Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 76


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, aku masih diperiksa dan ternyata sudah pembukaan dua. Namun, karena kelahiran pertama, kata Dokter Nayla kemungkinan melahirkan masih besok. Aku masih diperbolehkan jalan-jalan, makan, dan apapun selama masih bisa menahan rasa sakitnya.


“Arsen, kamu potong itu kukunya Kimmy, bisa-bisa nanti dia nyakar kamu loh pas ngeden!” kata Oma sambil menyerahkan gunting kuku yang entah didapat dari mana.


“Oma jahat banget, aku kan baru kutek-an.” Aku tidak ikhlas jika kuku kesayanganku harus dipotong.


“Sayang, kalau nggak dipotong, nanti pas pegang baby-nya, bisa kena cakar kuku kamu loh.” Arsen menarik tanganku yang dengan mau tidak mau memang harus dipotong.


“Lagian mau lahiran sempet-sempetnya kutekan,” omel Oma.


“Udah deh Oma, jangan ngajak ribut, sakit lagi nih.” Aku mencengkram tangan Arsen saat kontraksi tiba-tiba datang.


“Minum dulu, Sayang.” Mama menyodorkan botol minum yang sudah dibuka tutupnya, lalu aku segera meneguknya.


Setelah Arsen selesai memotong kuku, aku kembali berjalan di sekitar ruangan yang sudah jauh-jauh hari kami pesan. Papa masih sibuk bolak-balik ke kamar mandi sampai harus diinfus karena dehidrasi. Sedangkan Oma dan Mama terlihat cemas dan gelisah.


"Dad, aku ngantuk, aku mau tidur ya."


"Iya, Sayang."


Kemudian, Arsen menuntunku untuk berbaring di ranjang rumah sakit.


"Pijitin ya, Dad." Aku menunjuk punggungku yang terasa pegal.


"Iya, Sayang. Ya udah kamu istirahat dulu biar punya tenaga ekstra nanti." Arsen mulai mengusap-usap punggungku, padahal aku inginnya dipijat.

__ADS_1


Dengan susah payah, aku mencoba tidur siang ini. Semoga bangun sudah waktunya lahiran.


*


*


*


Rasa sakit yang sangat menyiksa di perut bawah juga punggung, membuatku terpaksa bangun dari tidurku. Saat aku membuka mata, kulihat semua orang sudah ada di ruanganku. Ada Mama Papa, Oma, mertua, bahkan pasangan pengantin baru Nana dan Kak Darren juga ada.


"Sayang, kamu sudah bangun?" Arsen meraih tanganku.


Rasa sakit yang menjalar di sekitar perut bawah hingga ke punggung membuatku enggan sekali menjawabnya. Aku hanya mere*mas tangannya yang menggenggam dengan erat.


"Sakit ya?" tanya Arsen yang membuat Mama mendekat.


Mama mendekat dan duduk di samping kiriku, sedangkan Arsen sedari tadi duduk di sebelah kananku.


"Ma, sakit banget." Hanya itu yang bisa aku ungkapkan, karena memang rasanya luar biasa sakit.


Perut terasa dire*mas-re*mas, dan punggungku terasa sangat panas.


"Darren, coba panggil dokter deh!" perintah Mama yang kemudian mengusap kepalaku.


"Kalau sakit kamu lampiaskan ke aku aja Sayang," bisik Arsen yang terus menggenggam tanganku.

__ADS_1


Rasanya ingin menangis, tapi malu juga. Beginikah rasa sakitnya melahirkan? Daddy, maafkan aku yang belum bisa menjadi istri sempurna untukmu. Mama maafkan aku, maafkan aku yang pernah membenci Mama. Oma, maafkan aku, maaf karena aku sering membantah kata-kata Oma.


Tanpa terasa, air mataku berhasil menerobos keluar. Mama mengusapnya dengan tisu.


"Kuat Sayang, jangan nangis. Bayangin sebentar lagi kamu ketemu sama malaikat kecil kamu!" bisik Mama sambil mengusap air mataku yang terus berjatuhan.


Aku menarik napas dalam-dalam berusaha menetralkan perasaanku. Tak lama, Dokter Nayla datang bersama seorang suster dan Kak Darren.


"Hallo Bu Kimmora. Tenang ya, saya periksa dulu."


Dokter Nayla mulai melakukan pemeriksaan untuk mengecek pembukaan jalan lahir.


"Baru buka enam, sabar dulu ya, ketubannya juga belum pecah," kata Dokter Nayla setelah selesai melakukan pemeriksaan.


"Kira-kira berapa lama lagi Dok lahirnya?" tanya Arsen.


"Mungkin nanti sore atau nanti malam, tergantung pembukaan Pak. Kalau masih bisa jalan dibuat jalan aja nggak apa-apa."


Ya Tuhan, apa aku kuat jika harus menahan sakit sampai nanti malam?


♥️♥️♥️


...Kuat dong, harus kuat ya Kim. Semangat demi bayi cabe kamu sama Arsen....


Duh, aku mules bikin part ini.

__ADS_1


Kasih vote dong, kembang kopi juga 😘😘


Sampai ketemu lagi 😘😘😘


__ADS_2