Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 95


__ADS_3

Mobil Tante Sabila baru saja meninggalkan rumah Mama saat mobil Kak Darren dan motor Arsen melewati gerbang rumah. Saat ini aku sedang menyapu halaman rumah Mama yang tidak seluas rumah Papa. Dua laki-laki itu tak biasanya pulang saat hari masih sore begini. Ada apa dengan mereka?


“Hai, Sayang.” Arsen tersenyum sambil berjalan ke arahku.


“Tumben udah pulang, masih jam empat.” Aku melihat jam dengan merek terkenal di pergelangan tanganku, kado  ulang tahun dari Kak Darren.


“Sengaja. Kamu sama Arsen butuh baju buat besok,” kata Kak Darren yang menyerahkan secarik undangan padaku.


“Apa ini?” Aku memicingkan mata sambil membaca dalam hati kata demi kata yang tertulis dalam undangan tersebut.


Sebuah undangan untuk menghadiri acara ulang tahun suatu perusahaan ternama. Sebenarnya yang diundang adalah Papa, tapi saat ini Papa sedang ada bisnis di Jepang.


“Besok kamu sama Arsen wakilin Papa ya, di kantornya Pak David. Kakak ada janji sama Mama soalnya,” jawab Kak Darren.


Otakku mulai berpikir macam-macam, Kak Darren sama Mama mau ke mana? Bukankah kemarin mereka juga pergi bersama?


“Ayo kita siap-siap! Nanti keburu tutup butiknya,” kata Arsen.


Kak Darren sudah melangkah masuk ke rumah, sementara aku dan Arsen masih berdiri di tempat yang sama.


“Kak Darren sama Mama sekarang suka pergi barengan, mau ke mana ya mereka?” tanyaku pada Arsen.


“Nggak usah kepo deh, Sayang.” Arsen mengusap rambutku lalu mencium keningku. “Udah ‘kan nyapunya?”

__ADS_1


“Tinggal buang sampahnya aja, kamu masuk dulu deh, nanti aku nyusul.” Aku kembali melanjutkan kegiatanku, sementara Arsen sudah masuk ke rumah.


***


Aku dan Arsen sudah tiba di butik langganan keluarga, meskipun aku tidak pernah mengunjungi kantor Papa, tapi beberapa kali aku dan Kak Darren menemani Papa di acara seperti ulang tahun kali ini. Aku paham, sebagai duda yang tidak mempunyai pasangan, Papa pasti merasa aneh menghadiri acara perjamuan seperti ini.


Sebenarnya, Mama dan suami barunya sudah bercerai dua tahun yang lalu. Namun, saat aku meminta Mama untuk kembali pada Papa, Mama menolak. Entah apa alasan pastinya, Mama tidak mau berterus terang denganku.


“Sayang, kamu kenapa?” Arsen menepuk pundakku, membuat lamunanku buyar seketika.


“Nggak papa kok, Oppa.” Aku mengukir senyum di bibir supaya Arsen tidak khawatir. “Aku bingung mau pilih gaun yang mana?” Aku menunjuk gaun-gaun indah yang telah dipilihkan oleh pegawai butik.


“Kalau aku suka yang ini.” Arsen menunjuk satu gaun warna hijau botol.


“Ini nanti bisa dipadukan dengan jas dengan warna yang senada,” kata salah seorang pegawai yang tengah melayani kami.


Aku benar-benar ingin menghargai pilihan Arsen, lagi pula gaun itu memang terlihat elegan, dan pasti aku akan terlihat semakin cantik saat memakainya.


Saat aku mencoba gaun itu, ekspresi Arsen benar-benar aneh. Ia tampak berpikir keras dengan dahi berkerut dan alis yang hampir menyatu.


“Kenapa?” tanyaku bingung.


Bukankah tadi dia yang memilihkan gaun ini untukku. Kenapa sekarang begitu? Apa  aku tidak cantik memakai gaun ini?

__ADS_1


“Kamu terlalu cantik, aku takut di sana banyak pasang mata memandang kagum ke kamu,” ucapnya yang membuatku ingin tertawa sekeras-kerasnya, tentu saja kutahan dengan menutup mulut menggunakan kedua tangan.


“Kamu suka aku jelek? Harusnya nanti kamu bisa pamer, kalau istri kamu cantik,” ucapku.


Arsen sudah berada tepat di hadapanku, sementara itu, pegawai butik yang tadi melayani kami, kini meninggalkan kami berdua di ruangan ini, seakan paham situasi.


“Emang mau pamer ke siapa? Nggak ada yang aku kenal, ‘kan?” Arsen menyelipkan rambut ke belakang telingaku.


“Mungkin saat ini nggak ada yang kamu kenal, tapi suatu hari nanti, mereka semua akan mengenal namamu, dan aku juga akan terkenal.” Aku mengalungkan kedua tanganku di lehernya saat Arsen meraih pinggangku untuk lebih dekat dengannya.


“Kamu mau aku dikenal banyak orang seperti papa dan Kak Darren?” Arsen membawa tubuhku berdansa, tanpa irama lagu yang mengiringi kami.


“Iyalah, aku ingin kamu sukses, aku akan terus bersamamu untuk mendukungmu, Oppa Sayang.” Secara naluri, aku mengikuti gerakan Arsen untuk berdansa.


“Teruslah bersamaku sampai napasku berhenti.” Arsen mencium bibirku, membuatku tak bisa membalas kata-katanya.


Arsen aku berjanji, aku akan terus bersamamu dalam keadaan apapun, karena aku, sangat mencintaimu.


🌹🌹🌹


...Eh, dansanya masih besok Mbak Kim, Oppa Sen. Tapi kalau latihan dulu sih nggak masalah....


Yuk, tinggalkan jejaknya gengs, bentar lagi Bang Arsen mau ketemu bapaknya. Kalau nggak banyak like nya nanti malam aku nggak up 🤭🤭🤭

__ADS_1


Like, Komen, Hadiah, Vote.


Sampai ketemu di pesta dansa.


__ADS_2