Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 55


__ADS_3

Semenjak tinggal bersama Oma, aku selalu terbangun di pagi buta. Usai bersih-bersih badan, aku keluar kamar untuk memasak sarapan, kalau tidak, Oma akan menggedor pintu kamarku dan itu akan sangat menggangguku dan Arsen. Walaupun masih sangat mengantuk, aku menuruni anak tangga. Entah semalam sampai jam berapa Arsen memberiku kenikmatan surga dunia, membawaku terbang ke awang-awang sampai rasanya tubuhku begitu pegal-pegal.


Oma dan Bi Sri sudah berada di dapur, sementara Mbak Lastri tengah menyapu ruang tengah saat aku tiba di anak tangga paling bawah.


“Kimmy, kamu bisa masak nasi goreng?” tanya Oma saat aku sampai di dapur.


Setiap pagi selalu begini, Oma akan menentukan menu apa yang akan aku masak, walaupun rasanya sangat jauh dari kata enak, tapi Oma terus saja memaksaku untuk masak. Pernah waktu itu aku hampir membuang tumis kangkung yang aku masak karena terlalu matang dan keasinan, tapi Arsen langsung merebutnya untuk ia makan.


Arsen bilang, apapun yang aku masak, mau enak atau tidak, mau matang atau tidak, dia akan tetap makan masakanku.


“Kalau aku ngaku nggak bisa Oma juga akan tetap maksa aku, ‘kan?” jawabku.


Iya, Oma selalu begitu. Sudah tahu masakanku tidak enak, aku tidak bisa masak, tapi selalu memaksaku untuk masak. Rasanya aku benar-benar merindukan rumah kontrakanku.


“Kalau hari ini kamu bisa masak enak, Oma akan biarkan kamu sama Arsen tinggal di kontrakan.” Oma menyerahkan bumbu yang aku butuhkan untuk memasak nasi goreng.


“Oma serius?” tanyaku karena tidak yakin.


“Iya, tapi kalau kamu gagal ya seminggu ke depan kalian tetap tinggal di sini,” jawab Oma.


Mendengar jawaban Nenek Sihir yang tengah menjelma menjadi Ibu Peri itu, aku tersenyum kecut. Mana mungkinlah aku bisa masak enak? Ujung-ujungnya juga aku akan tinggal di rumah ini.


Sebenarnya Oma tinggal di Singapura bersama Om Rendy, adik kandung Papa. Namun, terkadang Oma akan datang ke rumah Papa di saat tidak terduga seperti sekarang ini. Dari empat cucu Oma, aku satu-satunya cucu perempuannya, tapi bukannya dimanja, aku malah jadi sasaran kejahilan Oma seperti saat ini.

__ADS_1


“Sayuran itu nanti aja kalau nasinya hampir matang.” Oma masih mengawasiku yang sedang menggoreng nasi.


Selalu begitu, semenjak kejadian telur gosong itu, Oma selalu mengawasiku tanpa berkedip. Sudah miriplah dengan juri yang ada di acara masak-masak di TV. Marah-marah, makan, komentar, tapi digaji. Sebenarnya Oma tidak digaji, tapi anggaplah begitu.


“Sausnya jangan banyak-banyak nanti nggak enak.”


Aku hanya mengangguk saja, walaupun Oma terlalu banyak bicara, tapi aku jadi bisa mengerti bagaimana cara masak yang sebenarnya.


“Udah nih Oma.” Aku mematikan kompor, lalu menuang nasi goreng yang masih panas itu ke dalam piring untuk Oma.


“Oma nggak makan sekarang, nanti kita makan sama-sama biar semua bisa menilai apa makanan kamu enak atau tidak. Kamu mandi dulu sana!” ucap Oma.


“Tapi Oma jangan curang, nanti Oma tambahin garam lagi,” kataku.


“Oma ini enak, Oma,” teriakku sambil senyum-senyum.


“Belum tentu, nanti semua orang yang akan mencobanya, kamu buruan mandi sana, siapin keperluan suami kamu!” kata Oma.


“Jangan curang ya, aku ingat loh rasanya.” Aku meninggalkan dapur lalu naik ke kamarku.


Sesampainya di kamar, aku tidak menemukan Arsen di tempat tidur. Semua tirai jendela sudah dibuka, Arsen pasti sudah bangun. Lalu, aku berjalan menuju walk in closed untuk mencari keberadaan Arsen. Kudengar suara gemericik air di kamar mandi. Aku pun mendekat, lalu dengan iseng aku membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak dikunci.


“Aaa ....” Arsen menarik tanganku untuk ikut masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Suamiku itu sudah tidak memakai apapun.


“Arsen ih, malu tau!” Aku langsung berbalik membelakanginya, dan menutup mata dengan satu tangan, tapi Arsen malah memelukku dari belakang.


Tubuhnya yang belum basah menandakan Arsen belum memulai mandinya.


“Yuk kita mandi bareng!” ucapnya sambil menarik kausku ke atas.


“Mandi bareng?” tanyaku ragu-ragu.


“Iya, biar lebih bersih.”


“Tapi mandi aja ya, jangan aneh-aneh. Aku takut masakanku hancur gara-gara kelamaan aku tinggal, aku udah masak nasi goreng yang enak soalnya.”


“Oh ya, aku jadi nggak sabar buat mencicipinya.” Arsen malah menciumi leherku.


Ia sangat tahu titik kelemahanku yang membuatku tak bisa menolak ajakannya untuk melanjutkan sisa pertempuran semalam.


...❤❤❤M.A.S🚗🚗🚗...


Hadeh, malah enak-enakan. Nggak tahu apa yang lain udah kelaperan nungguin Bang Arsen sama Non Kimmy yang masih mandi-mandian.


Jangan protes dulu kalau updatenya dikit, aku upload lagi ini. Jadi, siang ini up 2bab. Sehari 3bab lo. Ya ampun kasih kembang sama kopi dong 😅😅😅

__ADS_1


Tapi, ritual jejaknya tetep harus ada ya. Aku kasih lagi Bab 56 nya.


__ADS_2