Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 59


__ADS_3

Arsen tidak membawaku pulang ke rumah Papa, ia malah mengajakku untuk pulang ke rumah kontrakan. Alasannya Arsen ingin berduaan denganku, dan memang benar. Kami benar-benar berdua memadu kasih demi mencapai puncak kenikmatan yang selalu membuatnya ketagihan.


“Arsen, aku takut kamu lama-lama akan bosan!” seruku saat kami baru saja selesai mencapai puncak nirwana.


“Kalau panggil Arsen lagi aku bikin tambah lemes loh!” protesnya. Tangan kekarnya masih memeluk perutku dengan posesif, Arsen benar-benar tak membiarkanku bergerak bebas.


“Iya, Oppa, kapan kita ke dokternya?” Aku berbalik dan menghadap padanya.


Rambutnya yang sudah tak lagi tertata rapi, membuat ketampanan Arsen bertambah seribu kali lipat. Entah mengapa, tiap kali kami selesai berhubungan, Arsen selalu terlihat lebih gagah dan tampan.


Aku mengusap dahinya yang masih dipenuhi peluh. Bercinta di kamar dalam keadaan panas seperti ini membuat kami seolah tengah berada di sauna, maklumlah, tidak ada AC di rumah ini.


“Gimana kalau nanti sore, aku juga udah nggak tahan pakai pengaman terus.” Arsen terlihat memelas, bibirnya yang seksi didorong beberapa mili ke depan.


Karena gemas, aku mencium bibir yang tidak tebal juga tidak terlalu tipis itu. Aku langsung memundurkan wajah saat Arsen berusaha membalas ciumanku. Jujur, aku hanya ingin menggodanya tidak ada maksud lebih, tapi Arsen seakan mengartikannya berbeda. Ia kini berada di atasku, sorot matanya yang tajam itu menatapku seakan ingin memakanku hidup-hidup.


“Udah! Pengamannya udah habis, aku juga udah capek banget.” Aku mengusap pipi Arsen yang begitu dekat denganku.


“Nggak usah pake pengaman, aku keluarin di luar janji.”


“Nggak, aku udah capek banget, Arsen.”


Sial, aku lupa masih menyebut namanya, Arsen langsung menciumi leherku.


“Iya, iya ampun. Aku lapar, Oppa aku lapar beneran,” teriakku karena geli saat Arsen menghisap leherku.


Arsen akhirnya kembali berbaring di sampingku.

__ADS_1


“Ya udah kita cari makan dulu, baru pulang ke rumah Papa.” Arsen kemudian bangun dan memunguti pakaiannya.


Aku benar-benar tidak menyangka bisa sejauh ini terikat dengannya, entah takdir apa yang telah Tuhan ciptakan, tapi Arsen benar-benar bukti nyata bahwa Tuhan menyayangiku.


***


Kami tiba di rumah Papa saat hari hampir sore, seperti biasa Oma menuruhu untuk menyapu halaman rumah Papa. Padahal aku dan Arsen sudah ada janji untuk bertemu dokter spesialis kebidanan dan kandungan, tapi Oma malah mengacaukan rencanaku dan Arsen.


“Kim, besok kan kamu udah nggak di sini lagi, jadi semuanya bersihin ya,” perinth Oma dengan seenaknya.


Oma ini seperti kepala pelayan di drama korea yang sering aku tonton. Apa jangan-jangan Oma terlalu sering lihat drama makanya jadi semakin berlagak.


“Oma tahu nggak, aku jadi makin malas datang ke sini kalau Oma perintah-perintah aku terus.” Aku meletakkan sapu begitu saja di lantai.


Aku tak peduli lagi, Arsen mau brewokan atau tidak, tapi kali ini aku benar-benar lelah menghadapi Oma.


“Aduh, gerah banget ya sore ini. Oma, mau mandi dulu Kim.” Oma langsung beranjak dari duduknya, masuk ke dalam rumah begitu saja, aku jadi semakin yakin, Mama masih hidup sampai saat ini.


Semua orang di rumah ini seakan menyembunyikan fakta tentang Mama dariku, satu-satunya orang yang bisa aku tanya saat ini hanyalah Kak Darren, bukan Oma apalagi Papa.


“Kim, kita jadi pergi?” tanya Arsen yang baru muncul setelah mengobrol dengan Pak Aji.


“Iya, aku mandi dulu Oppa,” jawabku lalu masuk ke dalam rumah Papa, meninggalkan sapu itu di sana. Terserahlah kalau Arsen jadi brewok. 


Sebenarnya sebelum berangkat ke sini aku sudah mandi, tapi mau bagaimana lagi, menyapu halaman yang membuatku banyak keringat, akhirnya memaksaku untuk mandi lagi.


***

__ADS_1


Aku dan Arsen telah sampai di klinik tempat praktik dokter spesialis yang aku pilih setelah mendapat rekomendasi dari sosial media. Kami diminta untuk mengantre sebentar. Di ruang tunggu ini, aku meihat cukup banyak antrean yang hampir semuanya ibu-ibu hamil. Sepertinya mereka tengah memeriksakan kandungannya, dan sepertinya juga hanya aku pasien yang datang ke sini untuk menunda kehamilan.


“Kalau nanti kamu hamil, aku akan seperti laki-laki itu.” Arsen menunjuk dengan dagunya ke arah laki-laki yang tengah mengusap punggung dan juga perut istrinya yang masih belum terlalu besar.


Akhirnya, giliranku untuk masuk, bersama Arsen tentunya.


“Selamat petang, saya dokter Nayla, ada yang bisa saya bantu?” ucap dokter cantik yang mungkin usianya tak jauh beda dari Kak Darren.


“Saya Kimmora, dan suami saya, Arsen.” Aku memperkenalkan diri pada Dokter Nayla. “Saya baru saja menikah, em …”


“Apa sudah ada tanda-tanda kehamilan?”


“Bukan Dok, maksud kami, kami ingin menunda memiliki anak.”


...♥️♥️♥️M.A.S🚗🚗🚗...


*Boleh nggak Dok? Jangan boleh ya dok, kita kan pengennya si Kikim cepet hamil.


-Semua tergantung Othor, dokter kan cuma disuruh aja. 🤭🤭🤭


Hai Gengs, ngantuk-ngantuk maksa update nih 🤭🤭🤭


Banyakin kopi sama kembangnya biar jadi temen lembur nih.


Yang masih punya vote juga bawa sini aja, buat apa sih vote disimpen-simpen nanti juga hangus 🙈🙈


Okay, Ritual Jejaknya dulu, seperti biasa, Like, Komen, Hadiah, dan Vote

__ADS_1


Sampai ketemu lagi, entah kapan? 😅😅😅


__ADS_2