sini. Foto-foto ini diambil secara diam-diam. Fotoku dari masa SMA banyak sekali di laptop ini, bahkan beberapa foto masa kecilku juga ada.
Ternyata, Arsen benar-benar mencintaiku sedalam itu.
Aku mematikan latop itu, lalu berjalan mendekati pemiliknya.
“I love you, and thank you so much for everything.” Aku mengecup kening Arsen sebelum melanjutkan kesibukanku pagi ini.
🌹🌹🌹
...Eh, Bang Arsen masih simpan foto-foto Kimmy, untung pas pacaran sama Yumna nggak ketahuan ya. 🤭🤭...
Nanti aku up 1 bab lagi, masih disusun rappi, pastikan bab ini dapat like yang sama ya, dengan bab berikutnya.
__ADS_1
Ritual Jejak dulu biar makin semangat. Like, Komen, Hadiah, Vote. Kembang sama kopi ya gengs.
Okay, Sampai ketemu lagi. 👋👋👋