
Arsen membawa keempat alat yang berbeda itu ke kamar mandi, untung saja cawan berisi air seni itu belum aku buang, karena aku sudah menduga apa yang akan Arsen lakukan.
Aku mencelupkan alat tes itu ke dalam cawan, lalu Arsen yang menunggu perubahan pada alat itu. Tak lama, semua alat itu menunjukkan hasil yang positif, dan Arsen langsung memelukku.
"Akhirnya, kerja keras kita membuahkan hasil, Sayang," kata Arsen yang kemudian mengecup pipi kiriku.
“Iya, aku akan menjadi Mommy, dan kamu akan menjadi Daddy." Aku membalas pelukan Arsen dengan tangan kiri, lalu tangan kananku mengusap perutku.
Arsen melepaskan pelukannya dari tubuhku, lalu ia berjongkok di hadapan perutku.
"Terima kasih sudah hadir dan menjadi kado spesial di hari ulang tahun Daddy, Sayang." Arsen mencium perutku yang masih rata, lalu menempelkan wajahnya dan kembali memelukku.
"Dad, kami lapar!" rengekku sambil mengusap rambut Arsen.
"Sayang, sabar sebentar ya, nanti kalau sudah matang pasti diantar ke sini," jawabnya masih terus menempelkan wajah di perutku.
Arsen tidak henti-hentinya mencium perutku. Ia terlihat sangat bahagia. Impiannya untuk menjadi seorang ayah akan segera terwujud dengan kehadiran buah cinta kami.
"Mau sampai kapan berdiri terus kayak gini?" tanyaku sambil mengusap wajah Arsen.
"Oh iya, maaf ya, Sayang. Kamu mau aku pijitin nggak?"
Aku mengangguk dan akhirnya Arsen menuntunku untuk tiduran di kasur, dan Arsen mulai memijat kakiku.
Enak juga jadi ibu hamil.
"Nanti kita telepon Dokter Nayla, aku harus pastikan makanan apa yang boleh dan nggak boleh kamu makan," kata Arsen sambil memijat kakiku.
“Iya, Sayang. Besok kita jadi pulang kan?”
“Iya, tapi tetep aja kita harus konsultasi dulu, Sayang.”
__ADS_1
Sepertinya Arsen akan menjadi suami posesif karena kehamilanku ini. Sayangnya mommy, jangan nakalin mommy ya!
*
*
Setelah menunggu cukup lama, akhinya makanan kami datang, dan Arsen langsung menyuapiku makanan yang dibawakan oleh pegawai hotel.
“Kamu harus makan yang banyak, karena sekarang kamu makan untuk dua orang.” Arsen terus memberi nasehat, seperti Oma yang selalu mengomel dalam setiap hal.
Tunggu! Kalau Oma tahu aku hamil, pasti akan lebih parah tingkat cerewetnya.
“Sayang, jangan kasih tahu siapapun dulu ya kalau aku hamil,” kataku. Arsen menatapku dengan tatapan aneh.
“Kenapa?”
Raut wajah Arsen berubah, seolah ia tak suka dengan usulanku.
Aku menjadi kesal karena membayangkan kehidupanku yang mungkin akan terkekang karena hamil.
“Em, boleh kok, nanti kita tanyakan ke dokter sekalian, ya.” Arsen mulai merayuku, ia menggenggam tanganku lalu menciumnya.
Dasar aku yang baperan, dicium tangannya saja sudah luluh.
“Kamu kan udah nyusun skripsi, nggak tiap hari ke kampus kan? Fokus sama kehamilanmu aja ya.”
“Kamu nggak nyuruh aku buat cuti kan? Skripsiku udah di depan mata loh. Aku mau secepatnya wisuda, biar bisa fokus ngurus anak nantinya.”
“Iya, Sayang. Nanti aku bantu ngerjain skripsinya,” kata Arsen yang membuatku sangat senang.
Ini yang aku suka, punya suami cerdas memang harus dimanfaatkan bukan?
__ADS_1
“Makasih, Sayang. Seneng deh punya laki pinter. Semoga anak kita nanti pinter kayak Daddy-nya.”
Asen hanya tersenyum dan kembali menyuapiku. Sampai akhirnya, ponselku berdering Siapa yang pagi-pagi begini menelepon?
Arsen meraih ponselku, lalu memberikannya padaku.
“Dera.”
Dera? Ada apa dia menelepon? Tumben sekali!
“Ya, halo!”
“Kim, kamu di resortnya Papa kan?”
“Iya, kenapa Ra?”
“Aku juga di sini, Kim. kamu nggak mau lihat sunrise, yuk bareng aja, nanti breakfast bareng juga.”
Dera di sini juga, apa mereka juga honeymoon ya?
♥️♥️♥️
...Iya dong, kan si Dera mau kenalan sama si Juna. Emang kamu aja Kim yang kenal sama lolipop....
Hari minggu kalian ngapain gaess?
Stay safe and stay healthy ya.
Jangan lupa ritualnya, seperti biasa, like, Komen,Hadiah, dan Vote nya. Besok udah dapat vote baru loh, daripada hangus kan ya 🤭🤭🤭
Mohon maaf, telat update. mendadak sakit kepala gaess 🙏🙏
__ADS_1
Sampai ketemu lagi 😘😘😘