Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
Ammar Sakit


__ADS_3

❤❤


 Kirana baru saja menyeleseikan tahajudnya. Waktu masih menunjukkan pukul setengah tiga dini hari. Kemudian ia melanjutkan dzikir. Ada kedamaian yang perlahan mengisi ruang hati gadis itu. Masih di atas sajadah, ia bersimpuh. Ingin rasanya berlama-lama di sana.


 Hatinya basah. Perlahan, misteri hidupnya terkuak. Seperti potongan puzzle yang kini saling terhubung. Bukankah akhirnya hidup harus bahagia. Ia harus belajar memaafkan. Bukan hanya dirinya yang sakit, mereka pun tak menginginkan seperti ini. Tapi takdir hidup berkata lain.


 Suara pintu rumah di ketuk pelan. Kirana menghentikan dzikirnya. Ammar. Diakah? Lirih penuh harap. Jantungnya berdentang. Ia bergegas menyambut kekasih hati yang amat dirindukan. Ketika pintu dibuka, sosok itu nyata berdiri di hadapannya. Tak kuasa dirinya untuk tak menghambur dalam pelukan laki-laki itu. Begitu juga dengan Ammar. Untuk beberapa saat kedua pasangan halal itu saling mengeratkan. Rasyid garuk-garuk kepala.


“Ea..ea... Eh kalian pelukan aja, trus gue berdiri sambil nonton kalian gitu. Apes nian nasib gue! Kagak disuruh masuk nih kakak ipar.”


Ammar tertawa melihat kelakuan adik sepupunya.


“Maaf Rasyid. Ayo masuk! ujar Kirana.


“Lha Abang, gak disuruh masuk juga,” goda Ammar.


Kirana menarik tangan suaminya dan membawanya ke dalam.


“Abang panas sekali badannya. Sakit, Bang?” 


“Kangen kakak ipar,” bisik Rasyid di telinga Kirana. 


Wajah kirana langsung merona. Ammar mendelik melihat ketengilan Rasyid.


 Mendengar rebut-ribut di ruang tamu, ibu dan neneknya bangun dan segera bergabung. Kirana mengenalkan ibu dan neneknya pada Rasyid dan Ammar. Kemudian Ammar mencium tangan kedua wanita itu penuh takzim. Rasyid mengikuti kakaknya. Dalam benak Ammar masih ada setumpuk tanya. Tapi ia memilih diam. Ada waktunya kirana untuk menjelaskan. Kirana lebih penting dari itu semua. Ammar mencintai Kirana utuh. Tak peduli asal usulnya.


“Sebentar, Ki mau ke dapur dulu.”


Kirana baru mau berbalik, tapi ibunya mencegah.


“Kamu temani suamimu saja, Nak. Biar ibu yang buatkan minum.”


“Tapi, Bu…”


“Sstt..ajak suamimu istirahat. Ia pasti capek.”


 Ibunya berbisik lirih.


“Rasyid, kalau mau istirahat, itu ya kamarnya.” 

__ADS_1


“Okey. Kakak ipar baik sekali. Tapi Rasyid mau numpang ke kamar mandi dulu.”


“Ohya, itu lurus saja terus belok kiri.”


Rasyid ngeloyor susuai pentunjuk kirana. Ammar memandangi istrinya penuh kerinduan saat mereka hanya berdua saja di ruang tamu. Tangannya menyentuh lembut pipi Ki.


“Abang gak disuruh istirahat Sayang.” 


Kirana menepis tangan suaminya. Ia merasa risih jika ibu, nenek atau Rasyid tiba-tiba datang.


Dan benar, tak lama kemudian, ibunya datang membawa nampan yang berisi teh hangat dan cemilan. Ammar dan Rasyid menyruputnya perlahan. Setelah ngobrol sebentar, Rasyid meminta izin untuk merebahkan diri. Ia merasa sangat ngantuk karena sejak awal ia yang pegang kemudi. Sementara itu Kirana merasa malu mengajak Ammar ke kamar. 


“Ki, ajaklah suamimu ke kamar, Nak!”


“Iya, Bu.” 


Ammar merasa senang, ibu mertuanya sungguh pengertian. Kemudian melirik istrinya yang tampak malu-malu.


“Ki, kamu gak dengar ibu bilang apa barusan.”


Ammar menggoda lagi. Sesungguhnya kirana sangat grogi. Sengaja ia mengulur-ulur waktu.


“Jangan lama-lama permaisuriku,” ucap Ammar seraya mengecup pipi kirana sehingga membuat gadis itu salting.


Jantung Kirana serasa mau lepas. Kemudian ia bergegas ke dapur untuk menyiapkan baskom dan handuk kecil. Di dapur, Ibunya tampak sibuk sedang memasak.


“Ki bantu ya bu? Tapi Ki mau ngompres Abang dulu.”


Ibunya menoleh. Kemudian menggeleng.


“Biar Ibu dan mbahmu saja yang masak. Kamu temani suamimu. Kasian dia lagi sakit.”


Kirana mengangguk. Sambil mengatur napas yang mulai naik turun, kirana melangkah menuju kamar dimana Ammar beristirahat.


“Abang, Ki kompres ya. Badan abang panas sekali.”


Kirana mulai mengompres Ammar. Mulai dari dahi, leher hingga dada. Selama lima belas menitan. Perlahan suhu tubuhnya mulai turun. Kemudian ia minta izin Ammar untuk mengganti air di dapur.


“Sudah cukup, sayang. Udah enakan kok.”

__ADS_1


Ki hendak melangkah keluar untuk menaruh baskom bekas air kompresan ke dapur. Tangan Ammar keburu menahannya.


“Taruhlah di bawah saja. Ki jangan pergi-pergi. Temani Abang di sini.” Kirana meremas tangannya yang mulai dingin. Kemudian duduk di tepi ranjang.


“Ki..mau kan peluk abang. Abang kangen,” pinta Ammar. Kirana belum menjawab, tapi tangan laki-laki itu langsung menarik pelan tubuh ki dan mendekatkan di dadanya. Memeluknya erat. Kirana tak kuasa menolak. Ada hawa panas yang menjalar di tubuhnya. Jantung berdebar karena merasa takut membayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Ada rindu yang sebenarnya meletup-letup di sudut hatinya. Tapi terlalu malu untuk menunjukkan.


“Boleh kan, Abang minta sekarang?”


Ki kaget dengan permintaan Ammar. Bukankah ia dalam kondisi tidak fit. Kenapa masih bisa mikir kayak gitu. Kirana benar-benar tidak habis pikir.


“Kan Abang sakit?”


“Makanya Abang minta diobatin sama Ki.”


Ki tidak paham suaminya ngomong apa. Tapi tangan Ammar mulai sulit dikendalikan setelah itu.


“Kita doa dulu ya, Sayang. Sudah dihafalin kan?” bisik Ammar. Wajahnya mulai menegang.


 Kirana mengangguk sambil meremas jari.


Untuk beberapa saat lamanya, keduanya melepas rindu dan hasrat yang membuncah. Baik bagi Kirana maupun Ammar ini merupakan pengalaman pertama yang tak akan terlupakan seumur hidup.


Adzan subuh baru saja berkumandang ketika dua insan itu baru saja menyeleseikan ibadahnya. Walau sempat tertunda beberapa hari, tapi itu tidak mengurangi kebahagiaan mereka.


“Makasih ya, Sayang.” Ammar mengecup kening istrinya. Kirana yang masih malu menenggelamkan wajahnya ke dada bidang suaminya.


“Masih mau lagi?" tanya Ammar dengan maksud menggoda istrinya. Spontan Kirana mencubit perut suaminya, sehingga Ammar langsung teriak karena kaget. Sementara di kamar sebelah yang hanya berbatas tripek bukan tembok, teriakan Ammar membuat Rasyid terbangun.


“Haduuh. Kalian ngapain sih. Brisik tahu. Gak kasian ama gue.”


Ammar terkekeh. Membayangkan wajah Rasyid yang pasti kesal. Malah ia sengaja menggoda dengan membuat suara-suara yang membuat Rasyid tidak bisa tidur.


“Abang jangan gitu dong, kasian Rasyid.”


“Biarin aja. Dari kemaren dia ngeledekin abang terus.”


 “Ohya, Abang mau ajak Ki bulan madu. Ki mau kemana?”


“Terserah. Yang penting sama abang saja.”

__ADS_1


__ADS_2