
"Arsen?" Aku begitu terkejut saat tiba-tiba Arsen mematikan kompor.
"Kamu ngapain? Mau bakar penggorengan?" tanyanya yang terlihat khawatir.
Aku merasa bingung, karena tadi aku sudah mengikuti instruksi Oma dengan benar, kenapa Arsen mematikan kompornya padahal aku masih memasak?
Arsen memindahkan telur ke dalam piring, terlihat sedikit gosong tapi tidak parah.
"Aku masak telur tapi dari tadi nggak berubah jadi mata sapi," jawabku tanpa rasa bersalah.
"Astaga Kimmy, kamu nggak pernah makan telur?" tanya Arsen yang membuatku bingung.
"Jarang, tapi aku makan ya makan aja nggak pernah perhatiin apalagi inget-inget bentuknya telur."
"Ini namanya telur gosong, Kim."
"Ya udah buang aja." Aku berusaha merebut piring berisi telur gosong itu dari tangan Arsen.
"Jangan, ini masih bisa dimakan kok. Apalagi istriku sendiri yang masak, aku pasti akan makan sampai habis." Arsen tersenyum lalu mengusap rambutku sebelum berlalu meninggalkan dapur.
Akhirnya kami pun sarapan bersama, ada Oma, Papa, Kak Darren, aku dan Arsen pastinya. Sesuai perintah Oma tadi malam, aku mulai mengambilkan nasi dan sayur untuk Arsen. Namun, saat aku akan mengambilkan ikan untuk Arsen, suamiku itu menolak. Dia bilang ingin makan telur yang aku buat tadi, dan itu sukses membuatku tersenyum bangga.
"Itu telur yang tadi kamu masak kenapa hangus?" tanya Oma dengan tatapan tajamnya.
“Nggak sengaja Oma," jawabku.
“Goreng telur aja hangus, dasar kamu, Kikim! Udah, Arsen ganti lauk yang lain aja.” Oma menawarkan ikan yang tadi ingin kuambilkan untuk Arsen.
“Nggak usah Oma, ini aja enak kok, apapun masakan yang Kimmy masak, aku akan tetap makan itu, Oma.” Arsen tersenyum pada Oma sambil menggenggam tanganku.
Ada rasa bahagia saat Arsen bisa menerima semua kelemahanku, dan membelaku di hadapan Oma.
“Untung aja kamu punya suami yang sabar kayak Arsen, kalau nggak mungkin kamu udah ditendang jadi istri," kata Oma saat kami selesai sarapan.
“Ih, Oma kalau ngomong suka lupa. Kalau aja aku nggak nikah sama Arsen, jam segini aku baru bangun, Oma. Lagian Arsen itu juga beruntung Oma, dapat istri yang cantik kayak aku." Aku mengibaskan rambutku ke belakang, membanggakan satu-satunya kelebihan yang kupunya, yaitu cantik.
“Kepedean sekali kamu, Oma yakin pacarnya Arsen sebelum nikah sama kamu juga nggak kalah cantik dari kamu,” sahut Oma tak ingin kalah.
“Oma kenal pacarnya Arsen?” tanyaku tak percaya.
“Hai, Oma gini-gini juga punya instagram, Oma tahu akun kamu, akunnya Arsen, bahkan akunnya Darren juga Oma tahu.”
“Ganjen banget udah tua main sosmed kayak anak muda, malu-maluin cucunya.”
“Kamu yang malu-maluin pake selingkuh sama Dion anaknya Pak Deny Darmawan.”
__ADS_1
“Kok Oma tau?”
“Apa yang Oma nggak tahu. Jadi, sekarang kamu ngaca, kamu sama pacarnya Arsen cantik mana? Jangan sok kecantikan Kikim!”
“Bener-bener Nenek Sihir paling kejam." Aku menatap Oma yang kini juga menatapku dengan pandangan membunuhnya.
“Arsen, kamu yang sabar ya, Nenek Sihir sama Mak Lampir kalau ketemu nggak pernah akur," kata Kak Darren yang hanya ditanggapi kekehan pelan oleh Arsen.
“Ih, Kakak jahat sama aku.” Aku menatap sebal pada kakak kandungku itu. “Arsen, bilang sama aku. Aku sama Yumna lebih cantik siapa?” tanyaku sembari mengusap tangan Arsen dengan manja.
“Cantik kamu," jawab Arsen yang membuatku merasa di atas awan.
“Tapi Yumna pinter masak,” sahut Oma, dan Arsen tersenyum karenanya.
Dengan kesal aku langsung meninggalkan ruang makan. Kalau aku menang secara fisik, nanti kalau sudah tua Arsen bisa saja meninggalkanku. Aku harus bisa masak seperti Yumna, aku tidak mau dikalahkan oleh Yumna itu. Lihat saja Oma, aku pasti bisa mengalahkan Yumna.
Aku selesai mandi dan keluar hanya dengan memakai handuk kimono seperti biasa. Keluar dari kamar mandi dengan niat yang mantap untuk tidak terkalahkan oleh siapapun apalagi Yumna, aku berjalan menuju walk in closet untuk mencari baju yang paling pas untuk berangkat kuliah nanti.
Tanpa aku duga seseorang tiba-tiba memelukku dengan posesif, aku langsung paham bahwa dia adalah Arsen.
“Kamu kenapa marah?” tanya Arsen yang kini melihat pantulan wajah kami dari cermin.
“Kamu tahu Yumna pintar masak dari mana? Memangnya kalian pernah tinggal bareng?” tanyaku dengan bibir mengerucut.
Arsen semakin mengeratkan belitan tangannya di perutku, hingga tubuh kami benar-benar menempel seperti terkena lem.
“Enak?”
“Enakan masakan kamu kok.”
“Bohong, aku aja masak telur bisa gosong.”
“Sayang, masakan kamu emang enak kok. Aku tadi ketawa karena gemas melihat kamu debat sama Oma, kayaknya kamu nggak mau dikalahkan gitu sama Yumna.”
“Ya nggak mau lah, aku ‘kan istri kamu.”
“Cie istri cie, udah ngakuin aku nih?”
“Apaan sih Arsen, udah sana aku mandi, aku mau ganti baju.”
“Minta penambah imun dulu dong.”
“Apa?”
Arsen langsung menciumku dengan lembut dan perlahan mengeluarkan dua bukit kembarku yang masih tertutup handuk, dan acara ganti baju itu harus tertunda karena sang bayi besar mulai nakal meminta penambah imun.
__ADS_1
***
Aku dan Arsen meninggalkan rumah Papa untuk pergi ke kampus. Dengan mengendarai motor, aku dibonceng Arsen dengan motor matic hitam milik Arsen.
Ya, ini pertama kalinya kami berangkat ke kampus bersama-sama. Entah mengapa, aku ingin melakukan semua yang Arsen dan Yumna lakukan dulu. Berboncengan, pacaran di kampus, dan semua hal yang ada dalam pikiranku, aku ingin melakukannya bersama Arsen.
Naik motor dibonceng Arsen, sambil memeluknya dengan erat, memang sensasinya berbeda dengan saat aku naik motor dibonceng Dion. Bersama Arsen, rasanya naik motor berkali-kali lebih menyenangkan. Aku bisa bebas memeluk tubuhnya tanpa canggung, Arsen bisa tiba-tiba mengelus lututku saat di lampu merah, benar-benar pengalaman yang menyenangkan. Bersama Arsen, aku lebih bahagia.
Perjalananan ke kampus terasa lebih cepat berlalu, dengan malas aku turun dari motor dan Arsen melepaskan helm yang kupakai.
"Nanti, kalau kamu selesai duluan tungguin aku, ya," ucap Arsen.
"Iya, kamu juga, tungguin aku." Aku menggandeng tangan Arsen dan berjalan menuju gedung fakultas.
Aku tidak peduli lagi dengan tatapan aneh dari mahasiwi yang melintasi kami. Sampai akhirnya, kami harus berpisah karena Arsen sudah akan memulai kelasnya sedangkan aku masih belum.
"Kamu jangan genit-genit sama cewek," ucapku saat kami akan berpisah.
"Iya, kamu tuh yang jangan genit." Arsen mencolek hidungku.
"Aku nggak genit, mereka aja yang suka sama aku," jawabku membela diri.
"Ya udah, aku ke kelas dulu ya."
"Emm, iya deh." Aku terpaksa melepas tangan Arsen, lalu Arsen tersenyum sebelum meninggalkanku.
Aku menatap punggung Arsen yang memakai tas ransel hitam itu, perlahan semakin jauh sampai akhirnya menghilang saat Arsen masuk ke kelasnya.
Aku berjalan menuju kantin sambil mengirim pesan pada Nana agar segera datang ke kampus.
"Kamu pacaran sama Arsen?" tanya seorang gadis yang aku ingat namanya Sela. Ia dan temannya tiba-tiba menghadang jalanku saat akan menuju kantin.
"Kalau iya, emang kenapa?" jawabku tanpa takut.
🌹🌹🌹
Wah wah, Sela muncul lagi, mau cari gara-gara nih. Hajar Kim, hajar!
Yuk, kalian juga mana nih, suaranya sepi banget 😂😂😂
Nggak ada hadiah nih buat Othor yang doble up 😂😂
Oh ya, Cover ganti loh, bagus nggak 🤭🤭🤭
Jangan lupa tinggalkan jejaknya. Like, Komen, hadiah dan Vote.
__ADS_1
Sampai ketemu lagi, sayang-sayangnya Kimmy-Arsen👋👋👋