Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 47


__ADS_3

Bukan kesalahanku jika aku mulai mencintai Arsen yang kini menjadi suamiku. Sekuat apapun hatiku menolak, kenyataannya adalah aku semakin jatuh ke dalam cinta Arsen yang sekarang membuatku selalu tersenyum saat melihatnya.


Seperti saat ini, aku begitu bahagia melihatnya muncul setelah aku menunggunya cukup lama, cukup lelah juga karena menanggapi Yumna yang tak bisa menerima kenyataan.


"Kamu sama Yumna kenapa?" tanya laki-laki yang sedari tadi menjadi bahan perdebatanku dan Yumna.


"Sayang, kayaknya kamu harus kasih tahu dia deh, kenapa kamu putusin dia. Dia bilang aku hanya pelampiasan buat kamu." Aku merangkul manja lengan kekar suamiku itu.


Arsen menatapku seolah bingung, sementara Yumna kini berdiri dan menatap Arsen dengan mata sembabnya.


"Arsen, apa benar kamu putusin aku karena Kimmora?" tanya Yumna.


Beberapa mahasiswa yang memperhatikan kami bertiga nampak begitu ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi antara aku, Arsen dan Yumna. Namun, aku berhasil mengusir mereka dengan mata tajam yang kumiliki.


Arsen mengajakku dan Yumna untuk duduk di bangku taman itu, Arsen ada di tengah-tengah aku dan Yumna. Kini dia harus menjelaskan pada masa lalunya itu bahwa aku adalah masa depannya, seperti yang selalu ia katakan.


"Yumna, aku minta maaf atas semua yang terjadi, dua tahun bersama memang bukan hal mudah untuk melupakan semuanya, aku tahu ini begitu tidak adil buat kamu, tapi ini juga keputusan sulit untuk aku. Aku lebih memilih Kimmora, karena sebelum aku mengenalmu dan berusaha menyayangi kamu, Kimmora sudah hidup di hati aku, bahkan setelah bersama kamu, dia masih menempati ruang di hati aku." Arsen memperhatikan Yumna yang hanya tertunduk mendengarkan Arsen, sementara tangan Arsen menggenggam tanganku dengan erat.


"Kenapa akhirnya kamu meninggalkan aku demi dia?" tanya Yumna di tengah isak tangisnya.


"Karena aku harus menjaga Kimmora, hubungan kami lebih rumit dari yang kamu bayangkan Yumna. Jadi, berusahalah melupakanku dan hiduplah bahagia bersama dengan yang lain, kisah kita telah berakhir lima bulan yang lalu," ucap Arsen.


"Dia pacarnya sahabat kamu Arsen, kenapa kamu jadi penghianat sepertinya?" Yumna masih tak bisa dengan mudah menerima kata-kata Arsen.


Arsen kini ganti menatapku, mengusap pipi kananku dengan tangan kirinya.


"Aku sudah bersamanya sebelum dia bersama Dion. Waktu itu, dia hanya sedang tersesat dan belum menyadari bahwa cintaku lebih dari apapun," kata Arsen sambil terus menatapku.


"Arsen," kataku, tapi Arsen langsung menutup mulutku dengan jari telunjuknya.


"Aku harap, setelah ini tidak ada kesalahpahaman lagi antara kita Yumna, dan berbaikanlah dengan Kimmora." Arsen menarik tangan kananku, gerakan matanya seolah memerintahkanku untuk berjabat tangan dengan Yumna.


"Yumna, aku minta maaf," ucapku pasrah karena tatapan Arsen.


Arsen tersenyum seolah bangga denganku, tapi Yumna hanya diam tak berniat meraih tanganku.


"Ayo Yumna, berbaikanlah dengan Kimmora!" kata Arsen.


Yumna terlihat ragu-ragu ingin meraih tanganku, tapi aku tak ingin terlalu lama, dan segera saja kuraih tangannya Yumna.

__ADS_1


"Yumna, mulai hari ini berhenti mengganggu hubunganku dan Arsen," ucapku pada gadis itu.


Setelahnya, aku segera menarik Arsen untuk meninggalkan Yumna. Kami berdua berjalan bergandengan tangan sampai ke parkiran. Lalu segera menuju rumah Papa untuk pulang.


***


"Arsen aku pengen pulang ke rumah kontrakan kita," ucapku saat baru masuk ke kamar.


"Kenapa?" tanya Arsen setelah mengunci pintu kamar.


"Oma tuh bawel banget Arsen," keluhku.


Arsen langsung memelukku, mencium kedua pipiku dengan gemas.


"Aku lebih tenang kalau ninggalin kamu bersama Oma daripada kamu di kontrakan terus keluyuran." Arsen semakin erat memelukku.


"Tapi Oma tuh …." Aku tak bisa melanjutkan kata-kataku karena Arsen langsung menutup mulutku dengan mulutnya.


Perlahan menuntunku menuju ranjang, dan akhirnya ia menambah imun ala Arsen.


***


Arsen baru saja selesai mandi dan bersiap untuk bekerja.


"Beberapa hari lagi mungkin," jawabku sambil membantunya mengeringkan kepala dengan handuk.


"Langsung kasih tahu aku ya kalau udah selesai, aku udah nggak sabar." Arsen kembali menciumku.


"Iya, udah sana, nanti kalau terlambat kamu kebut-kebutan."


"Kamu tungguin aku pulang ya, jangan berantem sama Oma," ucapnya sambil menyisir rambutnya singkat.


"Iya."


Aku mengantarnya sampai depan pintu utama rumah Papa, hingga motor Arsen menghilang setelah keluar dari pagar besi yang menjulang tinggi itu.


Setelah Arsen berangkat kerja, aku kembali masuk ke dalam, tentunya sudah disambut Oma yang memang sedari menuruni tangga tadi telah menungguku. Entah apa lagi yang akan dilakukan Oma kali ini.


"Kenapa lagi Oma? Aku nggak mau masak hari ini." Aku duduk di samping Oma yang sedang menonton acara berita di televisi.

__ADS_1


"Pijitin oma sekarang," kata Oma masih tetap fokus dengan televisi di depannya.


"Suruh Mbak Lastri aja lah Oma, aku capek tau," jawabku malas.


Oma mengalihkan pandangannya dari televisi, dan kini beralih menatapku. Oma menghela napas berat sebelum akhirnya memukul sofa di sebelahku yang tentu saja membuatku terjejut.


"Kamu itu harus belajar mijit, suami pulang kerja capek-capek bisa kamu pijitin, makin sayang dia sama kamu." Oma masih menatapku. Tatapannya yang tajam itu membuatku ingin sekali melawannya, tapi rasanya sudah malas berdebat dengan Oma.


"Oma, kalau capek tinggal panggil terapis atau ke spa, ngapain belajar mijit, nanti terapis-terapis itu kehilangan mata pekerjaan mereka kalau semua istri bisa mijit," protesku dengan nada malas.


"Kikim, kamu tuh ya. Sekarang kamu pikir, emangnya kamu mau kalau suami kamu jatuh cinta sama terapis di tempat spa, kalau setiap kali dia kecapekan kamu suruh dia ke spa," kata Oma yang entah mengapa seakan menjadi sugesti untukku.


Tiba-tiba aku membayangkan Arsen datang ke tempat spa seperti yang biasa aku datangi.


"Bayangin kalau yang jadi terapisnya itu mantannya suami kamu."


Aku membayangkan Yumna tengah memijit punggung Arsen yang putih dan bersih. Lalu Yumna perlahan semakin memijat dengan sensual hingga Arsen tergoda dan akhirnya mereka ….


"Tidak …." Aku berteriak dengan sangat kencang saat membayangkan Arsen dan Yumna saling memijat.


"Kikim! Kenapa teriak-teriak sih?"


Napasku tersengal-sengal keringatku mulai bercucuran, rasanya benar-benar menyakitkan. Tidak, aku tidak akan membiarkan Arsen mendatangi tempat pijat.


"Oma, aku mau belajar mijit sama Oma," kataku pada Oma, dengan dada yang masih kembang kempis.


"Hah, kamu kenapa? Kerasukan?"


"Nggak Oma, udah yuk ajarin Kimmy mijit, ya Oma, Oma cantik deh," kataku sambil memijat lengan Oma.


Sementara Oma malah mencebik seolah mengejekku.


🌹🌹🌹


Kikim, kamu cemburuan apa gimana sih? Dibilang bayangin eh, beneran dibayangin πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ nyesek nggak tuh???


Hai, aku khilaf setelah liat jumlah vote πŸ˜‚πŸ˜‚ masih nangkring di top 200. Makasih ya All suportnya.. aku doble up nih 🀭🀭🀭


Tetep ya, jangan lupa ritual jejaknya. Like, Komen, Hadiah dan Votenya.

__ADS_1


See You again sayang-sayangnya Kimmy-Arsen πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


__ADS_2