
Memiliki anak memang suatu hal yang sangat istimewa. Apalagi anak pertama yang hadir setelah sekian lama menikah. Begitu pun dengan kehadiran Xavier. Laki-laki kecil itu semakin mewarnai rumah kami.
Dia sudah pandai berjalan, pandai berceloteh, dan suka mengikuti ke mana pun mommienya pergi. Di usia Xavier yang hari ini genap 1 tahun, kami merayakan secara sederhana. Hanya ada kue ulang tahun, lilin, dan balon-balon kesukaan Xavier.
Kami tidak mengundang siapa pun, hanya oma-opa Xavier saja yang memang sengaja datang untuk ikut menyaksikan momen pertama peringatan hari kelahiran Xavier.
"Sayang, kamu masih lama?" Arsen baru saja masuk kamar saat aku masih berdandan.
"Sebentar, aku tinggal sisir rambut aja," jawabku.
Arsen merebut sisir dari tanganku, lalu perlahan ia mulai merapikan rambutku dengan sisir itu.
"Terima kasih," kata Arsen.
Aku mengerutkan alis, menatapnya yang sedang menatapku dari pantulan cermin.
"Kenapa?" tanyaku. Bingung apa yang sedang Arsen pikirkan sampai ia mengucapkan terima kasih untukku.
"Karena kamu sudah melahirkan anakku." Arsen melingkarkan tangannya di dadaku, lalu ia mencium rambut di belakang telingaku. "Udah setahun dan sebentar lagi anakku yang lain akan lahir dari rahimmu. Kamu tahu? Rasa cintaku ke kamu semakin bertambah setiap kali aku melihat anak-anak kita. Aku nggak akan sanggup jika tanpa kamu," kata Arsen.
Kalimat-kalimat mesrah yang hampir setiap hari keluar dari mulutnya, yang selalu aku dengar hampir setiap kali ia menyentuh. Entah kenapa aku selalu terbawa perasaan, dan tidak pernah bosan mendengarkannya.
Aku tahu, rasa cinta Arsen jauh lebih hebat dari rasa cintaku untuknya. Aku yakin sangat jarang laki-laki seperti Arsen di dunia ini, dan aku wanita paling beruntung yang mendapatkan cinta dari suami seperti Arsen. Hampir tidak ada kekurangan yang ia miliki, selain rasa cemburu yang berlebihan.
__ADS_1
"Aku juga cinta sama kamu," balasku.
"Itu aja?" tanya Arsen. Ia melepaskan pelukannya, lalu kembali menyisir rambutku.
"Aku harus bilang apa?"
"Kapan sih kamu romantisnya Sayang?" Arsen meletakkan sisir di meja.
Rambutku sudah rapi sempurna, tergerai indah karena hasil karya suamiku.
Aku berdiri dan memandang Arsen yang sedang cemberut.
"Aku cinta kamu, dan aku sangat beruntung memiliki suami seperti Tuan Rafandra Arsenio." Aku mengalungkan tangan ke leher Arsen, lalu dengan cepat menarik tengkuknya dan mencium bibirnya.
Kurasakan Arsen membalas ciumanku, dan tangannya sudah meraih pinggangku. Ciuman kami semakin mendalam dengan lidah yang saling berbelit.
Aku tercengang saat Xavier tiba-tiba sudah masuk ke kamar, dia pasti melihat kedua orang tuanya saling berciuman.
"Xavier, sayang kapan kamu masuknya?" Arsen meraih tubuh jagoan kecilnya yang hari ini berulang tahun.
"Daddy pasti nggak tutup pintu."
Arsen hanya nyengir seolah tidak merasa bersalah.
__ADS_1
"Mommie, Mommie, kiss Mommie," oceh Xavier yang sudah bergerak-gerak lincah di gendongan Arsen.
"Oke, mommie kasih kiss, tapi Xavier diem, kakinya jangan nendang-nendang nanti kena baby twin!" perintahku.
Xavier mengangguk-angguk, tapi kaki dan tangannya mulai diam.
"Kiss Mommie, kiss mommie."
Aku mencium kedua pipi Xavier, lalu ia membalas dengan mencium keningku. Xavoer suka menirukan apa yang dia lihat, semenjak ia melihat Arsen mencium keningku, ia jadi suka menirukannya.
"Kiss daddy, please!" pinta Arsen. Ia mengetuk-ketuk pipinya dengan jari telunjuk.
"No, no, no." Xavier menggeleng kuat.
"Kenapa kalau sama Daddy nggak mau cium?"
"No, no, kiss Mommie, kiss Mommie." Lagi-lagi Xavier meminta cium dariku.
"Ah, Xavier anak daddy juga. Kalau nggak ada daddy nggak ada kamu Xavier." Arsen mencium paksa Xavier, dan respon Xavier malah meronta-ronta. Arsen terus mencium pipi Xavier yang masih digendongannya, berjalan keluar kamar, dan aku mengikuti mereka.
"No, no, no," teriak Xavier. Arsen tidak melepaskan dan terus mencium Xavier, sampai akhirnya anak laki-laki kami itu menangis kencang.
β€β€β€
__ADS_1
Kalau Xavier nggak mau dicium, aku mau kok Oppa dicium sama oppa sen sen ππ
Apa apa, mau protes nggak update πππ Iya deh, maafkan aku ya. Pokoknya sebelum aku bilang The End. atau Tamat. Aku tetep lanjut kok. Selama masih ada yang baca πππ