Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 56


__ADS_3

Akhirnya acara mandi yang tidak biasa itu berakhir. Aku dan Arsen sekarang sudah menuruni tangga untuk sarapan.


Oma, Papa, dan Kak Darren sudah ada di meja makan saat aku dan Arsen sampai di lantai bawah.


“Kalian lama sekali,” kata Kak Darren.


“Maaf Kak, Pa, Oma.” Arsen tersenyum canggung, lalu duduk di kursinya.


Aku juga ikut duduk setelah menyapa mereka.


“Hari ini Kimmy kita masak nasi goreng yang entah rasanya enak atau tidak, tapi kalian semua harus mencicipinya,” kata Oma.


Papa dan Kak Darren langsung memasang raut wajah tegang. Mereka tidak mungkin bisa kabur dari Oma yang sudah memberi perintah. Arsen terlihat biasa saja, aku tahu dia sangat pasrah dengan apapun rasa masakanku. Sedangkan Oma langsung mengisi piring Papa dan Kak Darren dengan masakanku tadi. Setelahnya baru aku yang melayani Arsen.


“Oma, ini aman, ‘kan?” tanya Kak Darren.


“Ihh, coba icipin dulu lah, Kak,” sahutku.


“Kakak cuma nggak mau sakit perut kayak kejadian beberapa hari lalu,” ucap Kak Darren.


Ya, beberapa hari lalu aku memasak rica-rica daging yang terlalu banyak merica sehingga mereka semua sakit perut.


“Aku icipi dulu ya.” Arsen langsung menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.


Aku, Papa, Kak Darren, dan Oma menatap Arsen dengan tegang. Menanti ekspresi Arsen yang mulai berubah saat ia mulai mengunyah makanan itu.


“Gimana? Kamu lama banget?” tanya Papa masih dengan raut wajah tegang.


Arsen memang terlalu lama memberikan komentarnya. Bagiku ini seperti menanti detik-detik kelulusan ujian sekolah.

__ADS_1


Arsen meminum air putih yang ada di sampingnya, membuat kami semakin tak sabar menanti jawabannya.


“Ih, buruan Arsen, gimana rasanya?” tanyaku saat Arsen selesai minum.


“Enak banget,” jawab Arsen yang membuatku tersenyum lega.


“Ah bohong, kamu kan selalu begitu kalau Kimmy yang masak. Selalu makan semua masakan Kimmy yang nggak enak itu, bucin tau nggak,” kata Kak Darren yang membuatku merasa ciut.


Benar juga, Arsen selalu begitu, apapun yang aku masak pasti akan selalu dia makan, tidak peduli rasanya yang pasti tidak jelas.


“Biar papa coba.” Kali ini giliran Tuan Ardy yang menjadi juri. Aku menjadi tegang kembali saat Papa mencicipi masakanku.


Ekspresi Papa sedikit aneh, dahinya berkerut, matanya memandangku dengan berkedip-kedip. Sangat aneh! Papa tidak mengatakan apapun, tapi ekspresinya membuaku kecewa.


“Papa juga aneh,” kata Kak Darren yang kemudian mencicipi sendiri makananya.


Kali ini, Kak Darren juga aneh, ia seperti mengunyah lebih lama, lalu memandangku dengan tatapan aneh.


“Kita makan dulu.” Kini giliran Oma yang bersuara.


“Iya, masakannya enak, kita makan saja dulu,” kata Papa.


Pembahasan tentang Mama memang selalu menjadi hal yang menakutkan untuk dibahas. Di rumah ini, bahkan tidak ada satupun foto Mama yang tersimpan. Aku bahkan tidak tahu apakah Mama masih hidup atau tidak?


Suasana berubah menjadi suram, aku yang tadinya tegang menanti jawaban atas penilaian masakanku, mendadak jadi tidam nafsu makan. Namun, Arsen menggenggam tanganku, lalu menyuapkan nasi goreng buatanku itu ke mulutku.


“Makanlah, nanti aku antar ke kampus,” kata Arsen yang terus menyuapiku.


Setelah selesai makan, seperti biasa aku akan mencuci semua piring sampai bersih baru bersiap untuk ke kampus. Biasanya Oma akan mengawasiku saat mencuci piring, tapi kali ini berbeda, Oma langsung meninggalkan meja makan setelah selesai sarapan.

__ADS_1


Apa yang terjadi dengan Mama sebenarnya? Siapa yang akan mau menjawab pertanyanku tentang Mama?


***


Aku dan Arsen dalam perjalanan ke kampus. Namun, aku tak terlalu bersemangat karena kejadian di meja makan tadi.


Tiba-tiba, aku teringat dengan tugas Miss Kia yang mengharuskanku mengunjungi perusahaan untuk menyelesaikan tugasku.


“Arsen, kamu ada kelas jam berapa? Aku lupa ada tugas harus ke satu perusahaan, nanti aku bawa mobilnya, ya,” kataku.


“Aku cuma ketemu dosen buat skripsiku aja kok, rencananya aku mau ke kafe, nanti aku naik bus aja.” Arsen tersenyum.


“Ke kafe bukannya sore?” tanyaku, sedikit aneh ‘kan kalau Arsen siang-siang ke kafe.


“Aku lupa kasih tahu kamu ya, semalam Papa minta aku buat bantu-bantu Kak Darren di kantor sambil aku nyusun skripsi,” kata Arsen.


“Jadi, kamu akan mengundurkan diri dari kafe?” tanyaku. Arsen mengangguk.


Baguslah! Arsen tidak akan pulang malam lagi jika bekerja di kantor Papa.


“Aku sebenarnya ada tugas kelompok sama Kenneth, tapi aku mau selesaiin sendiri aja,” ucapku ragu-ragu.


“Kenneth yang itu? Aku nggak setuju, aku temenin aja ke perusahaannya.” Arsen menatapku dengan raut wajahnya yang kesal.


🌹🌹🌹


Nah Loh, pasti cemburu Babang Bucin, Eh Babang Arsen.


Mbak Kim, jangan sampai mereka ketemu ya.

__ADS_1


Hai gimana 2bab beneran kan? Nih aku lagi baik soalnya. Kan besok Senin, siapin Votenya buat aku😅😅😅


Ritual Jejaknya jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, dan Vote.


__ADS_2