Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 2


__ADS_3

Laki-laki yang keluar dari mobil itu berjalan cepat menghampiri kami. Aku sangat tahu dia adalah Arsen, suamiku. Kapan dia pulang dari Jepang? Kenapa tidak memberitahuku?


"Kimmora biar saya yang antar." Arsen langsung menarik tangan kananku.


"Saya yang ajak pulang duluan, kenapa kamu tiba-tiba datang dan menarik tangannya?" Pak Kaisar ganti mencekal tangan kiriku.


Dua laki-laki ini saling bertatapan, dengan pandangan yang menakutkan. Dua-duanya mencengkram tanganku dengan kuat.


"Stop!" Aku melepaskan mengibaskan kedua tangan laki-laki ini karena kesakitan. "Maaf Pak Kaisar, saya pulang sama dia, dia suami saya," jawabku sebelum terjadi peperangan antara keduanya.


"Kamu sudah menikah?" tanya Pak Kaisar seakan tidak percaya dengan kata-kataku.


"Iya, Pak. Dia suami saya." Jujur akan lebih baik kan daripada berbohong. Apalagi menikah jelas bukanlah kejahatan.


"Hah, informan saya kurang akurat ternyata." Pak Kaisar menggelengkan kepala. "Seingat saya juga Pak Erick belum pernah mengadakan pesta pernikahan, apa saya tidak diundang, ya?" Pak Kaisar menatap wajahku dan Arsen bergantian sambil berkacak pinggang.


"Kami memang belum mengadakan pesta, Pak Kaisar asisten Pak Zayn Wiguna." Arsen mengangkat wajahnya seakan menantang Pak Kaisar.


Aku tidak ingin ada keributan di antara keduanya, langsung saja aku merangkul lengan Arsen dan mengusapnya. "Sabar Oppa, dia atasanku di kantor," bisikku pada Arsen.


"Kamu siapa sih?" tanya Pak Kaisar dengan lantang.


"Saya Rafandra Arsenio."

__ADS_1


"Loh, kamu yang … di Jepang … Pak Erick?"


"Ya, itu saya, suaminya Kimmora."


Untuk sesaat Pak Kaisar dan Arsen sama-sama terdiam.


"Wah, hebat juga ya kamu, padahal perusahaan dengan kerugian sebanyak itu biasanya akan failed."


"Terima kasih untuk pujiannya, apa kami sudah boleh pulang Pak Kaisar?"


"Ya, ya, ya. Silakan silakan."


Akhirnya Arsen menarik pinggangku dan menuntunku masuk ke mobil.


Di mobil, Arsen terus bertanya tentang hubunganku dan Pak Kaisar, dan aku menjawab sejujur mungkin. Arsen kalau sedang cemburu begini terlihat menggemaskan sekali.


Sampai di rumah Papa, Arsen langsung mengajakku ke kamar, kebetulan rumah dalam keadaan sepi.


Arsen langsung mengunci pintu, melepaskan jaket dan melemparnya ke sofa. Lalu, Arsen mengajakku ke kamar mandi. Ya, memang saat ini aku sedang gerah karena baru saja pulang kerja, tapi kenapa Arsen juga ikut ke kamar mandi?


"Oppa, kamu mau apa?" Aku bingung saat Arsen membuka kancing kemejaku satu per satu, lalu membuangnya ke lantai kamar mandi.


"Rasanya otakku seperti mendidih saat dia menyentuh tanganmu." Arsen langsung meraih tangan kiriku, lalu membasahinya dan kemudian menggosoknya dengan sabun."

__ADS_1


Bukannya marah, tapi aku malah senang, mendapat perlakuan posesif dari Arsen. Dia masih saja cemburuan.


Saat tangan Arsen masih sibuk menyabuni tanganku, aku langsung bernaf**su untuk menciumnya. Arsen awalnya seperti terkejut, tapi aku menggigit bibirnya supaya dia membuka mulut.


Arsen mulai terpancing dan akhirnya ia membalas ciumanku. Dia mendorongku sampai aku menabrak dinding yang tepat berada di bawah shower, tanpa melepaskan ciuman kami. Ciuman panas itu terus berlanjut sampai kami kehabisan pasokan oksigen, dan terpaksa melepaskan tautan bibir kami.


"Oppa, aku merindukanmu," kataku setelah melepaskan ciuman kami.


"Kimmy, aku bisa gila setiap kali ada laki-laki yang memegangmu, aku tidak suka itu." Arsen menatapku dengan mata memelas, seakan ia benar-benar takut kehilanganku.


Aku mengusap wajah tampannya dengan tangan kananku, sementara tangan kiriku bergerak perlahan menyusuri dada bidangnya.


"Lakukan apapun yang bisa meredam emosimu, Oppa Sayang."


❤❤❤


...Hah, jangan minta yang aneh-aneh ya. Udah gini aja....


Maaf agak telat, lagi ngurusin abang Zayn juga 🤭🤭


Yuk, yang masih punya vote bagi ke aku.


Like, Komen, Hadiah, Vote. Ritual jejaknya seperti biasa ya.

__ADS_1


Sampai ketemu lagi nggak tau kapan.


__ADS_2