Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 93


__ADS_3

Cerita tentang Arsen memang benar-benar menarik. Arsen yang selama ini aku tahu adalah anak Pak Aji, sopir Papa. Bahkan Mama bilang Arsen anak seorang yang terpandang, artinya Arsen bukan orang sembarangan, ‘kan?


“Siapa nama ayah kandungku, Ma?” Arsen menatap Mama dengan sorot matanya yang tajam.


“Namanya, Rafi Mahendra. Mirip nama depan kamu, ‘kan Rafandra Arsenio?” Mama membalas tatapan Arsen.


Aku seperti tidak asing dengan nama yang Mama sebutkan, tapi aku memilih diam dulu untuk menghargai Arsen dan Mama yang sedang berbicara serius.


“Maksud Mama Rafi Mahendra saudaranya Doni Mahendra!” duga Arsen yang kini mengepalkan sebelah tangannya.


Mama mengangguk membenarkan dugaan Arsen. Apa Arsen sudah mengenal ayah kandungnya? Siapa sebenarnya ayah kandungnya Arsen?


“Arsen siapa dia? Kamu kenal?” tanyaku memberanikan diri.


“Doni Mahendra itu ayahnya Dion.” Arsen menatap mataku dengan tatapan lembutnya.


Dion Mahendra? Astaga, Arsen dan Dion? Tidak, pasti bukan Dion yang itu. Pasti kebetulan saja namanya sama.


“Kamu sama Dion sepupu? Dion yang itu?” tanyaku ragu-ragu.


Aku memang tidak pernah bertanya soal keluarganya saat aku dan Dion menjalin hubungan dulu. Namun, bagaimana mungkin bis se-kebetulan ini?


“Dion yang kamu pacarin itu, ‘kan? Dia kan anaknya Doni Mahendra,” sahut Oma yang sedari tadi hanya menjadi pendengar.


Kenapa Oma menyebutkan bagian perselingkuhan itu, aku kan jadi malu di depan Mama, Arsen dan Kak Darren.

__ADS_1


“Oma!” sergahku pada Oma yang tidak paham situasi.


“Nggak usah kaget! Oma tahu semuanya,” Jawa oma dengan santainya. Aku memicingkan mata pada Oma yang tidak bisa menjaga bicaranya di situasi seperti ini. Bisa-bisa Arsen tersulut emosi nantiya.


Kalau Arsen sepupunya Dion. Apa ini suatu hukuman dariku. Kalau aku bertemu papa mertua, apa dia akan tahu juga hubunganku dan Dion walau hanya terjalin seumur jagung.


“Kenapa Pak Rafi meninggalkan mamaku, Ma?” tanya Arsen membuatku kembali sadar dari lamunan.


“Rafi menikahi Aliya secara diam-diam, tapi nggak lama ketahuan Pak Yusuf, dan akhirnya Rafi dipaksa menceraikan Aliya untuk menikahi wanita lain.” Mama sampai berkaca-kaca menceritakan kisah kedua orang tua Arsen.


“Apa saat meninggalkan mama, Pak Rafi tahu kalau mamaku hamil?” Arsen sekali lagi menatap Mama. Tatapan yang haus akan banyaknya penjelasan, tapi aku sendiri paham Mama juga begitu sedih saat menceritakannya.


“Tidak! Setelah Rafi menikah lagi, Aliya kembali ke kampungnya, dan menjauhi semua yang berhubungan dengan Rafi. Sayangnya, waktu tahu kehamilannya beresiko, Aliya tetap memilih kamu daripada hidupnya sendiri.” Air mata Mama tidak lagi bisa terbendung, menerobos keluar begitu saja.


“Aliya orang yang sangat baik, dia juga sangat cantik. Tidak heran dia begitu digilai banyak laki-laki, tapi sayangnya dia malah jatuh cinta dengan Rafi dan mau saja dinikahi walau tanpa restu keluarga Rafi,” celoteh Mama yang kini ada di pelukan Kak Darren.


***


Hari sudah sangat malam, tapi Arsen terus saja sibuk dengan berkas-berkas skripsinya. Ya, Arsen memang sudah hampir selesai menyusun karya ilmiah yang menjadi tugas terakhirnya itu.


Aku membawakan kopi sesuai permintaan Arsen. Lalu duduk di hadapannya sambil menopang dagu dengan satu tanganku. Lagi-lagi tidak ada celah untukku berhenti mengagumi laki-laki ini. Bahkan disaat sedang serius seperti ini, Arsen selalu terlihat keren.


"Sayang, makasih ya, aku sampai nggak sadar kalau kamu di sini," ucapnya dengan senyuman seperti biasanya.


Setelah mengetahui jati dirinya, aku pikir Arsen akan diam melamun seperti di kolam tadi pagi. Nyatanya aku salah, Arsen malah biasa saja.

__ADS_1


"Kamu serius banget sih, aku yang cantik alami gini nggak bisa memalingkan mata kamu dari kertas. Apa buku-buku itu lebih penting cantik dari aku?" Aku berpura-pura kesal dengan memalingkan wajah dari Arsen.


Arsen malah tertawa, sumpah demi apapun setiap dia tertawa kadar kegantengan tambah berkali-kali lipat.


Aku berakting semakin marah dengan berdiri meninggalkannya, tapi tiba-tiba Arsen sudah memelukku dari belakang. Gerakan tangan dan kakinya yang begitu cepat memang patut diacungi jempol.


"Nggak ada yang bisa mengalahkan kecantikan kamu di hati aku, nggak ada yang bisa membuatku memalingkan hati darimu, karena kamu sudah terkunci lama di sana, tidak akan bisa keluar lagi. Bahkan orang lain yang berusaha aku masukkan untuk mengusirmu, nyatanya dia tidak bisa bertahan melawanmu," bisiknya yang kemudian mencium leherku.


"Sungguh? Tidak ada yang bisa membuatmu meninggalkanku dan berhenti mencintaiku?" tanyaku hanya untuk memancing sisi romantis Arsen yang selalu aku suka.


"Tidak ada, cuma Kimmora satu-satunya pemilik yang berhasil memenangkan hatiku." Arsen membalik tubuhku, lalu ia kembali memelukku dengan penuh perasaan.


"I love you." Aku mendongak lalu mencium sekilas bibir Arsen.


"I love you too." Arsen berusaha mencium balik bibirku, tapi dengan sigap aku menarik diri dan berjalan meninggalkannya. "Hei! Sayang, kamu curang," protesnya yang masih berdiri mematung.


🌹🌹🌹


...Nggak gantung kan cerita bab ini. Hari ini up 1 bab aja ya 🥰🥰 Jangan protes 😅😅...


Boleh kangen tapi jangan ninggalin.


Ritual jejaknya jangan lupa Like + Komen + Hadiah + Vote


Ketemu lagi besok 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2