Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 71


__ADS_3

“Anggap saja dia lollipop.”


Aku tercengang mendengar kata-kata Arsen. Apa maksudnya aku harus menjilatnya seperti lolipop?


Daripada penasaran aku mencobanya langsung, dan akhirnya benda pusaka paling berharga itu masuk sepenuhnya ke dalam mulutku. Pemiliknya hanya sampai merem melek, mungkin karena keenakan.


Tangan Arsen menggenggam rambutku dan mengikatnya. Aku tidak tahan lagi melihat ekspresi wajahnya yang keenakan.


Aku segera memasukkan adik Arsen ke dalam surga dunia milikku. Dengan dibantu Arsen akhirnya kami melakukan hal paling enak di dunia ini.


Ternyata saat menjadi pemimpin di medan pertempuran, rasanya sungguh luar biasa. Aku tak bisa bertahan terlalu lama, karena desakan luar biasa itu membuatku ingin segera mengeluarkan hormon oksitosin dalam diriku.


Aku merasa milikku menjepit kuat adik Arsen di dalam sana, yang membuat Arsen ikut melenguh nikmat.


Aku memeluk Arsen saat meledak di udara. dan Arsen terus memompa dari bawah, membuatku semakin tak berdaya. Sampai akhirnya Arsen melepaskan apa yang seharusnya ia keluarkan dengan begitu kencang, sampai aku bisa merasakannya begitu hangat.


“Terima kasih, Sayang. Kamu selalu senikmat ini, tapi aku tidak akan melakukannya sekali,” kata Arsen setelah aku ambruk diatasnya. Ia memelukku dengan erat.


Keringat masih belum kering saat Arsen kembali melanjutkan aksinya. Laki-laki yang menjadi suamiku ini mengambil alih posisiku dalam memimpin permainan.


Arsen benar-benar tak mengenal lelah, ia cepat sekali on fire, padahal kami baru beristirahat beberapa menit.

__ADS_1


Malam ini, di cuaca yang begitu dingin, Arsen membawaku ke dalam kehangatan yang selalu membuatku tak bisa menolak keinginannya untuk bertempur.


...♥️♥️♥️M.A.S.🚗🚗🚗...


Aku terbangun di pagi yang sudah terang benderang. Seperti pagi biasanya, selalu ada tangan kekar yang memeluk perutku. Perlahan aku menyingkirkan tangan kekar itu dari tubuhku.


Arsen masih tertidur dengan lelap. Entah sampai jam berapa kami melakukannya, Arsen tak pernah merasakan lelah, sampai akhirnya ia berhenti setelah aku hampir saja menangis karena saking lelahnya.


Aku mengusap layar ponsel untuk mengecek waktu saat ini, karena dilihat dari jendela yang masih tertutup gorden itu, matahari sudah bersinar terik, pasti ini sudah sangat siang. Benar saja, jam di ponselku sudah menunjukkan pukul 10.22, sebentar lagi waktunya makan siang dan kami belum juga sarapan.


Aku beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat berjalan, **** ***** milikku terasa begitu tidak nyaman, pasti karena Arsen terlalu bersemangat.


Usai mandi, aku membuka tirai penutup jendela, lalu aku mendekati Arsen yang masih berada di alam mimpinya.


Arsen menggeliat saat aku mencubit gemas pipinya.


“Kamu udah bangun?” tanyanya dengan mata yang berusaha mengerjap.


“Udah lah, udah cantik gini kok,” jawabku yang akan beranjak dari tempat tidur.


Namun, Arsen menarikku kembali sebelum aku benar-benar berdiri. Aku terjatuh ke dalam dekapannya lagi.

__ADS_1


“Di sini aja mau ke mana?” tanyanya yang memelukku posesif.


“Aku lapar, kamu suami macam apa sih biarin istrinya kelaparan.” Aku berusaha melepaskan tangan Arsen yang memelukku.


“Sekarang jam berapa?” tanyanya.


Aku menghela napas berat, lalu kujawab “Jam sebelas lebih.”


“Apa?” Arsen langsung bangun dan menatapku serius. Ia kemudian meraih jam tangannya yang disimpan di atas nakas. “Aku telat kerja dong?”


“Kamu kan terlalu kerja keras semalam, siap-siap aja dipecat sama Papa!” jawabku menakuti Arsen.


“Kalau aku dipecat, kita makan apa? Bayar kontrakan gimana?” tanya Arsen yang sepertinya mulai panik.


“Uang kuliah aku dibayarin Papa, ‘kan? Kalau kamu dipecat aku nggak mau berhenti kuliah.”


🌹🌹🌹


...Mantu macam apa sih kamu Bang? Enak sih enak, tapi istirahatlah, jangan lupa kerja benerannya!...


Hai aku up 2 bab aja sekarang.

__ADS_1


Tinggalkan ritual jejaknya, seperti biasa.🥰🥰


Sampai Jumpa dua bulan lagi 👋👋👋


__ADS_2