Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 34


__ADS_3

Aku sudah selesai mandi dan siap berangkat bulan madu. Semua kebutuhan kami di selama di sana sudah tertata rapi di dalam koper. Jadi, kami hanya tinggal berangkat saja.


Setelah berpamitan dengan seluruh anggota keluarga. Aku dan Arsen akhirnya berangkat berdua dengan mobil menuju bandara dan meninggalkan mobil di sana, karena kami hanya dua hari tiga malam saja di Bali.


Dalam perjalanan ke bandara, aku hanya diam karena masih kesal dengan penolakan Arsen tadi. Namun, Arsen sepertinya memahami isi hatiku, sehingga dia terus saja mengajakku bicara meskipun aku selalu mengabaikannya. Tiba-tiba Arsen berbelok di minimarket, dan memarkirkan mobil di sana.


"Mau ngapain?" tanyaku masih dengan nada kesal.


"Kamu tunggu bentar ya, aku belikan coklat dulu buat kamu." Arsen keluar dari mobil, lalu berjalan masuk ke minimarket. Sedangkan aku menunggu di mobil.


Tak berapa lama Arsen datang membawakan sekantong plastik berisi coklat dan juga makanan ringan.


"Maaf ya, Sayang. jangan marah lagi,” kata Arsen setelah aku menerima pemberiannya.


“Iya deh.” Aku luluh juga karena Arsen selalu tahu apa yang aku suka, mana bisa sih aku menolak coklat dan kinderjoy gini.


“Nanti kalau sudah sampai, kamu puas-puasin makan lolipopnya.” Arsen mengusap rambutku, lalu ia menjalankan kembali mobilnya.


Tiba-tiba aku sangat bahagia hanya dengan diusap kepala, padahal biasanya juga diusap tapi kenapa sekarang rasanya lain ya?


*


*


*


Setelah menempuh perjalanan udara kurang lebih dua jam, akhirnya aku dan Arsen sampai di bandara Ngurah Rai, Bali. Kami dijemput oleh mobil milik resort yang kemudian membawa dan melayani kami sampai di resort.


Kami sampai di resort saat malam telah menyapa. Setelah bersih-bersih, sebenarnya Arsen ingin istirahat dan makan dulu, tapi karena kamar kami menghadap langsung ke pantai, aku jadi ingin menikmati jalan-jalan malam di pantai.

__ADS_1


"Katanya kamu pengen lolipop, daripada kedinginan di luar, mendingan kita menghangatkan diri di sini," kata Arsen sambil menepuk tepi ranjang.


Aku menggelengkan kepala. Tadi sore kan dia menolakku, sekarang giliranku menolaknya dong.


"Aku mau jalan-jalan ke pantai, kamu pakai jaket terus sekarang kita ke pantai." Aku menarik tangan Arsen supaya dia mau menuruti permintaanku.


"Awas aja kalau masuk angin." Arsen mencolek hidungku. Lalu kami bergandengan tangan menuju pantai.


Gulungan ombak yang menyapu daratan menciptakan suara indah seperti irama yang menenangkan hatiku. Malam ini begitu indah membuatku sangat bersemangat berlarian menikmati semilir angin.


"Jangan lari, Sayang." Arsen masih berdiri di tempatnya saat aku meninggalkannya untuk berlari.


"Kejar aku, nanti kalau kamu bisa menangkapku, aku akan berhenti." Aku kembali berlari pelan meninggalkan Arsen.


Arsen sepertinya tidak benar-benar berniat mengejarku, buktinya ia hanya tertawa dan berjalan cepat mengikuti langkahku.


Baru berlari beberapa meter saja, aku sudah kelelahan, dan akhirnya langsung berhenti karena kepalaku seperti berputar-putar.


"Aku capek, pusing." Aku menyandarkan tubuhku pada Arsen yang kemudian menggendongku tanpa banyak bicara.


"Sayang, kita belum makan malam, pasti kamu lapar," kata Arsen saat merebahkan tubuhku ke kasur.


"Aku cuma pusing, capek banget kayaknya," kataku.


"Kita makan dulu ya, biar nanti ada tenaga buat tempur." Arsen mengedipkan mata, ia kemudian menyuapiku setelah sebelumnya mencuci tangannya.


"Kita tadi kan udah makan di pesawat," jawabku karena memang tadi kami sempat makan di pesawat.


"Emang kamu tadi kenyang?" tanya Arsen yang tetap menyuapkan nasi ke mulutku.

__ADS_1


Aku hanya menggelengkan kepala karena memang aku sudah kembali lapar saat ini.


*


*


*


Seperti pagi sebelum-sebelumnya, aku selalu bangun dalam keadaan tanpa busana dengan tangan kekar yang melingkar di perutku. Anehnya, rasa mual kembali menghampiriku.


Aku segera menyingkirkan tangan Arsen, dan memungut dress yang tadi malam kupakai. Kemudian secepat kilat aku menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutku.


Setelah cairan kental berwarna kuning keluar dari perutku, aku sangat merasa lega, dan rasa mual itu hilang.


Aku bersandar di dinding kamar mandi karena merasa sangat lemas. Tak lama, Arsen datang hanya mengenakan boksernya dan menghampiriku.


"Kamu kenapa, Sayang? Muntah lagi?" Arsen memeriksa suhu tubuhku dengan menempelkan punggung tangannya di keningku.


Aku sendiri tidak tahu kenapa aku jadi seperti ini, mungkin sakit maghku kambuh atau mungkin juga aku terlalu kelelahan dan butuh dipijat.


"Aku laper," jawabku dengan lemah.


"Iya, ayo kita sarapan dulu."


🌹🌹🌹


...Segini dulu ya, othor lagi sibuk hari ini. Mon maap gaes 🙏🙏...


Setelah ini, akan ada part yang bikin si Kikim cemburu. Yang jelas bukan pelakor. Tungguin ya, kalau nggak nanti malam ya besok 😄😄😄

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, hadiah, vote..


Sampai ketemu lagi 🥰🥰


__ADS_2