
Arsen yang sepertinya menyadari aku tersiksa, akhirnya kembali menatap wajahku.
"Jika kamu kesakitan, apa aku harus melepasnya?" tanya Arsen sambil mengusap wajahku.
Aku menggelengkan kepala, entah mengapa walaupun aku merasakan sakit yang luar biasa, tapi hatiku tidak tega membuat Arsen kecewa.
“Sakit banget ya?” tanya Arsen lagi.
Aku hanya mengangguk lalu Arsen mencium bibirku, bermain dengan lidahku dan akhirnya turun ke leher, menjilatnya seperti es krim yang meleleh, membuatku merasakan geli luar biasa.
Berkali-kali Arsen memainkan lidahnya di leherku, lalu satu tangannya bergerak bebas di bukitku. Sentuhan-sentuhan yang Arsen berikan nyatanya mampu membuatku merasa nyaman. Rasa sakit dan panas di bagian bawah itu perlahan berkurang.
Lidah Arsen berpindah ke telingaku, embusan napasnya yang menerpa telinga dan sebagian leherku membuatku merinding, geli sungguh geli.
“Mau dilanjut sekarang?” bisiknya tepat di telingaku.
Arsen kembali menatapku, lalu aku segera mengangguk dan kutarik tengkuknya agar bisa menikmati bibirnya yang menggoda.
Di tengah ciuman kami, Arsen berusaha menggerakkan miliknya dalam surga kenikmatan milikku, aku masih merasa panas dan ngilu, tapi sudah tak sesakit awal-awal tadi. Perlahan, rasa sakit itu berubah menjadi rasa nikmat yang luar biasa. Aku merasa sangat basah di bawah sana yang membuat Arsen bisa bergerak semakin cepat.
Milik Arsen menembus dinding rahimku, membuatku merasakan kenikmatan yang luar biasa.
“Arsen.” Mulutku secara refleks menyebutkan namanya.
“Yah, kenapa?” tanya Arsen tanpa menghentikan gerakannya.
“Enak,” jawabku yang membuat Arsen tersenyum lalu kembali menciumi wajahku.
Arsen semakin bergerak cepat, Aku tak lagi merasakan sakit karena yang tersisa hanyalah rasa nikmat yang memenuhi kepalaku. Aku bahkan tak bisa menjabarkannya dengan kata-kata, karena rasanya memang benar-benar nikmat luar biasa.
Keringat telah membanjiri tubuh kami, dinginnya AC ini tak bisa menghalau tubuh kami yang terasa semakin panas.
“Kimmy, aku terjepit.” Arsen terus bergerak menabrakkan miliknya pada ujung goa yang ku rasa mulai berkedut-kedut.
“Arsen, aku ….” Aku terus meracau saat benda tumpul itu membuatku tidak berdaya, rasanya aku benar-benar terbang sampai ke surga hingga aku merasa tubuhku bergetar hebat, aku benar-benar meledak di sana, dan seketika tubuhku merasakan nikmat luar biasa yang selama ini belum pernah aku rasakan.
“Kimmy ….” Arsen menenggelamkan wajahnya ke leherku, lalu aku merasa sesuatu menyirami lembah surga milikku, tapi Arsen masih terus bergerak, hingga akhirnya ia benar-benar berhenti.
“I love you, i love you so much, ini benar-benar nikmat sayang.” Arsen memiringkan tubuhku, memelukku dengan sangat erat, sementara tubuh kami masih menyatu. Kami berpelukan cukup lama, hingga aku merasakan milik Arsen semakin lemas dan mengecil.
“Arsen, kita melupakan sesuatu,” kataku yang membuat Arsen memandang wajahku.
“Apa?”
“Kita nggak pakai pengaman, kalau aku hamil gimana?” tanyaku mulai panik.
__ADS_1
“Emm … gimana ya?” Arsen terlihat sama bingungnya denganku.
Aku kesal karena Arsen yang tak juga menemukan solusi, akhirnya aku berbalik badan dan memunggunginya. Hingga milik Arsen terlepas dari lembah surga milikku, membuat cairan kental keluar dari pintunya.
Aku yang merasa risih akhirnya bangun untuk membersihkannya. Arsen ikut bangun dan mengangsurkan sekotak tisu dari atas nakas.
“Ada darah,” ucapnya sambil menunjuk noda darah yang mengenai sprei.
“Darah perawanku?”
“Cie yang udah nggak perawan,” godanya yang kemudian memelukku. “Istriku udah nggak perawan lagi.” Arsen terus menggodaku membuatku tersenyum geli.
“Kamu juga udah nggak perjaka lagi,” balasku.
“Tapi ternyata rasanya memang benar-benar nikmat ya, beda kalau main sendiri,” kata Arsen yang membuatku langsung menoleh padanya.
“Main sendiri? Maksudnya?”
“Ya, main sendiri.” Arsen tertawa. “Kamu nggak akan ngerti urusan laki-laki,” ucapnya.
“Udah ah, aku mau mandi, lengket banget.” Aku melepaskan tangan Arsen yang masih melingkar di pinggangku.
“Kita mandi bareng.” Arsen langsung mengangkat tubuhku dan membawaku ke kamar mandi.
Awalnya aku pikir kami akan benar-benar mandi, tapi dugaanku salah, karena Arsen tiba-tiba sudah merayuku untuk mengulangi percintaan itu di kamar mandi. Sampai akhirnya kami benar-benar selesai mandi saat waktu sudah pukul 22.15. Kami sudah memakai pakaian lengkap dan hanya menunggu rambut kering untuk pergi tidur.
“Oma,” katanya yang membuatku mengerutkan dahi.
Kenapa lagi itu Nenek Sihir menelepon malam-malam begini.
“Iya Oma, kenapa, hoam?” tanyaku dengan berpura-pura menguap.
“Kimminah, kamu udah tidur? Bisa turun sebentar nggak?” tanya Oma.
“Ngapain?”
“Udah turun aja dulu.”
Oma langsung mengakhiri panggilannya, benar-benar merepotkan bukan? Apa yang akan dilakukan Nenek Sihir itu kali ini?
“Aku turun dulu,” ucapku pada Arsen, lalu segera bangun dari tempat tidur, dan berjalan keluar.
Namun, baru beberapa langkah, area bawah milikku terasa sedikit ngilu tiap kali aku bergerak.
“Kamu bisa jalan nggak?” tanya Arsen yang kini sudah berdiri di sampingku.
__ADS_1
“Bisa kok, tapi sedikit sakit,” jawabku lalu kembali berjalan.
“Aku temani.” Arsen meraih tanganku lalu kami bergandengan keluar dari kamar.
Aku berusaha berjalan senormal mungkin walaupun rasanya area bawah benar-benar ngilu, dan tidak nyaman. Perlahan aku menuruni anak tangga satu per satu, dengan tangan Arsen yang masih setia menggandengku.
Dari atas, aku bisa melihat Oma yang sendirian di ruang keluarga. Nenek tua itu masih baik-baik saja, kenapa dia mengganggu acara tidurku. Kemudian, aku dan Arsen berjalan semakin menghampiri Oma.
“Oma,” panggilku karena Oma tak menyadari kedatanganku.
“Eh, Kikim, kamu sama Arsen?”
“Iya, udah deh ada apa?” tanyaku malas.
“Temani Oma nonton.”
“Oma, ini tuh jam berapa? Besok aja lah nontonnya, jam segini tuh waktunya tidur Oma,” omelku pada Nenek Sihir itu.
“Bentar doang, baru juga jam sepuluh.” Nenek Sihir itu memelototiku. “Arsen udah ngantuk?” tanya Oma pada Arsen.
“Belum Oma,” jawab Arsen.
“Kalian baru selesai mandi jam segini?” tanya Oma.
Lalu aku menyadari bahwa rambutku masih setengah basah, begitu juga dengan Arsen.
“Emm, kami baru aja olahraga malam Oma,” jawab Arsen yang membuatku mengerutkan dahi. Bingung.
Namun, Nenek Sihir itu seolah paham dengan perkataan Arsen, wajah tuanya menampilkan senyum yang malah terlihat menakutkan.
“Kamu masih virgin Kimmy?” tanya Oma dengan mata berkedip-kedip.
“Apaan sih Oma.”
“Barusan aja udah kehilangan virginnya Oma.” Arsen menyahut yang seketika membuatku malu.
“Cie cie, mantan perawan,” ejek Oma yang membuatku benar-benar malu.
🌹🌹🌹
Eh, ada mantan perawan nih, mbak Kimmy gimana rasanya pusaka Bang Arsen? Eh, maksudnya gimana rasanya jadi mantan perawan?😅😅😅
Selamat malam, tengah malam aku membawa kisah bahagia, semoga saat kalian membacanya kalian bisa senyum-senyum ya. Maaf kalau banyak typo atau kata yang kurang pas, mata Othor yang suci dan polos ini dipaksa begadang udah nggak kuat, besok aja cek ulang, yang penting kalian seneng dulu.
Jangan lupa ritual jejaknya. Like, Komen, Hadiah dan Votenya.
__ADS_1
See You Again.👋👋👋